UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Skripsi

Representasi budaya minangkabau sebagai sistem aktivitas dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis: kajian semiotika charles sanders peirce / Amir Syaifudin

Syaifudin, Amir - Nama Orang;

Abstrak
Ringkasan Syaifudin Amir. 2020. Representasi Budaya Minangkabau sebagai Sistem Aktivitas dalam Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce. Skripsi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Taufik Darmawan M. Hum. Kata kunci cerpen semiotika qualisign sinsign legisign Cerpen merupakan refleksi kehidupan yang menampilkan serangkaian peristiwa tetapi jalan ceritanya menjadi pengalaman hidup yang nyata sekaligus mempunyai fungsi menyenangkan dan bermanfaat bagi pembaca melalui penggambaran dalam kehidupan nyata. Salah satu cerpen yang layak dikaji ialah cerpen Robohnya Surau Kami(selanjutnya disingkat RSK) karya A.A. Navis. Karena cerpen tersebut merupakan salah satu cerpen yang fenomenal dan telah mendapat penghargaan oleh majalah kisah pada tahun 1955. Selain itu dalam cerpen tersebut juga terdapat unsur-unsur penanda yang relevan jika dikaji dengan teori semiotika Charles Sanders Pierce khusunya pada aspek qualisign sinsign dan legisign. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif karena berusaha menggambarkan dan mengungkapkan fakta-fakta berupa tanda semiotik yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Sumber data pada penelitian ini ialah cerpen RSK dan data pada penelitian ini berupa unsur-unsur kata frasa klausa dan kalimat yang merupakan informasi penting penjelasan dan faktor yang menyangkut unsur-unsur semiotik Charles Sanders Peirce khususnya pada aspek qualisign sinsign dan legisign. Instrumen utama penilitan ini ialah peneliti sendiri. selain itu insturemen pendukung lainnya ialah tabel panduan pengumpulan data dan analisis data. Prosedur pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini meliputi beberapa tahap. Pertama menetapkan sumber data dalam penelitian. Kedua mengeksplorasi sumber data dalam penelitian. Kegiatan yang dilakukan pada tahap eksplorasi adalah membaca secara kritis teks atau cerpen. Ketiga mengidentifikasi sumber data dalam penelitian. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengidentifikasi dan mendata seluruh data meliputi (1) qualisign (2) sinsign dan (3) legisign yang terdapat pada cerpen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca dan catat. Data yang ditemukan pada penilitian ini dibagi menjadi tiga sub bab. Pertama tanda yang meliputi Qualisign yaitu penanda nomina penanda verba dan penanda adjektiva.Contoh penanda qualisign yaitu terletak pada kata surau yang terdapat pada kalimat robohnya surau kami kata tersebut merupakan representasi dari sebuah tempat (rumah) umat islam melakukan ibadatnya (mengerjakan solat mengaji dan sebagainya) hal ini menujukan bahwa kata surau memiliki sifat potensial untuk menjadi sebuah penanda kualitas atau penanda nomina qualisign.Kedua tanda yang meliputi Sinsign yaitu penanda alami dan penanda buatan.Salah satu contoh Penanda Sinsign terdapat pada frasa mata Kakek berlinang. Penanda tersebut diklasifikasikan pada penanda alamiah sinsign karena frasa tersebut menggambarkan suatu keadaan seseorang ketika sedang sedih hal ini menandakan seuatu sifat alamiah seseorang ketika sedih kemudian matanya mengeluarkan airmata. Penanda ini diklasifikasikan pada penanda sinsign karena pada penanda tersebut memanfaatkan sebuah peristiwa atau objek sebagai wahana tanda.Ketiga tanda yang meliputi Legisign yaitu penanda sosial dan penanda budaya. Penanda Legisign yang ditemukan terletak pada kata beduk yang diklasifikasikan pada penanda budaya karena merupakan suatu benda dan fungsinya yang sudah melekat atau menjadi ciri khas suatu daerah tertentu. Penanda tersebut merepresentasikan suatu benda atau alat yang berfungsi untuk memberitahukan waktu salat. Benda atau alat seperti yang dimaksud jarang dan hanya dapat ditemukan di daerah tertentu oleh karena itu kata beduk diklasifikaskan pada penanda budaya. Sedangkan kata beduk diklasifiksaikan pada penanda legisign karena merupakan sebuah penanda yang sudah umum atau sudah menjadi sebuah konvensi di dalam suatu masyarakat. Dari ketiga penanda tersebut penanda qualisign ialah penanda yang paling mendominasi di seluruh bagian cerpen. Sedangkan penanda legisign merupakan penanda yang paling berpengaruh karena merepresentasikan kehidupan atau faktor lingkungan sang penulis cerpen. Penanda legisign juga sangat berkaitan dengan budaya Minangkabau yang keseluruhan merepresentasikan sebuah sistem aktivitas Masyarakat Minangkabau. Oleh karena itu penanda legisign menjadi acuan bahwa cerpen Robohny Surau Kami merupakan representasi aktivitas dari budaya Minangkabau yang dipaparkan oleh A.A. Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami.


Informasi Detail
DDC
Rs 808.301 SYA r
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, 2021.
Deskripsi Fisik
xvi, 96 lembar: ill. , tab. ; 30 cm
Bahasa
Indonesia
No Reg
03302/KI/21
Edisi
Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang. 2021
Subjek
1. CERPEN - SEMIOTIKA, REPRESNTASI
2. CERPEN - BUDAYA
3. SHORT STORY, SEMIOTICS FACTOR - REPRESENTATION

Pembimbing
1. Taufik Dermawan
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik