Disertasi
Pengembangan model pembelajaran iqraa untuk meningkatkan penerimaan kompetensi aksi keberlanjutan dan literasi lingkungan mahasiswa / Husamah
Abstrak
Prodi Pendidikan Biologi di Indonesia mengintegrasikan Education for Sustainable Development (ESD) dalam mata kuliah bioetika sub etika lingkungan ekologi dan ilmu/pengetahuan lingkungan. Kendala integrasi ESD yang umum ditemukan berdasarkan hasil focus group discussion adalah pembelajaran bersifat konvensional didominasi ceramah diskusi klasikal monoton minim inovasi dalam bahan/perangkat ajar dan tak sejalan dengan tren perkembangan pembelajaran terkini. Hasil telusur RPS di beberapa PT menunjukkan bahwa aspek nilai-nilai spiritualitas (khususnya Islam) belum dintegrasikan. Hasil telusur referensi menunjukkan belum ada model pembelajaran yang diterapkan pada mata kuliah lingkungan/ESD yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam. Beberapa penelitian terdahulu hanya menunjukkan perlunya integrasi nilai-nilai Islam yang berwawasan lingkungan hidup dan pembelajaran tauhid lingkungan. Pembelajaran umumnya dilaksanakan di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Terlihat bahwa belum ditemukan penelitian dan pengembangan model pembelajaran ilmu lingkungan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan berupaya mengembangkan perangkat/instrumen evaluasi penerimaan aksi keberlanjutan dan literasi lingkungan mahasiswa calon guru biologi. Hasil analisis terhadap RPS diberbagai perguruan tinggi menunjukkan bahwa aspek spiritualitas tidak dimasukkan secara eksplisit. Tidak ada pembelajaran yang secara nyata bahwa perlu penerapan pembelajaran yang menugaskan mahasiswa untuk melaksanakan proyek menghasilkan produk maupun belajar secara kolaboratif. Beberapa upaya pengembangan pembelajaran ilmu/pengetahuan lingkungan telah dilakukan oleh peneliti lain namun hanya ada satu penelitian yang fokus pada implementasi PjBL yang diintegrasikan dengan outdoor study dan hanya berfokus pada satu materi. Sejalan dengan itu hasil asesmen terhadap 1267 mahasiswa pendidikan biologi seluruh Indonesia menunjukkan penerimaan kompetensi aksi untuk keberlanjutan dan literasi lingkungan mahasiswa hanya sampai pada level ldquo cukup rdquo . Oleh karena itu diperlukan satu model baru dalam pembelajaran pendidikan lingkungan/ilmu lingkungan. Temuan baru/novelty dari penelitian ini adalah adanya model pembelajaran IQRAA perangkat pembelajaran dan instrumen untuk mengukur aspek penerimaan kompetensi aksi keberlanjutan dan literasi lingkungan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan model pembelajaran yang valid praktis dan efektif untuk meningkatkan aspek penerimaan kompetensi aksi keberlanjutan dan literasi lingkungan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Metode penelitian dan pengembangan model pembelajaran mengacu pada prosedur analyze design develop implement and evaluate (ADDIE). Penelitian dan pengembangan ini terdiri atas tiga tahap yaitu penelitian dan pengembangan konsep model (kevalidan) penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran (kevalidan) serta pengujian model (kepraktisan dan keefektifan). Desain penelitian quasi-eksperimen yaitu pretest-postest non-eqiuvalent control group design digunakan untuk mengetahui keefektifan model. