Skripsi
Pemanfaatan limbah sabut kelapa (coconut fiber) muda sebagai pewarna alami tekstil pada kain campuran katun dan polyester / Sriwahyuningsi Hamar
Abstrak
Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman potensi alam berupa flora ataupun fauna yang tentunya dapat dimanfaatkan dan diolah oleh masyarakat untuk kepentingan bersama. Banyaknya potensi alam yang dimiliki mengharuskan kita berfikir kreatif agar dapat memanfaatkan potensi alam ini sebaik-baiknya. Menggunakan potensi alam sebagai pewarna alami merupakan salah satu upaya dari pemanfaatan potensi alam. Produksi kelapa di indonesia cukup besar sehingga dapat menghasilkan limbah sabut kelapa sebesar 1 juta ton/tahun. Saat ini pemanfaatan limbah sabut kelapa masih sangat minim dikarenakan masih sedikit penelitian mengenai limbah sabut kelapa yang dapat menarik minat masyarakat sehingga sebagian sabut kelapa tersebut dibuang atau dibiarkan saja dan menjadi limbah. Limbah sabut kelapa merupakan produk organik yang dapat menarik beberapa vektor penyebab penyakit antara lain tikus kecoa lalat dan nyamuk yang tentunya dapat menyebabkan masalah kesehatan pada manusia. Perebusan dengan cara tradisional merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghasilkan zat pewarna alami. Pada penelitian ini peneliti melakukan pengembangan zat warna alam dengan memanfaatkan potensi alam berupa limbah sabut kelapa muda. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pencampuran dari dua jenis bahan serat yang disebut kain katun polyester (polycotton) yang akan digunakan pada proses pencelupan dikarenakan kain campuran katun dan polyester merupakan bahan yang sering digunakan dalam industri busana. Adapun jenis fiksator yang digunakan ialah tawas dan tunjung. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil pencelupan warna ekstrak sabut kelapa muda menggunakan dua jenis fiksator pada kain campuran katun dan polyester untuk mendeskripsikan ketahanan luntur warna terhadap detergen yang dihasilkan oleh ekstraksi limbah sabut kelapa muda pada kain campuran katun dan polyester untuk mendeskripsikan penodaan terhadap kain putih pada pencucian yang dihasilkan oleh ekstrak limbah sabut kelapa muda pada kain campuran katun dan polyester serta untuk mendeskripsikan ketahanan luntur warna terhadap panas setrika yang dihasilkan oleh ekstraksi limbah sabut kelapa muda pada kain campuran katun dan polyester. Penelitian ini menggunakan metode uji laboratorium. Berdasarkan hasil penelitian pada fiksator tawas warna yang dihasilkan ialah warna Pearl Bush (coklat muda oren) dan pada fiksator tunjung warna yang dihasilkan ialah warna Grey 60% (abu-abu). Hasil uji ketahanan luntur warna kain terhadap pencucian detergen memperlihatkan hasil pada tingkatan baik (4) pada fixer tawas dan tunjung. Hasil uji penodaan terhadap kain putih memperlihatkan hasil pada tingkatan baik sekali (5) pada fixer tawas dan tunjung. Pada hasil uji ketahanan luntur warna kain terhadap panas setrika kering memperlihatkan hasil pada tingkatan baik (4-5) pada fixer tawas dan tunjung. Berdasarkan kesimpulan di atas adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu agar menghasilkan warna yang lebih pekat perlu ditingkatkan jumlah ekstraksi atau kekentalan ekstraksi serta lama pencelupan kain pada ekstraksi dapat pula dengan menggunakan metode pencelupan yaitu merebus kain dengan ekstraksi zat warna alam. Untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan eksperimen dengan menggunakan limbah sabut kelapa muda dengan fiksator lain agar menghasilkan warna yang beragam serta melakukan uji ketahanan luntur warna terhadap panas matahari atau terhadap keringat agar lebih mengetahui mutu pewarna kain.