Disertasi
Konstruksi sosial Pondok Pesantren sumber pendidikan mental Agama Alloh (grounded research adaptasi perilaku santri dan internalisasi nilai di Kabupaten Lamongan) / Glory Islamic
Abstrak
Kiprah pondok pesantren (ponpes) secara luar biasa telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sejak awal keberadaannya. Memasuki abad 21 ponpes menghadapi tantangan budaya materialistis dan pragmatisme yang menjadikan masyarakat belum sepenuhnya melihat ponpes sebagai institusi yang memiliki kapasitas melahirkan lulusan berkecakapan tinggi di masyarakat. Ponpes masih dilihat sebagai institusi pendidikan kitab suci dan nilai-nilai moral semata dengan lulusan sebatas profesi kiai ustadz dan pemuka agama. Sesungguhnya banyak ponpes yang telah berupaya menjawab tantangan tersebut di antaranya Ponpes Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) di Lamongan Jatim. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis (1) nilai-nilai yang diinternalisasikan di Ponpes SPMAA (2) konstruksi sosial sebagai internalisasi nilai-nilai dan strategi pembelajaran santri (3) tahapan adaptasi perilaku dan pembelajaran santri dan (4) peran-peran aktor adaptasi perilaku santri dan pembelajaran di Ponpes SPMAA. Penelitian ini menggunakan metode grounded research untuk membangun proposisi atau teori baru terkait konstruksi sosial pondok pesantren. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam observasi partisipatif focus group discussion dan studi dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah para gus ustadz santri orangtua pengurus cabang dan masyarakat yang diplih dengan teknik purposive. Peneliti live in di dalam ponpes untuk mengamati mengikuti dan terlibat dalam seluruh kegiatan penghuni ponpes. Data yang diperoleh diuji dengan teknik credibility (triangulasi) dependability confirmability transferability. Proses memoing peneliti gunakan untuk landasan menganalisis data dengan teknik open coding axial coding dan selective coding kemudian menyusunnya menjadi sebuah proposisi. Temuan penelitian ini menunjukkan konstruksi sosial Ponpes SPMAA dibangun di atas pondasi lima tata nilai meliputi (1) tiga proyek besar atau TPB sebagai nilai assasiyah (pondasi) (2) nilai ruang dan waktu sebagai nilai lsquo amaliyah (aksi) (3) delapan rukun santri sebagai nilai yaumiyah (habituasi) (4) tujuh siap sebagai nilai tafkiriyah (mindset) dan (5) resep hidup sebagai nilai khidmah (profetik). Secara hierarkis nilai assasiyah atau nilai dasar TPB yang berisikan nilai ketuhanan kemanusiaan dan keakhiratan menempati posisi tertinggi dalam piramida nilai-nilai pembentuk mindset karakter dan perilaku ideal santri di ponpes. Kabaruan dari temuan penelitian ini adalah bentuk konstruksi sosial di Ponpes SPMAA yang terdiri dari (1) take in learning yakni menyelenggarakan program layanan so-dik-link (sosial pendidikan dan lingkungan hidup) di dalam lingkungan pembelajaran ponpes (2) take out learning yakni strategi membawa santri keluar untuk bersentuhan dengan persoalan sosial di masyarakat melalui kegiatan belajar bersama masyarakat (3) konsep sekolah berstandar dunia akhirat atau SABDA yang merupakan pendidikan non-profit sistem kredit semester ruang belajar selaras alam tanpa batas usia perpaduan FE-NFE-IFE dan evaluasi partisipatif (4) jaringan kerjasama dengan pemerintah swasta dalam maupun di luar negeri. Meskipun di sisi lain kebaruan tersebut menyebabkan materi kognitif khas kepesantrenan menjadi titik lemah yang perlu ditingkatkan oleh para gus dan ustadz di Ponpes SPMAA. Di sisi tahapan adaptasi perilaku dan internalisasi nilai santri menunjukkan temuan adanya upaya Ponpes SPMAA menggabungkan konsep adult learning dengan konsep behavioristik yang secara sistematis membentuk suatu siklus pembelajaran minal mahdi ilal lahdi atau lifelong learning. Tahapan tersebut menghasilkan luaran pendidikan pesantren dalam bentuk seorang tenaga penyayang umat atau TPU yang memiliki standar meliputi (1) bekerja dengan renumerasi pegawai gaji akhirat atau PGA (2) siap bertugas di manapun dan kapanpun (3) bekerja dengan kemandirian ideologi dan fasilitas dan (4) siap mengabdi dalam multiperan dan skill. Semua proses konstruksi sosial dijalankan oleh para pihak yang membentuk jaringan aktor dengan Bapak Guru Muchtar dan para gus sebagai figur teladan utama. Regenerasi peran sentral (aktan) Bapak Guru Muchtar dan para gus tampak belum digarap secara serius sehingga rentan terhadap putusnya sustainability peran komando pembelajaran santri. Para ustadz di Ponpes SPMAA disarankan meningkatkan materi kognitif santri dengan cara menambahkan topik khas kepesantrenan dalam kurikulum sesuai kebutuhan santri. Para gus di Ponpes SPMAA disarankan melakukan proses penyiapan kader penerus peran sentralnya melalui mentoring dan coaching demi sustainability konstruksi sosial ponpes. Para gus di Ponpes SPMAA juga disarankan memperbaiki dokumen praktik konstruksi sosial termasuk akronim khas programnya dengan cara menyusunnya ke dalam bentuk panduan tertulis baku dan lebih sistematis. Para pemerhati dan praktisi pendidikan luar sekolah khususnya pondok pesantren sejenis disarankan menjadikan temuan ini sebagai referensi transferability bila akan melakukan replikasi. Para pengambil kebijakan disarankan menggunakan penelitian ini sebagai pertimbangan dalam menyusun kebijakan terkait pendidikan luar sekolah khususnya pondok pesantren. Para peneliti selanjutnya disarankan menjadikan kedalaman tata nilai strategi pembelajaran take in dan take out urgensi kegiatan outbond santri serta signifikansi peran idola di ponpes sebagai fokus penelitian selanjutnya.