Skripsi
Hubungan mental health literacy terhadap intensi untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental pada mahasiswa di kota Malang/ Izza Safira Putri
Abstrak
Banyak dari permasalahan kesehatan mental di Indonesia yang masih memperoleh penanganan yang kurang tepat. Hal itu disebabkan karena masalah kesehatan mental seringkali dikaitkan dengan keyakinan pada hal-hal mistis sehingga pengobatan keagamaan lebih dipilih dibandingkan profesional kesehatan mental. Pemahaman yang kurang tepat tentang kesehatan mental dapat menyebabkan rendahnya intensi untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental. Sejumlah penelitian telah menunjukkan adanya keterkaitan antara pengetahuan tentang kesehatan mental atau mental health literacy dengan intensi untuk mencari bantuan profesional (Rickwood Deane amp Wilson 2007 Gulliver Griffiths amp Christensen 2010). Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan mental health literacy dengan intensi untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental pada mahasiswa di kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik analisis korelasional dan dilakukan pada 75 orang responden yang merupakan mahasiswa di kota Malang dengan rentang usia 18-25 tahun yang dipilih dengan menggunakan teknik insidental kuota sampling. Instrumen yang digunakan adalah (1) skala mental health literacy yang memiliki 34 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0 879 dan (2) kuesioner pencarian bantuan umum yang memiliki 2 aitem utama di mana masing-masing aitem memiliki 9 sub aitem (a-i) dengan reliabilitas sebesar 0 884. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan Spearman Rank diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara mental health literacy dengan intensi untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental pada mahasiswa di kota Malang (Sig. 0 667). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini cenderung memilih bantuan dari non profesional seperti teman sahabat atau pasangan intim baik untuk permasalahan personal atau emosional maupun pemikiran bunuh diri. Selain itu pengetahuan tentang penanganan diri sendiri serta faktor demografi seperti budaya dan usia juga dapat mempengaruhi intensi seseorang untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental. Bagi peneliti berikutnya dapat mempertimbangkan faktor demografi lain seperti agama dalam kaitannya dengan intensi untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental di Indonesia.