Disertasi
Model teoritik faktor-faktor self-regulated learning mahasiswa di Kota Surabaya / Cindy Asli Pravesti
Abstrak
Ciri sumberdaya manusia yang memiliki kualitas yakni mampu mandiri memiliki kemauan serta kemampuan. Wujud dari manusia tersebut dapat diamati melalui self-regulated learning. Self-regulated learning berperan penting pada proses belajar di universitas. Self-regulated learning berdasar pada konsep sosial-kognitif. Kompleksitas self-regulated learning membutuhkan kajian baru dari hubungan timbal balik yang bermula pada lingkungan kemudian personal serta perilaku pada mahasiswa. Dukungan sebaya menjadi konstruk ranah lingkungan mahasiswa sedangkan konstruk ranah personal tampak pada efikasi diri orientasi tujuan pengetahuan metakognitif dan strategi belajar menjadi konstruk ranah perilaku. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan dukungan empiris model teoritik self-regulated learning pada mahasiswa sesuai dengan realitas lapangan. Peran kelima konstruk juga diamati baik pengaruh secara langsung tidak langsung serta pengaruh total. Sehingga akan didapatkan model teoritik yang layak dan sesuai. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan causal relationship study pada 300 sampel mahasiswa yang terwakili oleh wilayah barat timur dan selatan Kota Surabaya. Data dikumpulkan melalui 6 skala yakni skala dukungan sebaya skala efikasi diri skala orientasi tujuan skala pengetahuan metakognitif skala strategi belajar yang telah memiliki nilai GFI 0 9 serta nilai reliabilitas Alpha Cronbach 0 7. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Structural Equation Model (SEM) program Amos 24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model telah layak berdasarkan pada nilai GFI sebesar 0 965 0 9 dan memperoleh dukungan data empiris sebesar chi 2 98 204 le 100 749 dengan nilai p 0 071 ge 0 05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konstruk dukungan sebaya efikasi diri orientasi tujuan pengetahuan metakognitif dan strategi belajar memberikan efek secara simultan pada konstruk self-regulated learning sebesar R2 0 521 atau 52% (hipotesis mayor). Pada hipotesis minor mendapatkan hasil dari konstruk dukungan sebaya yang memiliki nilai sebesar szlig 0 211 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap self-regulated learning. Selanjutnya konstruk dukungan sebaya yang memiliki nilai sebesar szlig 0 331 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap efikasi diri. Pada konstruk efikasi diri yang memiliki nilai sebesar szlig 0 528 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap self-regulated learning. Selanjutnya konstruk efikasi diri yang memiliki nilai sebesar szlig 0 624 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap orientasi tujuan. Selanjutnya konstruk efikasi diri yang memiliki nilai sebesar szlig 0 021dengan p 0 05 tidak berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan metakognitif. Pada konstruk orientasi tujuan yang memiliki nilai sebesar szlig 0 302 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap self-regulated learning. Selanjutnya Pada konstruk orientasi tujuan yang memiliki nilai sebesar szlig 0 010 dengan p 0 05 tidak berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan metakognitif. Pada konstruk pengetahuan metakognitif yang memiliki nilai sebesar szlig 0 336 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap self-regulated learning. Pada konstruk strategi belajar yang memiliki nilai sebesar szlig 0 271 dengan p lt 0 05 berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan metakognitif. Selanjutnya konstruk strategi belajar yang memiliki nilai sebesar szlig 0 044 dengan p lt 0 05 tidak berpengaruh signifikan terhadap self-regulated learning. Berdasarkan temuan penelitian diketahui bahwa efikasi diri mahasiswa memiliki pengaruh lebih besar terhadap orientasi tujuan serta pengetahuan metakognitif. Orientasi tujuan itu sendiri memiliki pengaruh langsung pada self-regulated learning. Begitu juga dengan pengetahuan metakognitif yang berpengaruh langsung pada self-regulated learning. Sama halnya dengan efikasi diri mahasiswa sendiri juga mempengaruhi self-regulated learning serta dukungan sebaya yang sama-sama memiliki pengaruh langsung terhadap self-regulated learning. Selanjutnya pengetahuan metakognitif mahasiswa telah lebih dijelaskan pengaruhnya oleh strategi belajar. Strategi belajar mahasiswa dengan mediasi pengetahuan metakognitif dalam membentuk self-regulated learning mahasiswa yang mendapat pengaruh tidak langsung tertinggi. Ini menunjukkan bahwa pemrosesan informasi strategi sumber daya dan sikap sosial mahasiswa dalam proses belajar yang melibatkan dasar berpikir dan pengaturan berpikir menjadi pembentuk kuat dalam keterampilan mengelola kognitif manajemen bagi diri mahasiswa selama proses belajar. Temuan ini memperkuat konsep triadik Bandura yang dijelaskan melalui proses B (Behavior) berarti perilaku P (Person) berarti individu dan E (Environment) berarti lingkungan. Ini berarti bahwa pengalaman sosial dan struktur lingkungan sosial mempengaruhi self-regulated learning. Ini dapat diwujudkan melalui pengaruh dukungan sebaya dalam membentuk self-regulated learning. Respon hubungan mahasiswa dalam menganalisa perilaku yang mempengaruhi self-regulated learning meliputi strategi belajar dan self-regulated learning. Self-regulated learning mahasiswa dipengaruhi proses dalam diri yang saling berhubungan. Bagian dari faktor diri (person) yaitu efikasi diri orientasi tujuan dan pengetahuan metakognitif mahasiswa. Kontribusi berdasarkan pada temuan penelitian berdasarkan pada kualitas faktor yang membentuk self-regulated learning pada mahasiswa di Kota Surabaya telah diketahui yakni pengetahuan metakognitif efikasi diri orientasi tujuan serta dukungan teman sebaya dan strategi belajar. Perlu upaya yang dilakukan Unit Pelayanan Teknis Bimbingan dan Konseling (UPT-BK) di perguruan tinggi dengan menyelenggarakan dan mengembangkan program pelayanan dasar secara terstruktur dan sistematis berupa psikoedukasi. Psikoedukasi digunakan untuk mengembangkan self-regulated learning mahasiswa yang dapat dihasilkan dari asesmen yang dilakukan konselor mengenai visi dan misi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) serta kebutuhan pengembangan pribadi mahasiswa (asesmen perkembangan konseli). Sehingga dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling pada mahasiswa khususnya self-regulated learning dapat tepat dan sesuai kebutuhan.