Tesis
Analisis proses pemecahan masalah sistem persamaan linear dua variabel berdasarkan tahapan mason ditinjau dari tipe adversity quotient / Novi Nurhayati
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya proses pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah proses pemecahan masalah yang terdiri dari memahami suatu masalah merancang model matematika menyelesaikan model matematika dan menguraikan solusi yang didapatkan. Sejalan dengan hal tersebut siswa harus memiliki kemampuan mengolah masalah dengan tepat dan benar. Sehingga untuk memahami dan mengetahui proses pemecahan masalah dengan menggunakan proses tahapan pemecahan menurut Mason yang terdiri dari tiga tahapan yaitu entry attack dan review. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses pemecahan masalah adalah Adversity Quotient. Adversity Quotient merupakan kemampuan seseorang dalam berpikir mengelola dan mengambil tindakan dalam menghadapi suatu masalah hambatan maupun tantangan dan mencari penyelesaiannya. Penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 6 siswa kelas IX MTs Negeri 1 Kota Bima terdiri dari 2 siswa kerdasarkan ketegori climber 2 siswa kerdasarkan ketegori camper dan 2 siswa kerdasarkan ketegori quitter. Penentuan subyek penelitian terdasarkan pemeberian angket Adversity Response Profile dari tiap kategory Adversity Quotient hasil pekerjaan subjek penelitian dalam menyelesaikan lembar tes hasil wawancara subjek. Setelah data terkumpul dilakukan teknik analisis data kualitatif melalui proses reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa climber melakukan fase entry attack dan review dengan baik. Siswa camper melakukan fase entry dengan baik pada fase attack siswa mampu menyelesaikan langkah penyelesaian masalah dengan baik tetapi kurang teliti. Sedangkan pada fase review siswa kurang teliti dan tidak menuliskan kesimpulan akhir dan tidak memikirkan solusi lain dalam penyelesaiannya. Sedangkan siswa quitter pada fase entry belum mampu menyajikan informasi pendukung yang digunakan dalam penyelesaian masalah dengan menggunakan simbol-simbol. pada fase attack siswa tidak dapat menyelesaikan masalah dan melakukan kesalahan dalam perhitungan dan pada fase review siswa tidak memeriksa kembali langkah-langkah penyelesaian serta kurang teliti dalam memeriksa perhitungannya.