Skripsi
Perbedaan tingkat stres kerja pada guru Sekolah Luar Biasa ditinjau dari Kelas yang diampu / Imelda Syafara Hafidz
Abstrak
Guru memiliki tingkat stres dan penyakit psikosomatis yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan lain. Stres pada guru akan berdampak pada hasil mengajar ketidakhadiran kelelahan iklim sekolah dan manajemen perilaku guru serta masalah yang paling serius guru dapat meninggalkan profesinya. Masalah yang dihadapi oleh guru sekolah luar biasa tentunya berbeda dengan masalah pada guru reguler. Tentu saja tantangan yang dialami oleh guru sekolah luar biasa berbeda dengan yang dihadapi oleh guru reguler. Dibandingkan dengan guru reguler guru sekolah luar biasa lebih banyak mengalami stres. Hal ini disebabkan karena anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian dan pelatihan yang lebih dari anak-anak pada umumnya sehingga dapat mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran dan tingkat perbedaan stres kerja guru sekolah luar biasa yang mengampu kelas tunanetra tunarungu tunagrahita tunadaksa dan autis di sekolah luar biasa Kabupaten Pasuruan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional karena penelitian ini hanya dilakukan dalam satu waktu. Metode dalam penelitian ini adalah komparatif yaitu membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Diperoleh sampel sebesar 35 guru yang terdiri dari 3 guru tunanetra 11 guru tunarungu 12 guru tunagrahita 2 guru tunadaksa dan 7 guru autis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan uji Kruskal Wallis diketahui terdapat perbedaan mean rank dimana guru tunanetra mendapatkan hasil 12.33 guru tunarungu mendapatkan hasil 12.27 guru tunagrahita mendapatkan hasil 19.33 guru tunadaksa mendapatkan hasil 15.00 dan guru autis mendapatkan hasil 28.00. Diperoleh nilai Asymp. Sig 0.022 sehingga diartikan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat stres kerja guru Sekolah Luar Biasa ditinjau dari kelas yang diampu. Diketahui bahwa guru autis memiliki tigkat stres kerja paling tinggi dan guru tunarungu memiliki tingkat stres kerja paling rendah. Diharapkan agar sekolah luar biasa di Kabupaten Pasuruan dapat melengkapi fasilitas sekolah dan memberi penghargaan yang sesuai dengan hasil kinerja guru serta dapat memberikan gaji yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab guru karena mengingat dalam penelitian ini yang memberikan kontribusi besar pada stres guru adalah waktu dan fasilitas serta penghargaan.