Disertasi
Model perilaku agresi siswa, ditinjau dari kompetensi sosial dan regulasi emosi, yang dimediasi oleh budaya kehormatan / Primus Domino
Abstrak
Teori pemrosesan informasi mengatakan bahwa manusia menggunakan pertimbangan kognitifnya untuk memutuskan sesuatu termasuk keputusan untuk menyerang orang lain. Segala jenis perilaku yang diarahkan untuk menyerang orang lain atau membahayakan orang lain disebut dengan perilaku agresi. Perilaku ini masih banyak dilakukan oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model perilaku agresi yang dilakukan oleh siswa di lingkungan sekolah ditinjau dari kompetensi sosial dan regulasi emosi siswa. Selain itu penelitian ini ingin mengkaji peran budaya kehormatan dalam memediasi hubungan antara kompetensi sosial dan regulasi emosi dengan perilaku agresi siswa di sekolah. Penentuan variabel mengacu pada General Aggression Model (GAM) yang mengatakan bahwa semua variabel pribadi dan situasi memengaruhi kognisi dan afeksi serta struktur pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyerang atau tidak menyerang orang lain. Populasi penelitian adalah siswa SMAN 1 Ruteng Anam yang terletak di Manggarai Flores NTT. Subyek penelitian berjumlah 245 siswa yang dipilih dengan menggunakan stratified random sampling. Instrumen penelitian berbentuk skala yang mengikuti model Likert. Ada 4 instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian yaitu skala perilaku agresi skala kompetensi sosial skala regulasi emosi dan skala budaya kehormatan. Semua skala tersebut diadaptasi mengikuti panduan prosedur adaptasi skala yang disarankan oleh Hambleton amp Jong dimulai dari 1) penerjemahan alat ukur dengan memperhatikan aspek lintas budaya 2) melakukan sintesis 3) diskusi hasil sintesis dengan tim ahli 4) menelaah skala penelitian untuk diselaraskan dengan kajian teoritis variabel penelitian dan 5) meminta review skala penelitian dari penilai profesional. Pengujian validitas konstruk skala penelitian melalui metode analisis faktor konfirmatori (Confirmatory Factor Analysis CFA). Berdasarkan hasil uji CFA diperoleh nilai loading factor butir skala perilaku agresi ge 0 6 sedangkan nilai loading factor butir skala kompetensi sosial skala regulasi emosi dan skala budaya kehormatan ge 0 7. Dengan demikian semua skala yang digunakan memiliki validitas yang baik dalam mengukur variabel penelitian. Pengujian model perilaku agresi siswa di sekolah menggunakan teknik Structural Equation Modelling (SEM) dengan bantuan program komputer AMOS V22. Hasil analisis statistik menunjukkan sebanyak 6 dari 8 indikator goodness of fit (GOF) ditemukan fit. Dengan demikian hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa model perilaku agresi siswa di sekolah sesuai dengan data empiris yang diperoleh dari lapangan. Berkaitan dengan pengujian hubungan antara variabel dan peran budaya kehormatan dalam memediasi hubungan antara kompetensi sosial dan regulasi emosi dengan perilaku agresi siswa di sekolah didapatkan hasil sebagai berikut 1) kompetensi sosial memiliki hubungan yang negatif dan signifikan dengan perilaku agresi siswa 2) regulasi emosi dengan memiliki hubungan yang negatif dan signifikan perilaku agresi siswa 3) budaya kehormatan memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan perilaku agresi siswa 4) kompetensi sosial memiliki hubungan yang negatif dan signifikan dengan budaya kehormatan 5) regulasi emosi memiliki hubungan yang negatif dan signifikan dengan budaya kehormatan 6) kompetensi sosial memiliki hubungan tidak langsung yang signifikan dengan perilaku agresi siswa melalui budaya kehormatan dan 7) regulasi emosi memiliki hubungan tidak langsung yang signifikan dengan perilaku agresi siswa melalui budaya kehormatan. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa The General Agression Model (GAM) dapat digunakan sebagai model teoritik yang tepat dalam menjelaskan perilaku agresi yang dilakukan oleh siswa di sekolah. Variabel penting yang menentukan agresi siswa di sekolah adalah kompetensi sosial regulasi emosi dan budaya kehormatan. Siswa yang kompeten secara sosial dan mampu mengatur emosinya dengan baik jarang terlibat dalam perilaku agresi dengan siswa lain di sekolah. Pada sisi lain budaya kehormatan berperan memediasi hubungan kompetensi sosial dan regulasi emosi dengan perilaku agresi siswa di sekolah. Guru harus meningkatkan kompetensi sosial dan regulasi emosi siswa serta meminimalisir pengaruh negatif dari budaya kehormatan sehingga menurunkan perilaku agresi siswa di sekolah.