Skripsi
Pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap debit aliran sungai menggunakan model swat di sub das brantas hulu, Kota Batu / Arief Yudo Pradana
Abstrak
Sub DAS Brantas Hulu yang terletak di Kota Batu dan sebagian kecil Kabupaten Malang merupakan salah satu DAS yang paling kritis dari 29 DAS yang ada di Jawa Timur. Berbagai permasalahan yang masif terjadi antara lain perubahan fungsi lahan hutan menjadi tanaman sayur-sayuran penurunan kualitas dan kuantitas air degradasi lahan serta berpotensi tinggi terjadi erosi. Oleh karena itu penelitian mengenai pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap debit aliran sungai di Sub DAS Brantas Hulu sangat penting untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan yang terjadi setiap periodenya serta menganalisis pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap debit aliran sungai menggunakan model SWAT di Sub DAS Brantas Hulu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan menggunakan citra Landsat 7 ETM (2009) dan citra Landsat 8 OLI/TIRS (2014 dan 2019). Pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap debit aliran sungai dianalisis menggunakan data tutupan lahan (2009 2014 dan 2019) data jenis tanah (soilgrids 250M) kemiringan lereng (Aster GDEM V3) iklim (curah hujan temperatur radiasi matahari kecepatan angin dan kelembaban relatif) dan debit observasi dari outlet DAM Sengkaling. Hasil analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan bahwa terjadi penyusutan lahan hutan dan sawah serta peningkatan pada lahan terbangun pertanian lahan kering semak dan tanah terbuka setiap periodenya. Tren perubahan tutupan lahan cenderung menunjukkan perubahan yang lebih tinggi pada periode kedua dibanding periode pertama. Hasil kalibrasi dan validasi model SWAT menggunakan aplikasi SWAT-CUP menunjukkan hasil yang sangat memuaskan berdasarkan uji statistik R2 dan NSE. Pada tahap kalibrasi diperoleh nilai R2 dan NSE secara berurutan masing-masing sebesar 0.91 dan 0.80 serta validasi masingmasing sebesar 0.86 dan 0.75. Hasil simulasi model SWAT menunjukkan fluktuasi debit yang semakin meningkat setiap periodenya ditinjau berdasarkan indikator koefisien regim aliran (KRA). Nilai KRA yang dihasilkan pada tahun 2009 sebesar 130.410 tahun 2014 sebesar 133.245 dan tahun 2019 sebesar 136.701. Besarnya curah hujan yang menjadi aliran (runoff) juga mengalami peningkatan setiap periodenya ditinjau berdasarkan indikator koefisien aliran tahunan (KAT). Nilai KAT yang dihasilkan pada tahun 2009 sebesar 0.500 tahun 2014 sebesar 0.503 dan tahun 2019 sebesar 0.508. Besarnya perubahan nilai KRA dan KAT pada periode kedua dibanding periode pertama menunjukkan keterkaitan dengan perubahan tutupan lahan yang juga lebih besar terjadi pada periode kedua