Skripsi
Strategi kepala sekolah dalam implementasi manajemen pendidikan inklusi SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung / Catur Nur Cahyaning
Abstrak
RINGKASAN Cahyaning Catur Nur. 2021. Strategi Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Pendidikan Inklusi SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung. Skripsi Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Achmad Supriyanto M.Pd M.Si dan (II) Dr. Sunarni S.Pd M.Pd. Kata Kunci strategi kepala sekolah implementasi manajemen pendidikan pendidikan inklusi pemerataan pendidikan Pendidikan inklusi merupakan program tambahan bagi beberapa sekolah di Indonesia yang memenuhi syarat untuk memberikan layanan pendidikan bermutu bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi sengaja dirancang agar anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh kesempatan pendidikan yang sama dengan anak lain di sekolah regular sehingga pemerataan pendidikan dapat tercapai. Beberapa fokus dalam penelitian ini yaitu (1) strategi kepala sekolah dalam menjalankan program pendidikan inklusi di SMAN 1 Rejotangan (2) proses implementasi manajemen pendidikan inklusi di SMAN 1 Rejotangan Tulungagung (3) proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus (4) peran guru pendamping khusus (GPK) dalam kegiatan pembelajaran inklusi (5) pemberian pelayanan pendidikan yang merata di sekolah inklusi (6) hambatan dalam proses implementasi pendidikan inklusi dan (7) lternative penyelesaian dari permasalahan yang timbul dalam proses implementasi program pendidikan inklusi di SMAN 1 Rejotangan Tulungagung. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan (1) strategi kepala sekolah sekolah dalam menerapkan program pendidikan inklusi (2) proses implementasi manajemen pendidikan inklusi (3) proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus (4) peran guru pendamping khusus dalam pembelajaran inklusi (5) pelayanan pendidikan yang merata di sekolah inklusi (6) hambatan dalam proses implementasi program pendidikan inklusi dan (7) lternative penyelesaian hambatan dalam program pendidikan inklusi di SMAN 1 Rejotangan Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk mengungkap dan mendeskripsikan fakta secara mendalam. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi wawancara dan dokumentasi sehingga informasi yang didapatkan dari informan dapat mengungkapkan tentang strategi implementasi manajemen pendidikan inklusi sebagai wujud pemerataan pelayanan jasa pendidikan kepada masyarakat. Pengecekan keabsahan data dan temuan penelitian dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik pengecekan anggota dan pengecekan bahan kajian atau referensi. Proses analisis data dilakukan melalui pengumpulan data secara rinci kondensasi data penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan hasil penelitian dari peneliti. Sesuai dengan hasil analisis data dan pembahasan penelitian maka peneliti menarik kesimpulan bahwa (1) kepala sekolah dalam penyelenggaraan program pendidikan inklusi menggunakan strategi kooperatif-kolaboratif yang didasarkan pada kondisi dan kebutuhan sekolah dalam menjalankan tanggung jawab sebagai sekolah inklusi (2) proses implementasi program pendidikan inklusi di SMAN 1 Rejotangan yaitu dimulai dari proses perencanaan pengorganisasian atau pengelompokan pelaksanaan atau penerapan dan evaluasi serta pengawasan program berkelanjutan (3) proses pembelajaran ABK di sekolah inklusi SMAN 1 Rejotangan Tulungagung dilakukan secara online lebih dominan dan pembelajaan offline dilakukan setiap Jumat dan Sabtu per minggu. Selain itu ABK mendapatkan fasilitas konsultasi belajar secara privat dengan GPK apabila diperlukan. Pembelajaran offline dilakukan di beberapa Tempat Kegiatan Belajar (TKB) seperti di TKB Rejotangan dan TKB Kauman (4) peran GPK di sekolah ini adalah sebagai pemandu pembelajaran bagi ABK maupun peserta didik lainnya GPK berperan sebagai kakak bagi ABK karena tanggung jawab GPK tidak hanya sebagai penyampai materi namun juga turut bertanggung jawab di luar lingkup pembelajaran GPK di sekolah ini juga berperan sebagai konselor bagi ABK dan peserta didik regular karena tugas GPK juga sebagai guru BK di sekolah yang turut berupaya menata masa depan seluruh peserta didik (5) program pendidikan inklusi SMAN 1 Rejotangan Tulungagung sebagai wujud pemerataan pendidikan turut mengupayakan layanan pendidikan yang merata termasuk untuk para ABK hingga membagi proses belajar ke beberapa TKB dengan waktu yang fleksibel agar layanan pendidikan dekat dengan masyarakat dan dapat dirasakan manfaatnya (6) hambatan dalam implementasi program pendidikan inklusi di SMAN 1 Rejotangan ini muncul dari dua lembaga yang bekerja sama dalam pelaksanaan sekolah inklusi yaitu SMAN 1 Rejotangan dan SMA Terbuka Tulungagung hambatan juga muncul dari pihak ABK yang memang kondisinya istimewa dan orang tua ABK yang masih kurang supportif terhadap adanya pendidikan bagi anak-anaknya dan (7) pemecahan masalah yang diambil sebagai solusi dari adanya hambatan di atas merupakan hasil koordinasi SMAN 1 Rejotangan dan SMA Terbuka Tulungagung dengan melibatkan ABK dan orang tua. Selain itu sekolah juga terbuka dalam menerima saran dan masukan dari lembaga lain. Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas mendorong peneliti untuk memberikan saran kepada berbagai pihak terkait diantaranya (1) Kepala SMAN 1 Rejotangan Tulungagung dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana strategis sekolah inklusi pada masa berikutnya (2) Tenaga Pendidik Regular dan Guru Pendamping Khusus dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pengetahuan tambahan dalam mengembangkan pembelajaran inklusi di sekolah (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai rujukan pengembangan keilmuan manajemen layanan khusus dan fokus pada manajemen pendidikan inklusi (4) Peneliti lain dapat memperoleh ide penelitian dari hasil penelitian ini seperti penelitian kurikulum dan pengembangan media belajar di sekolah inklusi.