Disertasi
Pengembangan model konseling motivasional bermuatan nilai spiritual islami untuk meningkatkan perilaku belajar santri Pesantren / Mohamad Thohir
Abstrak
Perilaku belajar santri dalam bentuk pengalaman belajar di pesantren yang melibatkan pikiran perasaan dan aktivitas fisik merupakan faktor penting untuk meraih prestasi dan mencapai tujuan belajar. Salah satu faktor dominan yang dapat membentuk perilaku belajar santri adalah motivasi diri dan spiritualitas karena menjadi identitas fundamental yang diekspresikan dalam pikiran perasaan dan pengalaman hidupnya. Hasil studi pendahuluan di Pesantren Modern Al Amanah Junwangi Krian Sidoarjo Jawa Timur menunjukkan bahwa sebesar 46% responden menujukkan perilaku belajar yang rendah 38% memiliki perilaku belajar sedang dan 16% menunjukkan perilaku belajar tinggi. Perilaku belajar rendah menurut beberapa wali kelas tampak pada rendahnya partisipasi santri dalam pembelajaran perhatian yang tidak fokus dan penundaan dalam melaksanakan tugas. Hal ini selaras dengan pendapat para guru dan konselor pesantren bahwa santri masih belum menunjukkan kesiapan saat pembelajaran di mulai sering meninggalkan kelas dan tidak memanfaatkan waktu untuk memperdalam materi belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model konseling motivasional yang menginternalisasi nilai-nilai spiritual Islami untuk meningkatkan perilaku belajar santri pesantren yang secara konstruktif memenuhi kriteria akseptabilitas berdasarkan uji para ahli dan uji kelompok pengguna serta menghasilkan model konseling motivasional yang teruji efektif untuk meningkatkan perilaku belajar santri pesantren. Penelitian dalam rangka mengembangkan model konseling motivasional yang bermuatan nilai spiritual Islami untuk meningkatkan perilaku belajar santri pesantren ini menggunakan pendekatan Reseach and Development (R amp D) model Dick Carey amp Carey (2015) dengan sepuluh (10) tahapan yaitu 1) identifikasi tujuan pembelajaran 2) pengembangan analisis pembelajaran 3) analisis konseli dan konteks 4) perumusan tujuan performansi 5) pengembangan instrumen penilaian 6) pengembangan strategi konseling 7) pengembangkan dan pemilihan materi konseling 8) desain dan evaluasi formatif 9) revisi terhadap prototype yang dikembangkan dan 10) evaluasi sumatif. Penelitian ini dilakukan di Pesantren Modern Al Amanah Junwangi Krian Sidoarjo Jawa Timur dengan melibatkan empat (4) orang konselor dan delapan (8) orang santri yang belajar di jenjang XI Madrasah Aliyah Bilingual yang merupakan satuan pendidikan di bawah naungan pesantren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) hasil uji ahli bimbingan dan konseling ahli media dan ahli pskoterapi Islami dengan menggunakan interrater agreement model menunjukkan kriteria 1 yang berarti bahwa prototipe model konseling motivasional yang dikembangkan dinilai sangat akseptabel 2) hasil uji uji kelompok pengguna menggunakan interrater agreement model menunjukkan kriteria 1 yang berarti bahwa prototipe model konseling motivasional yang dikembangkan dinilai sangat akseptabel dan 3) hasil uji efektifitas menggunakan pre test post test control group design terhadap delapan (8) santri menunjukkan data hasil yang nyata bahwa setelah mengikuti kegiatan konseling motivasional rata-rata santri mengalami peningkatan perilaku belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil skor skala perilaku belajar santri pada kelompok eksperimen meningkat dari kategori rendah menjadi kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa model konseling motivasional efektif untuk meningkatkan perilaku belajar santri. Kebaruan dan kekhasan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah lahirnya konseling motivasional yang bermuatan nilai-nilai spiritual Islami dalam lima (5) langkah utamanya yakni 1) menata niat yang benar 2) mengeksplorasi dan mensyukuri potensi diri 3) menetapkan tujuan dan target 4) mendesain aktivitas yang relevan dan 5) mempertahankan komitmen perubahan. Hasil penelitian ini merekomendasikan saran dan beberapa harapan kepada beberapa pihak. Konselor pesantren diharapkan dapat menggunakan model konseling motivasional sebagai alternatif dalam menangani masalah perilaku belajar santri. Peneliti selanjutnya disarankan menggunakan model konseling motivasional ini sebagai landasan untuk penelitian lanjutan berkaitan dengan penerapan model dengan skala lebih luas atau diterapkan pada masalah psikologis lainnya. Para stakeholder pendidikan dapat mendorong terselenggaranya desiminasi model konseling motivasional ini kepada para konselor di pesantren dan lembaga pendidikan lainnya.