Tesis
Karakteristik penggunaan contoh dalam pembuktian konjektur / Intan Carolina Savitri
Abstrak
Pembuktian suatu konjektur dapat dilakukan dengan mencari contoh dan noncontoh. Contoh yang digunakan dalam pembuktian dapat berupa contoh generik atau contoh empirik. Contoh generik cenderung membantu siswa untuk menghasilkan pembuktian umum. Sementara contoh empirik cenderung mengantarkan siswa pada pembuktian yang tidak umum. Keterkaitan jenis contoh yang digunakan dengan pembuktian yang dihasilkan memunculkan dugaan adanya karakteristik khusus dari penggunaan masing-masing jenis contoh dalam pembuktian konjektur. Penelitian-penelitian terdahulu belum ada yang mengkaji tentang karakteristik penggunaan contoh dalam pembuktian konjektur ditinjau dari siswa yang menghasilkan contoh generik dan siswa yang menghasilkan contoh empirik. Oleh karena itu penting untuk dilakukan penelitian yang berjudul Karakteristik Penggunaan Contoh dalam Pembuktian Konjektur. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek pada penelitian ini diambil dari siswa kelas 11 SMAN 1 Rogojampi. Kriteria subjek adalah subjek yang menggunakan contoh generik dan subjek yang menggunakan contoh empirik dengan mengamati hasil pengerjaan Tes Pembuktian Konjektur (TPK). Subjek yang terpilih akan diwawancara untuk mengidentifikasi karakteristik penggunaan contoh subjek dalam pembuktian. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi terstruktur dengan berpedoman pada pedoman wawancara dan dapat dikembangkan sesuai jawaban yang diberikan subjek. TPK dan pedoman wawancara akan divalidasi sebelum digunakan. Selain diuji validasi TPK juga diuji keterbacaan. Jawaban subjek pada wawancara akan direkam ditranskrip direduksi sebelum akhirnya dianalisis dengan katergori CAPS yang dibuat oleh Ellis dkk. (2017). Karakteristik penggunaan contoh dalam pembuktian oleh siswa yang menghasilkan contoh generik berbeda dengan siswa yang menghasilkan contoh empirik. Perbedaan karakteristik penggunaan contoh pada dua kelompok subjek tersebut tampak pada strategi pemilihan contoh siswa empirik cenderung memilih contoh yang berbeda dari contoh sebelumnya sementara siswa generik cenderung membuat contoh dengan melanjutkan dari contoh sebelumnya. Perbedaan karakteristik penggunaan contoh juga tampak pada tujuan penggunaan contoh. Siswa dengan pembuktian empirik menggunakan contoh hanya untuk mengetahui apakah hasil yang didapat dari contoh sesuai dengan konjektur yang dibuktikan. Sementara siswa dengan contoh generik berpindah dari tujuan tersebut ke tujuan baru yaitu mencari pola umum dari contoh-contoh. Pada siswa dengan contoh generik pola yang ditemukan dari contoh menjadi alasan awal mengapa konjektur benar sehingga keterjangkauan yang didapat siswa dengan contoh generik adalah mendapat wawasan (mengerti mengapa). Keterjangkauan tersebut juga didapatkan oleh siswa dengan contoh empirik yang juga menggunakan contoh yang memuat variabel. Bahkan siswa empirik ini mendapat keterjangkauan berupa bukti yang layak dan bukti yang layak meskipun tidak lengkap. Dua jenis keterjangkauan ini bahkan tidak ditemukan pada siswa dengan contoh generik.