Skripsi
Hubungan Kesejahteraan psikologi dengan ketertarikan kerja pada karyawan milenial di kota Malang/ Jevi Oktavia
Abstrak
Angkatan kerja milenial di Indonesia semakin bertambah seiring berkembangnya waktu hanya sekitar 25% karyawan milenial yang full engaged terhadap pekerjaannya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keterikatan kerja adalah keadaan kesejahteraan psikologis individu tersebut. Work engagement merupakan kondisi positif pada suatu pekerjaan yang didasasari oleh vigor dedication dan absorption (Schaufeli et al. 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Ryff amp Singer (1996) bahwa kesejahteraan psikologis merupakan sebuah konsep yang terbentuk dari berbagai macam pengalaman hidup pada kesehariannya dalam menjalankan fungsinya sebagai individu yang dipandang utuh. Begitupun dengan Wells (2010) mengatakan bahwa individu yang sejahtera secara psikologis memiliki fungsi positif serta mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara optimal. Tujuan penelitian ini untuk menggali informasi mengenai tingkat keterikatan kerja pada karyawan milenial tingkat kesejahteraan psikologis pada karyawan milenial serta hubungan kesejahteraan psikologis dengan keterikatan kerja pada karyawan milenial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif korelasional dengan subjek penelitian adalah karyawan milenial di Kota Malang. Pengambilan data menggunakan adaptasi dari dua skala yaitu skala kesejahteraan psikologis dan skala keterikatan kerja. Validitas dari skala kesejahteraan psikologis sebesar 0.062 ndash 0.747 dengan reliabilitas sebesar 0.864 sedangkan pada skala keterikatan kerja validitasnya sebesar 0.424 ndash 0.847 dengan reliabilitas 0.938. Hasil deskriptif yang diperoleh sebesar 54% karyawan milenial memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi dan sebesar 52% karyawan memiliki tingkat keterikatan kerja yang tinggi. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji korelasi pearson product moment dengan hasil koefisien korelasi pada kedua variabel ini sebesar 0.558 dan hasil uji hipotesis yang diperoleh berdasarkan nilai signifikansi deviation from linearity sebesar 0.147 (p gt 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kesejahteraan psikologis dengan keterikatan kerja pada karyawan milenial di Kota Malang. Hubungan kedua variabel penelitian termasuk ke dalam kategori ldquo Hubungan Kuat rdquo sesuai dengan tabel kategorisasi de Vaus (2002). Saran yang dapat diberikan terkait penelitian ini adalah secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan pengetahuan terhadap tingkat keterikatan kerja dan kesejahteraan psikologis pada karyawan milenial sedangkan saran secara praktis (1) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengkategorisasikan bidang atau jenis pekerjaan lebih spesifik agar mampu mendapatkan hasil yang lebih detail peneliti juga masih perlu memperhatikan faktor-faktor lain yang mampu mempengaruhi keterikatan kerja serta yang perlu diperhatikan terkait metode pengambilan data. Pengisian pada kuesioner sebaiknya diawasi secara langsung guna meminimalisir responden memberikan respon jawaban atau pengisian secara faking good (2) Bagi karyawan milenial diharapkan mampu untuk menentukan arah pada tujuan hidup untuk masa depan bersikap mandiri mampu berbaur dengan lingkungan sekitar (terutama di tempat individu tersebut bekerja) serta mampu untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman dan berdedikasi terhadap pekerjaannya (3) Bagi perusahaan diharapkan mampu menciptakan suasana dengan budaya lingkungan kerja yang kondusif aman dan nyaman. Disisi lain perusahaan juga harus mampu menyediakan fasilitas yang dibutuhkan serta mampu memberikan apresiasi atau reward pada karyawannya terutama pada generasi milenial agar lebih semangat terhadap pekerjaan mereka.