Tesis
Analisis kemampuan berpikir kreatif matematis siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Praya dalam pemecahan masalah sistem persamaan linear dua variabel / Indah Tri Septiani
Abstrak
Tantangan pada kehidupan abad 21 khususnya dalam bidang pendidikan menuntut siswa agar memiliki banyak kemampuan salah satunya adalah kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif harus dikembangkan dalam proses pembelajaran untuk menciptakan suatu pembaharuan. Kemampuan berpikir kreatif ditandai dengan terciptanya hal baru dari gagasan konsep pengalaman serta pengetahuan dalam pikiran seseorang. Kemampuan berpikir yang mengarah kepada sesuatu yang baru pendekatan perspektif konsep serta gagasan atau ide-ide baru pada matematika disebut kemampuan berpikir kreatif matematis. Upaya untuk menciptakan kebiasaan berpikir kreatif matematis siswa dilakukan dengan pemberian model pertanyaan atau masalah yang mempunyai banyak solusi. Proses atau aktivitas pencarian dan pemberian solusi dari suatu masalah disebut aktivitas pemecahan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Praya masing-masing dua siswa yang berkemampuan tinggi sedang dan rendah. Data disajikan dalam bentuk gambar hasil pekerjaan siswa dan transkip wawancara. Data penelitian ini dianalisis melalui tiga tahapan yaitu (1) reduksi data (2) penyajian data dan (3) menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi mampu memahami masalah dengan baik menyusun rencana penyelesaian menyelesaikan masalah sesuai rencana yang telah dibuat kemudian memeriksa kembali hasil pekerjaan yang telah dilakukannya. Selain itu siswa yang berkemampuan tinggi mampu mencapai tiga indikator berpikir kreatif yakni flexibility fluency dan originality. Siswa yang berkemampuan sedang mampu memahami masalah serta membuat rencana penyelesaian dan hanya mencapai satu indikator berpikir kreatif yakni flexibility. Namun ada siswa berkemampuan sedang yang mampu mencapai dua indikator berpikir kreatif yakni flexibility dan fluency. Saat menyelesaikan masalah siswa tersebut mampu memahami masalah dengan baik membuat rencana penyelesaian dan menyelesaikan masalah berdasarkan rencana yang telah dibuat. Sementara itu siswa yang berkemampuan rendah hanya mampu mencapai satu indikator berpikir kreatif yakni flexibility dan mampu mencapai dua indikator pemecahan masalah yakni memahami masalah serta membuat rencana penyelesaian.