Skripsi
Pengembangan modul hidrolisis garam kelas XI SMA dengan model pembelajaran Pogil yang diperkaya problem solving menurut Polya / Fita Indriani
Abstrak
RINGKASAN Indriani Fita. 2020. Pengembangan Modul Hidrolisis Garam Kelas XI SMA dengan Menggunakan Model Pembelajaran POGIL yang Diperkaya Problem Solving Menurut Polya. Skripsi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Suharti S.Pd. M.Si Kata-kata kunci Modul Hidrolisis Garam POGIL Problem Solving Model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) dan problem solving merupakan model pembelajaran yang sesuai dengan anjuran dalam kurikulum 2013. Proses pembelajaran dalam model pembelajaran POGIL maupun problem solving melibatkan peserta didik untuk berperan aktif dalam menemukan sebuah konsep dengan bantuan guru seminimal mungkin. Integrasi model pembelajaran problem solving menurut Polya dalam POGIL telah terbukti menunjukan hasil belajar dan kemampuan argumentasi yang lebih baik dalam belajar larutan penyangga dibandingkan dengan model POGIL. Dari hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa banyak peserta didik yang merasa kesulitan dalam mempelajari hidrolisis garam.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul hidrolisis garam kelas XI SMA dengan menggunakan model pembelajaran POGIL yang diperkaya problem solving dan mengetahui tingkat kelayakan modul yang dikembangkan. Pengembangan modul hidrolisis garam dilakukan dengan menggunakan model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan dkk. (1974) dengan langkah-langkah sesuai sintaks pada model pembelajaran POGIL dan problem solving. Modul yang dikembangkan berupa modul siswa dan modul guru. Uji kelayakan modul mencakup aspek kelayakan isi kebahasaan dan tata letak. Uji kelayakan dilakukan berdasarkan instrumen yang dikembangkan oleh BNSP yang telah dimodifikasi menyesuaian modul yang dikembangkan. Uji kelayakan dilakukan melalui validasi ahli yaitu dosen Jurusan Kimia dan guru kimia SMA dan uji keterbacaan oleh sekelompok kecil yang terdiri 15 peserta didik. Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan menunjukan modul yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Terutama pada materi hidrolisis garam. Kelayakan ini dililihat dari presentase modul yang telah dikembangkan diperoleh nilai sebesar 85% kelayakan modul siswa dan nilai sebesar 87 5% kelayakan modul guru. Hasil validasi untuk modul siswa dengan rician aspek kelayakan isi memperoleh nilai sebesar 86 7% Kelayakan Kebahasaan memperoleh nilai sebesar 83 3% dan Kelayakan tata letak memperoleh nilai sebesar 85%. Sedangkan hasil validasi untuk modul guru dengan rincian Petunjuk Khusus sebesar 90% dan Hasil Validasi Khusus (Per Subbab Modul Siswa) sebesar 80%. Pada uji keterbacaan didapatkan hasil sebesar 86 3%. Walaupun modul yang dikembangkan telah layak namun efektifitas penggunaan modul dalam belajar hidrolisis garam masih perlu diuji lebih lanjut.