Tesis
Penguatan spiritual and religius literacy dalam mengangkat keunggulan glokalisasi Sekolah Dasar Bercirikan Agama Islam / Syifa Masna Raisalah
Abstrak
Literasi spiritual dan religius merupakan salah satu pondasi yang dapat diajarkan pada siswa di sekolah guna mengangkat keunggulan sekolah. Literasi sebagai bagian dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) maupun Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) digunakan untuk membentuk adab akhlak maupun kemampuan membaca siswa. Literasi spiritual lebih kepada pembelajaran adab dan akhlak siswa sedangkan literasi religius secara langsung belajar dari agama khsusunya Agama Islam di dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan ragam literasi spiritual dan religius di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 dan SD Islam Mohammad Hatta Kota Malang (2) Mendeskripsikan manajemen pembelajaran literasi spiritual dan religius di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 dan SD Islam Mohammad Hatta Kota Malang (3) Mendeskripsikan dampak literasi spiritual dan religius dalam pendidikan karakter siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 dan SD Islam Mohammad Hatta Kota Malang dan (4) Mendeskripsikan tantangan dalam pembelajaran literasi spiritual dan religius di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 dan SD Islam Mohammad Hatta Kota Malang. Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain multi-kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara observasi dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis data individu dan data lintas kasus yang mencakup reduksi dan penyajian data serta kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Ragam literasi spiritual yang dikembangkan di MIN 1 adalah akhlak dan pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia sedangkan SDI Mohammad Hatta melalui program motivasi lima menit (MLM) untuk ragam literasi religius di MIN 1 adalah pelajaran ubudiyah dan mengaji hafalan surat metode ummi sedangkan SDI Mohammad Hatta dengan program mengaji metode Wafa (2) Manajemen pembelajaran literasi spiritual MIN 1 dimulai dari perencanaan menyiapkan materi ajar siswa dan pengadaan sarana pojok kelas serta perpustakaan sedangkan SDI Mohammad Hatta mengadakan rapat kerja dan pembuatan SOP pembelajaran. Pelaksanaan baik di MIN 1 maupun di SDI Mohammad Hatta menggunakan metode daring dan luring. Pengawasan pembelajaran akhlak di MIN 1 menggunakan buku syarat kecakapan akhlakul karimah (SKAK) sedangkan di SDI Mohammad Hatta menggunakan buku Akhbirna. Manajemen pembelajaran literasi religius di MIN 1 dimulai dari merencanakan target berbeda antara kelas bawah dan kelas atas serta memuat syarat yang detail di setiap standarnya sedangkan di SDI Mohammad Hatta perencanaan dimulai dari rapat kerja dan pengadaan buku Wafa. Pelaksanaan di kedua sekolah sama yaitu dengan metode daring dan luring. Pengawasan pembelajaran ubudiyah di MIN 1 menggunakan buku syarat kecakapan ubudiyah (SKU) dan mengaji dengan kemampuan hafalan surat (KHS) sedangkan program mengaji SDI Mohammad Hatta menggunakan munaqosah kenaikan jijlid metode Wafa (3) Dampak pembelajaran literasi spiritual dan religius di kedua sekolah ada pada nilai karakter religius gemar membaca toleransi beragama disiplin mandiri kejujuran peduli sosial dan kreatif (4) Tantangan di kedua sekolah sama dilihat dari segi pandemi dan segi orang tua. Tantangan dari segi pandemi adalah kurangnya waktu belajar tatap muka karena kebijakan PTMT masa pandemi ini penggunaan gadget berlebih untuk bermain game dan sedikit merengganggnya hubungan guru dan siswa. Tantangan dari segi orang tua adalah kurangnya perhatian dalam belajar anak di rumah dan terdapat kurangnya kejujuran dalam mengisi form evaluasi anak. Tantangan ini disikapi dengan mengingatkan orang tua guru dan memberikan keteladanan pada anak. Penguatan literasi spiritual dan religius di kedua sekolah mengangkat keunggulan sekolah baik dalam kemampuan literasi anak maupun akhlak siswa.