Skripsi
Studi kasus: self disclosure pada 3 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di Kabupaten Nabire, Papua / Edwin Rosario Riyantono
Abstrak
Pertumbuhan jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Nabire kian meningkat setiap tahunnya. Jumlah kasus di Nabire hingga 30 Juni 2019 telah mencapai 7.510 kasus yang merupakan jumlah kasus terbanyak di Papua. Perawatan terhadap ODHA bukan hanya dari sisi medis (obat) saja melainkan juga dari sisi non-medis berupa dukungan sosial. Untuk mendapatkan dukungan dari orang lain perlu dilakukannya keterbukaan diri oleh ODHA mengenai status dan kondisinya. Namun data menunjukkan masih banyaknya ODHA yang belum melakukan keterbukaan diri. Masih tingginya angka hilang dari pantauan dan pemalsuan identitas saat mengambil obat menjadi bukti masih rendahnya kesadaran ODHA di Kabupaten Nabire untuk melakukan keterbukaan diri. Penelitian ini dilakukan untuk melihat secara mendalam keterbukaan diri yang dilakukan ODHA di Kabupaten Nabire. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan model penelitian studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang ODHA terdiri dari 2 perempuan dan 1 laki-laki yang telah terbuka mengenai status dan kondisinya kepada orang lain namun masih terbatas. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dan validasi data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan ketiga partisipan sudah melakukan keterbukaan diri mengenai kondisi dan status mereka kepada orang lain namun masih terbatas hanya kepada orang yang mereka percaya saja. Tujuan ketiga partisipan melakukan keterbukaan diri yaitu untuk mendapatkan bantuan dalam bentuk pemberian motivasi serta dukungan untuk mengkonsumsi obat. Setelah melakukan keterbukaan diri ketiga partisipan mendapatkan dampak positif yaitu mereka mendapatkan bantuan dari orang lain yang mereka percaya. Keterbukaan diri mengenai status dan kondisi kepada orang lain dapat mendatangkan berbagai keuntungan bagi ODHA. Oleh karena itu ODHA yang sudah mampu melakukan keterbukaan diri hendaknya dipertahankan dan dapat membimbing ODHA lain yang masih memiliki ketakutan untuk terbuka mengenai status dan kondisinya. Orang lain disekitar ODHA (orang tua pasangan keluarga ataupun teman) hendaknya memberi dukungan kepada ODHA.