Skripsi
Aplikasi Fuzzy Analytical Hierarchy Process (F-AHP) untuk menentukan faktor dominan penyebab kecelakaan kerja pada pelaksanaan proyek konstruksi / Artya Irvania
Abstrak
Industri konstruksi proyek pembangunan gedung memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi karena melibatkan banyak tenaga kerja alat berat dan bahan dalam jumlah besar. Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan yang dikeluarkan pada tahun 2016 kasus kecelakaan kerja pada sektor industri yang dilaporkan mencapai 38 kasus dan sebanyak 36 kasus (95%) terjadi pada sektor konstruksi bangunan gedung. Metode empiris memiliki beberapa kelemahan yaitu untuk mencapai hasil yang akurat perlu jumlah sampel banyak memerlukan proyek dengan skup pekerjaan detail memerlukan pengalaman dan latihan dalam waktu yang lama maka penelitian ini dicoba menggunakan F-AHP untuk menentukan faktor dominan penyebab kecelakaan kerja pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Malang dan Surabaya dengan kombinasi metode AHP dan logika fuzzy. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan variabel-variabel faktor penyebab kecelakaan kerja dan mengetahui faktor dominan penyebab kecelakaan kerja menggunakan metode F-AHP pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung bertingkat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dan terapan aplikasi. Data empiris yang digunakan berdasarkan data primer dengan penyebaran kuisioner dan data sekunder dengan cara studi literatur. Tahapan yang perlu dilakukan adalah studi literatur menentukan kriteria dan subkriteria yang akan digunakan pada kuesioner pengumpulan data penelitian melakukan observasi dengan penyebaran kuesioner tahap 1 pembentukan hirarki keputusan penilaian faktor penyebab kecelakaan kerja menyusun kuesioner untuk pembobotan hirarki model rating penyebaran kuesioner tahap 2 pengolahan data hasil observasi dengan metode F-AHP selanjutnya skala penilaian diubah ke bilangan fuzzy dilakukan uji konsistensi kemudian dilanjutkan untuk perhitungan nilai Fuzzy Synthetic Extent dan diakhiri dengan normalisasi vektor bobot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutan dari yang terbesar ke terkecil bobot prioritas untuk kriteria utama yaitu (1) Kriteria manusia memiliki bobot sebesar 34 3% (2) Kriteria manajemen memiliki bobot 29 2% (3) Kriteria lingkungan memiliki bobot 21 4% dan (4) Kriteria peralatan/material memiliki bobot 15 2%. Selanjutnya hasil bobot prioritas tertinggi untuk masing-masing subkriteria yaitu (1) Manusia perilaku buruk dengan nilai bobot sebesar 33 2% (2) Manajemen standar perencanaan yang kurang tepat dengan nilai bobot sebasar 25 2% (3) Peralatan/Material bahan atau peralatan yang telah rusak dengan nilai bobot sebesar 34 1% dan (4) Lingkungan faktor fisik dengan nilai bobot sebesar 87 2%.