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2022- Februari 2023. Sampel penelitian terdiri dari 2 kelas dengan rincian 1 kelas eksperimen 1 kelas sebagai kontrol. Instrumen dalam penelitian ini yaitu SPACSS questionnaire ELIS lembar observasi keterlaksanaan sintaks pembelajaran angket respon mahasiswa dan lembar penilaian kemampuan menulis jurnal reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui form dan dokumen tercetak. Data ditabulasi di Microsoft Excel. Data keefektifan dianalisis menggunakan Quade rsquo s rank analysis of covariance setelah sebelumnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa telah dihasilkan model pembelajaran IQRAA yang terdiri atas tahapan Introduction Questioning and Ethical Decision-Making Running in Project Actuating and Appreciation and Reflection. Tahap Introduction (I) didasari pertimbangan bahwa kegiatan pembelajaran perlu dimulai dengan penyampaian tujuan dan motivasi perlunya integrasi nilai thalab al-ilmi dan niat pembagian kelompok presentasi pendidik/dosen memasukkan Iqra rsquo tahap pertama (how to read). Terdapat enam kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini. Tahapan Questioning and Ethical Decision-Making (Q) didasari pandangan bahwa kegiatan pembelajaran perlu mengkondisikan mahasiswa untuk melakukan penentuan pertanyaan mendasar mendorong kerja tim menyajikan masalah yang bersifat multidimensi dan memasukkan Islamic value serta iqra rsquo tahap kedua (how to learn). Terdapat empat kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini. Tahapan Running in Project (R) didasari pandangan bahwa kegiatan pembelajaran perlu mengkondisikan kelompok untuk mendesain perencanaan proyek bekerja dalam tim berupaya mengambil solusi untuk menyelesaikan masalah yang multidisiplin/komplek bekerja sesuai jadwal yang telah disusun memberi kesempatan kepada kelompok untuk mempresentasikan desain rencana proyek adanya apresiasi atau pemberian penghargaan atas kerja mahasiswa memberikan kesempatan dan waktu kepada kelompok dalam pelaksanaan proyek dosen perlu memonitor mahasiswa dan kemajuan proyek dan memasukkan iqra rsquo tahap ketiga (how to understand). Terdapat enam kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini. Tahapan Actuating (A) didasari pandangan bahwa kegiatan pembelajaran perlu menguji hasil kerja mahasiswa dan mengevaluasi pengalaman mahasiswa (bagaimana refleksi mahasiswa terhadap upaya mencari solusi dan mewujudkan solusi atas permasalahan yang bernilai masalah multidisiplin dalam bentuk produk) dan memasukkan iqra rsquo tahap ketiga (how to understand). Terdapat dua kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini. Tahapan Appreciation and Reflection (A) ini didasari pandangan bahwa kegiatan pembelajaran perlu memberikan kuis/tes untuk mengevaluasi mahasiswa perlu adanya pemberian penghargaan/apresiasi terhadap kinerja mahasiswa perlu adanya refleksi mahasiswa dan memasukkan iqra rsquo tahap keempat (how to meditate). Terdapat lima kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini. Model pembelajaran IQRAA dituangkan ke dalam buku model dan perangkat pembelajaran berupa RPS SAP dan instrumen asesmen. Model pembelajaran IQRAA dan perangkat pembelajarannya (RPS SAP dan instrumen asesmen) yang dikembangkan dinyatakan telah valid praktis dan efektif. Adapun kesimpulan perkomponen yaitu (a) Uji validitas menunjukkan model pembelajaran IQRAA berada pada kategori sangat valid sehingga dapat diimplementasikan tanpa perbaikan. Buku model telah divalidasi dari aspek kontruk model aspek bahasa dan materi serta aspek isi buku. Persentase aspek kontruk model pembelajaran IQRAA adalah 94 38% sedangkan untuk aspek isi dari buku model pembelajaran IQRAA kesimpulan umum validasi dengan skor 4 67 (93 33%). Perangkat pembelajaran (RPS dan SAP) berada pada kategori sangat valid sehingga bisa diimplementasikan tanpa perbaikan. RPS dan SAP model pembelajaran IQRAA telah divalidasi oleh sebelas orang ahli. Rerata skor validitas RPS model pembelajaran IQRAA yang diperoleh adalah sebesar 4 74 atau dengan persentase 94 8% sedangkan rerata skor validitas SAP model pembelajaran IQRAA yang diperoleh adalah sebesar 4 76 atau dengan persentase 95 29%. Instrumen SPACSS dan ELIS dinyatakan valid. (b) Model