Tesis
Pengembangan panduan bibliokonseling bermuatan nilai etika pappaseng bugis untuk meningkatkan kecakapan sosial siswa dalam langkah kipas / M. Yunus Sudirman
Abstrak
Bibliokonseling bermuatan kearifan lokal memiliki landasan filosofi budaya dan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya bibliokonseling dikembangkan di masyarakat barat berlandaskan asas-asas budaya dan pengetahuan yang berkembang hanya berfokus kepada budaya barat sedangkan budaya timur yang berkembang di masyarakat Indonesia memegang teguh kearifan lokal budaya Indonesia khususnya suku Bugis di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis sangat erat dengan pappaseng dan sudah menjadi falsafah hidup masyarakat suku Bugis yang terdiri dari beberapa pesan etika. Konseling KIPAS memandang bahwa konseling bermuatan budaya perlu dirumuskan berdasarkan kondisi sosial-budaya yang secara turun-temurun telah diwariskan dalam masyarakat. Konseling KIPAS merupakan pendekatan konseling teori eklektik. Dalam pelaksanaannya konseli diberikan fleksibilitas dalam menentukan sikap dan pengembangan diri ke arah lebih produktif dan berkualitas dengan cara mengembangkan hal-hal positif pada diri konseli serta berkolaborasi dengan pihak yang dapat mendukung kemajuan konseli. Bibliokonseling bermuatan nilai etika pappaseng Bugis dalam langkah Konseling KIPAS merupakan teknik dimana bahan bacaan disusun berdasarkan nilai etika yang digunakan dalam proses konseling sebagai suatu strategi dalam membantu permasalahan kecakapan sosial konseli. Konten panduan bibliokonseling mencakup unsur pesan nilai budaya Bugis (a) budaya sipakatau (saling memanusiakan) (b) sipakalebbi (saling memuliakan) dan (c) sipakainge (saling mengingatkan dalam kebaikan). Sedangkan unsur kecakapan sosial yang dibentuk (a) Situasi interaksi (b) Output interaksi (c) Saluran dan jaringan komunikasi (d) Internal vs Eksternal arah ekspresi (e) Andalan diri (f) Langgeng tidaknya hubungan. Pelaksanaan bibliokonseling dalam langkah Konseling KIPAS (a) Kabar Gembira (b) Integrasi Data dan Internalisasi (c) Perencanaan Tindakan (d) Aktualisasi Tindakan (pelaksanaan bibliokonseling) (e) Selebrasi. Rancangan penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah model Borg Gall (1983). Subjek penelitian adalah siswa SMA. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi pedoman wawancara dan penilaian format dan konten panduan konseling oleh ahli media ahli BK ahli budaya Bugis dan calon pengguna. Analisis hasil uji ahli dan calon pengguna menggunakan interrater agreement model untuk mengetahui kelayakan panduan bibliokonseling yang dikembangkan. Hasil pengembangan panduan bibliokonseling terdapat lima bagian di antaranya (1) pendahuluan (2) unsur kecakapan sosial dalam pappaseng Bugis (3) prosedur pelaksanaan bibliokonseling dalam langkah KIPAS (4) bahan bacaan bibliokonseling (5) refleksi kegiatan. Hasil uji validitas ahli terhadap pengembangan bibliokonseling sudah memenuhi skala kelayakan produk. Hasil analisis ahli media pembelajaran pada kriteria ketepatan kemenarikan dan kejelasan menunjukkan nilai 1 yang memiliki validitas sangat tinggi. Hasil analisis ahli BK pada kriteria kegunaan ketepatan dan kemudahan menunjukkan nilai 1 yang memiliki validitas tinggi. Hasil analisis ahli budaya pada kriteria kegunaan ketepatan dan kemudahan menunjukkan nilai 1 yang memiliki validitas tinggi. Hasil analisis calon pengguna (guru BK) pada aspek ketepatan kemenarikan kejelasan kegunaan dan kemudahan menunjukkan nilai 1 yang memiliki validitas tinggi. Saran bagi konselor SMA hendaknya menggunakan panduan bibliokonseling ini sebagai upaya preventif development pada kecakapan sosial siswa. Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan uji keefektifan panduan di lapangan.