Tesis
Pengaruh suku bunga federal funds rate terhadap indikator ekonomi di Negara Asean-5 / Sidha Belanandra Radise
Abstrak
Kestabilan perekonomian suatu negara merupakan isu yang signifikan bagi semua negara. Ini karena ekonomi yang tidak stabil menyebabkan kesulitan ekonomi seperti tingkat inflasi yang tinggi tingkat pengangguran yang tinggi dan lebih buruk lagi tingkat pertumbuhan ekonomi yang buruk. Ketika ekonomi internasional mengalami gejolak dan tidak terkendali dapat mengakibatkan ketidakstabilan pada indikator ekonomi yang disebut dengan krisis ekonomi dalam hal ini terdapat hubungan yang erat antara krisis ekonomi dengan indikator yang terjadi dalam perekonomian global. Sepanjang sejarah serangkaian krisis keuangan yang dialami oleh banyak negara telah sangat merugikan kinerja ekonomi negara tersebut. Krisis keuangan di Amerika Serikat pada tahun 2008 merupakan salah satu krisis dunia yang berdampak pada negara lain. Itu adalah contoh perubahan keadaan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekonomi global. Hal tersebut dapat terjadi karena Amerika Serikat merupakan cerminan perekonomian dunia serta kontribusi Amerika Serikat terhadap dunia sangat besar. Kinerja ekonomi yang stabil membutuhkan kondisi ekonomi makro yang kondusif. Makroekonomi adalah studi tentang perubahan situasi ekonomi. Bentuk perubahan kondisi ekonomi tersebut dapat meliputi tingginya tingkat inflasi volatilitas suku bunga acuan suatu negara perubahan nilai tukar tingkat pengangguran yang tinggi angka kemiskinan semakin tidak terkendali dan jumlah uang beredar. Fluktuasi moneter di pasar keuangan Amerika ditanggapi oleh The Fed melalui instrumen FFR dimana FFR merupakan suku bunga acuan bagi negara di dunia yang dapat berimplikasi pada kondisi ekonomi di banyak negara. Tak hanya krisis keuangan pada tahun 2008 Pada saat dunia mengalami wabah penyakit dimana wabah tersebut sampai mengguncang ekonomi global yaitu pandemi Covid-19. Selama masa pemulihan ekonomi akibat Covid-19 Federal Reserve Bank of the United States atau The Fed mempertahankan suku bunga nol persen. Pada awal Maret 2020 The Fedd menurunkan kisaran target suku bunga FFR menjadi 0%-0 25% dimana level tersebut adalah level terendah selama krisis keuangan yang pernah terjadi. Oleh sebab itu kebijakan moneter harus secara signifikan menyeimbangkan implikasi makroekonomi dari ketidakstabilan ekonomi global akibat krisis keuangan tahun 2008 maupun krisis global yang disebabkan oleh pandemi serta menggunakan strategi yang tepat dalam menjaga kondisi dari indikator ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh suku bunga FFR terhadap indikator ekonomi di Negara ASEAN-5 serta untuk melihat hubungan jangka pendek dan jangka panjangnya. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Vector Error Correction Model (VECM) pada program Eviews 9. Beberapa pengujian yang digunakan dalam analisis data antara lain Uji Stasioneritas dengan Augmented Dickey Fuller (ADF) Uji Optimum Lag dengan Lag Order Selection Criteria Uji Kointegrasi dengan Metode Johansen Uji Vector Error Correction Model (VECM) Uji Impulse Response Function (IRF) dan Uji Dekomposisi Varians. Hasil uji menunjukkan bahwa indikator Suku Bunga Acuan Simpanan pada jangka panjang dan jangka pendek memiliki pengaruh positif. Indikator Suku Bunga Acuan Pinjaman pada jangka panjang dan jangka pendek memiliki pengaruh negatif. Indikator Ekspor pada jangka panjang memiliki pegaruh positif sedangkan pada jangka pendek memiliki pengaruh negatif. Indikator Impor pada jangka panjang memiliki pengaruh negatif sedangkan dalam jangka pendek memiliki pengaruh positif. Indikator Inflasi pada jangka panjang memiliki pengaruh negatif sedangkan pada jangka pendek memiliki pengaruh positif. Terakhir indikator Nilai Tukar dan Jumlah Uang Beredar pada jangka panjang dan jangka pendek memiliki pengaruh negatif. Maka dari itu otoritas moneter setiap negara diperlukan respon kebijakan yang tepat agar stabilitas ekonomi dengan indikator tersebut dapat selalu terjaga. Seiring berjalannya waktu dimana di akhir tahun 2022 banyak negara yang sudah mulai pulih dari pandemi Covid-19 setiap negara terus mengalami perubahan serta perbaikan dalam makroekonominya dengan indikator yang meliputi Suku Bunga Acuan Neraca Pembayaran yang meliputi Ekspor dan Impor Inflasi Nilai Tukar dan Jumlah Uang Beredar. Awal tahun 2023 World Health Organization (WHO) telah mengumumkan bahwa pandemi secara global telah berakhir yang mengisyaratkan bahwa perekonomian global juga akan kembali pulih dan bergerak menuju angka positif terutama bagi ngera berkembang di Kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN. Guna mencegah adanya tantangan global yang akan terjadi di tahun 2023 pemerintah sebaiknya melakukan stimulus pelancaran perekonomian domestik dengan mendukung perdagangan internasional serta banyak menjalin kerjasama dengan negara lainnya serta bank sentral berperan sebagai otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui instrumen-instrumen kebijakan yang sesuai atau relevan dalam penggunaannya.