pembelajaran IQRAA telah memenuhi syarat kepraktisan model untuk meningkatkan aspek penerimaan kompetensi aksi untuk keberlanjutan dan literasi lingkungan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Adapun kesimpulan perkomponen yaitu (a) Respon mahasiswa menunjukkan bahwa semua langkah dalam pembelajaran IQRAA telah dapat dilaksanakan dengan sangat baik rerata persentase penilaian atau respon mahasiswa adalah 94 06%. Hasil observasi keterlaksanaan sintaks pembelajaran IQRAA menunjukkan bahwa semua sintaks telah terlaksana. Rerata hasil penilaian empat observer terhadap keterlaksanaan model pembelajaran IQRAA selama empat siklus adalah 98 47% untuk aspek pengamatan KBM dan 99 22% untuk aspek suasana kelas yang berarti model pembelajaran IQRAA terlaksana dengan sangat valid sangat efektif dan sangat tuntas. (c) Model pembelajaran IQRAA telah memenuhi syarat keefektifan model untuk meningkatkan aspek penerimaan kompetensi aksi keberlanjutan dan literasi lingkungan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Adapun kesimpulan perkomponen yaitu (a) Hasil analisis non parametrik menggunakan Quade rsquo s rank analysis of covariance. menunjukkan ada pengaruh model pembelajaran terhadap penerimaan kompetensi aksi untuk keberlanjutan (SPACSS) mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Kelas yang menerima model IQRAA memiliki rerata yang signifikan lebih tinggi dari kelas yang menerima tugas presentasi dan diskusi. Hasil analisis non parametrik menggunakan Quade rsquo s rank analysis of covariance. menunjukkan ada pengaruh model pembelajaran terhadap literasi lingkungan mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Artinya terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap literasi lingkungan mahasiswa. Dapat diketahui bahwa kelas yang menerima model pembelajaran IQRAA memiliki rerata yang signifikan lebih tinggi dari kelas yang menerima tugas presentasi dan diskusi. Apabila merujuk pada hasil analisis fuzzy maka variabel output menunjukkan bahwa efektifitas model pembelajaran IQRAA adalah Excellent yang berarti semua variabel baik penerimaan kompetensi aksi untuk keberlanjutan literasi lingkungan dan kemampuan menyusun jurnal belajar berada pada kategori sangat baik. Beberapa saran yang dapat diberikan berdasarkan pengalaman penelitian ini yaitu (a) Uji efektivitas hanya dilakukan dengan membandingkan kelas yang menerima model pembelajaran IQRAA dengan kelas konvensional yang menerima tugas presentasi dan diskusi. Oleh karena itu perlu kiranya membandingkan model ini dengan kelas yang menerima model pembelajaran aktif lainnya yang sudah umum seperti problem-based learning contextual teaching and learning inquiry-based teaching dan model yang menjadi dasar model ini yaitu project-based learning dan cooperative learning. (b) Faktor yang sering menjadi titik kritis model pembelajaran IQRAA adalah terkait pengaturan waktu oleh karena itu pada tatatan implementasi dosen harus benar-benar mengatur alokasi waktu sedemikian sehingga pembelajaran berjalan sesuai rencana. (c) Uji efektivitas hanya dilakukan dengan melihat aspek penerimaan kompetensi aksi untuk keberlanjutan dan literasi lingkungan. Model ini sangat mungkin juga efektif untuk meningkat berbagai aspek/kemampuan mahasiswa terkait dengan kontribusi mereka terhadap lingkungan seperti pelestarian dan pemanfaatan lingkungan persepsi risiko ekologi berpikir kreatif berpikir kritis keterampilan kolaboratif dan keputusan etik lingkungan sehingga perlu dilakukan penelitian pada aspek-aspek tersebut (d) perlu sosialisasi dan implementasi model pembelajaran IQRAA secara luas di berbagai Prodi Pendidikan Biologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan berbagai PTN/PTS perlu digalakkan untuk meningkatkan keberterimaan model ini.