Disertasi
Transisi berpikir dari konkret menuju abstrak pada konsep pecahan siswa Sekolah Dasar / Mulhamah
Abstrak
Konsep matematika bagi siswa sekolah dasar dapat dibangun melalui penggunaan benda konkret misalnya penggunaan benda konkret dapat membantu siswa memahami konsep pecahan. Konsep pecahan dapat diawali dengan kegiatan memanipulasi benda konkret. Kegiatan manipulasi benda konkret dapat mengembangkan pondasi yang kuat untuk berpikir abstrak. Berpikir konkret dan berpikir abstrak dapat digunakan untuk mengonstruksikan konsep pecahan dimana benda konkret dapat membantu siswa berpikir dalam mengungkapkan konsep pecahan. Konsep pecahan yang perlu diketahui siswa sekolah dasar yaitu memahami konsep pecahan sebagai bagian dari keseluruhan pada suatu benda nyata. Contoh siswa dapat berpikir konkret yaitu jika siswa diberikan dua buah apel kemudian dibagi kepada empat orang temannya maka masing-masing temannya memperoleh setengah dari apel tersebut. Sedangkan berpikir abstrak pada siswa sekolah dasar ditunjukkan dengan pemahaman konsep pecahan menggunakan simbol bilangan. Pada saat membandingkan pecahan siswa sudah tidak menggunakan benda konkret melainkan menggunakan simbol. Contoh siswa berpikir abstrak yaitu ketika siswa dapat membedakan nilai lebih besar dari nilai melalui konsep bahwa merupakan satu bagian dari satu unit yang dibagi dua bagian yang sama sedangkan merupakan 1 bagian dari satu unit yang dibagi 4 bagian yang sama. Transisi berpikir dari konkret ke abstrak pada konsep pecahan dapat ditunjukkan menggunakan pengalaman yang diwujudkan menjadi simbol yang dipikirkan. Konsep perwujudan dapat ditunjukkan secara konseptual berdasarkan refleksi pada benda konkret yang awalnya dirasakan di dunia nyata (seperti melipat menggunting membagi dan memotong). Selanjutnya benda konkret tersebut dapat dibayangkan dalam pikiran. Sedangkan pada konsep pecahan berpikir abstrak dapat dibangun dari dunia perwujudan melalui tindakan (seperti menggambar mempartisi mengarsir dan menghitung) menjadi konsep pecahan yang dipikirkan (seperti menentukan representasi pecahan membandingkan simbol pecahan dan memanipulasi bilangan pada konsep pecahan). Representasi simbolis berfungsi sebagai proses yang harus dilakukan agar membangun konsep pecahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transisi berpikir dari konkret ke abstrak pada pembelajaran konsep pecahan siswa sekolah dasar. Komponen transisi berpikir yang dipergunakan dalam penelitian ini mengacu pada komponen yang tunjukkan oleh Giannakopaulus (1991) dan Berlin amp White (1986) yaitu manipulasi konkret transformasi internalisasi dan simbol. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian eksploratif. Peneliti menggunakan penelitian eksploratif karena peneliti menelusuri transisi berpikir yang terjadi pada siswa sekolah dasar dalam membangun konsep pecahan. Calon subjek pada penelitian ini merupakan siswa kelas empat sebanyak 83 orang. Subjek penelitian dipilih berdasarkan proses pembelajaran yang diikuti siswa dari konkret ke abstrak. Selanjutnya peneliti mengeksplorasi transisi berpikir dari berpikir konkret ke abstrak pada saat proses pembelajaran dan penyelesaian masalah pecahan. Hasil penelitian diperoleh berdasarkan transisi berpikir dari konkret ke abstrak pada saat pembelajaran dan menyelesaikan tugas pecahan. Transisi pembelajaran pada materi pengenalan konsep pecahan dan perbandingan pecahan yaitu (1) memanipulasi benda konkret proses berpikir yang terjadi yaitu memikirkan strategi membagi benda konkret dengan cara simetris dan non simetris menelaah sifat keterbagian pada benda konkret yang digunakan dan menentukan konsep bagian dari keseluruhan pada benda konkret (2) membuat hubungan proses yang dilakukan yaitu menentukan strategi mengubah benda konkret menjadi gambar pada dimensi dua mengaitkan bentuk benda konkret dengan pola gambar yang sesuai menentukan strategi membagi gambar berdasarkan cara melipat kertas dan menentukan konsep bagian dengan mengarsir gambar (3) menentukan simbol bilangan proses yang dilakukan yaitu mengaitkan pola gambar dengan simbol bilangan yang dihasilkan dan menentukan simbol bilangan berdasarkan pola gambar dan bentuk konkret yang dihasilkan (4) menentukan makna proses yang dilakukan yaitu mengaitkan makna bilangan atas (pembilang) sebagai bagian yang diarsir dan mengaitkan makna bilangan bawah (penyebut) sebagai jumlah pembagian pada gambar dan (5) membandingkan pecahan proses yang dilakukan yaitu memikirkan strategi membandingkan pecahan menentukan strategi yang digunakan untuk membandingkan pecahan menentukan perbandingan pecahan dengan strategi penyederhanaan pecahan dan menentukan perbandingan pecahan melalui gambar. Transisi berpikir dari konkret ke abstrak diperoleh dua kelompok yaitu relasional-multistruktural dan relasional-unistruktural. Pada pemahaman konsep kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan dalam mengonstruksikan konsep. Kelompok relasional-unistruktural mengonstruksikan konsep pecahan hanya dengan cara mempartisi. Sedangkan kelompok relasional-multistruktural mengonstruksikan konsep pecahan dengan tiga aksi mental yaitu dengan mempartisi mengeluarkan dan mengulang baik pada saat menggunakan benda konkret gambar dan simbol bilangan. Pada komponen manipulasi bilangan kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan dalam menentukan strategi untuk menemukan perbandingan dua pecahan. Kelompok relasional-unistruktural membandingkan dua pecahan dengan bantuan pola gambar yang dihasilkan. Sedangkan kelompok relasional-multistruktural membandingkan dua pecahan dengan cara menyederhanakan pecahan dan dapat pula menggunakan pola gambar dalam membandingkan dua pecahan.