Disertasi
Makna nilai-nilai gotong royong bagi keberlanjutan usaha UMKM di Malang Raya / Nunuk Suryanti
Abstrak
RINGKASAN Nunuk Suryanti. 2021. Makna Nilai-Nilai Gotong Royong bagi Keberlanjutan Usaha UMKM di Malang Raya. Disertasi. Program Studi Doktor Pendidikan Ekonomi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Supervisor (I) Prof. Dr. Wahjoedi M.E. M.Pd. (II) Dr. Sugeng Hadi Utomo M.S. (III) Dr. Agung Haryono S.E. M.P Ak. Kata kunci Nilai budaya Gotong Royong Keberlanjutan Usaha UMKM Keterbatasan sumber daya yang dimiliki UMKM tidak menjadi kendala bagi pelaku UMKM untuk berkembang dan berinovasi. Nilai-nilai gotong royong yang merupakan budaya bangsa dapat memberikan kontribusi bagi pelaku UMKM untuk membangun bersama. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menghasilkan berbagai makna implementasi nilai-nilai gotong royong dalam kegiatan usaha komunitas UMKM dalam mendukung keberlanjutan usaha UMKM (2) Menghasilkan berbagai makna implementasi nilai-nilai gotong royong dalam pembelajaran komunitas UMKM dalam mendukung keberlanjutan usaha UMKM. . Maka Fokus penelitian ini adalah (1) Bagaimana makna nilai-nilai gotong royong dalam implementasi kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Malang Raya . (2) Bagaimana makna nilai-nilai gotong royong dalam implementasi pembelajaran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Malang Raya Desain penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kami menggali makna model nilai gotong royong dalam pelaksanaan kegiatan usaha dan pembelajaran komunitas UMKM di Malang Raya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam FGD observasi dan dokumentasi serta angket terbuka sehingga dapat digunakan alat triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna nilai-nilai gotong royong dalam pelaksanaan kegiatan usaha UMKM meliputi kegiatan produksi distribusi konsumsi dan kegiatan pembelajaran. Perkembangan UMKM tidak lepas dari kemampuan beradaptasi dengan produk-produk terkini. Oleh karena itu wirausahawan harus siap melaksanakan pembelajaran sepanjang hayat. Makna nilai gotong royong dalam kegiatan produksi tercermin dalam kegiatan gotong royong dalam pemenuhan bahan baku saling menggunakan jasa anggota dalam mendesign kemasan produk melalui rekomendasi figur dalan komunitas memudahkan dalam mendapatkan tambahan modal usaha baik melalui koperasi anggota maupun dari sektor perbankan serta dalam bentuk mengerjakan pesanan bersama dan berbagi pengetahuan tentang produksi produk yang sama. Makna nilai gotong royong yang tercermin dalam kegiatan konsumsi adalah saling membantu dalam bentuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan membeli produk-produk anggota komunitas. Makna nilai gotong-royong dalam kegiatan distribusi dilakukan dengan sistem reseller atau konsinyasi produk anggota komunitas dan melakukan perjuangan kolektif untuk mendapatkan jaringan pemasaran baru seperti hotel tempat wisata pasar modern dan sebagainya. Kemudian saling membeli produk dari anggota di komunitas untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan berbagi informasi tentang pemasok jika tidak ada produk di komunitas. Dalam kegiatan pembelajaran anggota komunitas berbagi ilmu dan pengalaman teknik pemasaran melakukan pembelajaran kolektif dan berbagi informasi tentang kegiatan pelatihan yang difasilitasi oleh pihak eksternal. Hampir setiap pengusaha memahami pentingnya berjejaring (memperkuat persahabatan). Mereka mengenal dan menginternalisasikan konsep bahwa ldquo setiap orang memiliki rezekinya masing-masing rdquo sehingga ide berbagi atau berbagi ide merupakan hal yang lumrah karena mereka percaya akan nilai ldquo keberkahan rdquo . Pola pembelajaran pada komunitas Batik dapat dijadikan sebagai acuan untuk menciptakan model atau strategi pembelajaran baru di sekolah berdasarkan nilai-nilai gotong royong yang secara eksplisit dapat terekam lebih detail. Dengan syarat mereka dapat menciptakan kondisi belajar yang saling membutuhkan. Bagi para pemangku kepentingan seperti dinas koperasi dan UMKM berdasarkan temuan penelitian nilai gotong royong dalam komunitas UMKM berdampak positif bagi keberlangsungan usaha. Oleh karena itu dalam mengembangkan UMKM dimungkinkan untuk mengkader anggota komunitas yang memiliki pengaruh kuat terhadap anggotanya sehingga proses pengembangan UMKM menjadi lebih efektif dan efisien. Bagi para stakeholeders (pemerintah akademisi perusahaan besar) terkait proses pembelajaran pelaku UMKM proses pembelajaran pelaku UMKM seringkali tidak terencana. Mereka lebih menyukai pembelajaran informal yang berhubungan langsung dengan pekerjaan mereka. Oleh karena itu dalam memberikan pelatihan atau pendampingan seharusnya memperhatikan bagaimana mereka belajar secara alami sehingga lebih efektif dan efisien. Tingkat pendidikan dan usia dapat dijadikani pertimbangan dalam memberikan metode pembelajaran bagi mereka atau dapat dibentuk kelompok belajar dengan sesama anggota komunitas yang mereka kenal dengan pendampingan berupa mentor yang sudah berkecimpung di dunia UMKM. Sistem pembelajaran tidak harus berada di dalam ruangan dalam jangka waktu yang terbatas.