UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Disertasi

Ideologi gender dalam wacana Kelas / Ni Wayan Eminda Sari

Sari, Ni Wayan Eminda - Nama Orang;

Abstrak
Sari Ni Wayan Eminda. 2020. Ideologi Gender dalam Wacana Kelas. Disertasi Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Dawud M.Pd. (II) Prof. Dr. Ah. Rofi rsquo uddin M.Pd. (III) Dr. H. Imam Agus Basuki M.Pd. Kata Kunci ideologi gender wacana kelas keyakinan gender Wacana kelas berpusat pada kompetensi komunikatif dan bahasa yang diperoleh ketika guru dan siswa terlibat aktif berinteraksi untuk berkomunikasi dengan bahasa verbal. Salah satu unsur yang memberikan sumbangan terbangunnya wacana kelas adalah ideologi gender. Ideologi gender merupakan keseluruhan hasil produksi ide dan makna dari sebuah sistem berpikir yang digunakan untuk mengatur aktivitas gender dan dikontrol secara sosial dan kultural. Ideologi gender terkait dengan pandangan yang melandasi guru dan siswa dalam menetapkan komitmen sosial dalam praktik belajar-mengajar. Ideologi gender salah satunya dipresentasikan dalam wujud paparan bahasa. Paparan bahasa merupakan bagian yang cukup dominan dalam wacana kelas yang mengandung sistem keyakinan dan praktik-praktik ideologi gender. Wacana kelas memuat maksud tersembunyi sehingga lawan bicara dapat dipengaruhi oleh ideologi yang ingin disampaikan pembicara baik itu dilakukan guru maupun siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ideologi gender dalam wacana kelas. Fokus penelitian ini yakni (1) perwujudan ideologi gender (3) pemaknaan ideologi gender dan (3) penerapan ideologi gender dalam wacana kelas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan ancangan analisis wacana kritis dan teori gender. Data penelitian ini berupa wacana kelas yang dilakukan oleh guru dan siswa yang kemudian ditranskripsi menjadi paparan tulis dalam wujud unit-unit percakapan yang merepresentasikan ideologi gender dalam wacana kelas di sekolah menengah pertama. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan observasi. Dalam pengumpulan data peneliti bertugas sebagai instrumen kunci dilengkapi dengan panduan observasi panduan dokumentasi dan alat perekam elektronik. Analisis data secara keseluruhan dilakukan dengan mengikuti model analisis wacana Sara Mills. Analisis data mencakup tiga dimensi yaitu analisis wacana analisis pemrosesan dan analisis sosial yang kemudian dimodifikasi menjadi deskripsi bahasa interpretasi dan eksplanasi. Untuk memverifikasi temuan penelitian dilakukan melalui triangulasi teori dan pakar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perwujudan ideologi gender dalam wacana kelas meliputi dua hal yaitu wujud verbal dalam tataran kata dan kalimat. Pada tataran kata ditemukan data berupa penggunaan kata seksis yang meliputi kata simetri berpemarkah kata asimetri aditif kata asimetri elipsis kata asimetri stereotipe dan asimetri derogasi. Kata-kata asimetri membuktikan adanya ketidaksetaraan gender laki-laki dan perempuan dan selalu menjadikan pihak laki-laki sebagai superordinat serta menjadikan pihak perempuan menjadi subordinatnya. Temuan data berupa penggunaan kata karakter dan kata perilaku juga menunjukkan adanya pembedaan gender laki-laki dan perempuan. Hal itu terjadi berdasarkan pandangan tentang stereotipe gender yang akan menimbulkan bias gender pada identitas peran dan status gender. Wujud verbal pada tataran kalimat meliputi penggunaan kalimat deklaratif kalimat imperatif dan kalimat interogatif. Dalam perwujudan ideologi gender kalimat digunakan oleh pembicara dalam hal ini guru dan siswa sebagai sebuah sarana untuk menyampaikan maksud dan makna tertentu yang berorientasi pada gender. Pemaknaan ideologi gender dalam wacana kelas meliputi ideologi gender sebagai sistem keyakinan dan ideologi gender sebagai sistem tindakan. Ideologi gender sebagai sistem keyakinan didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan dan opini tentang laki-laki dan perempuan dan tentang kualitas yang diakui dari maskulinitas dan feminitas. Ideologi gender sebagai sistem keyakinan meliputi sistem pemikiran terkait dengan identitas peran dan kedudukan gender. Ideologi gender sebagai sistem tindakan yakni ideologi gender sebagai landasan dalam bertindak. Pemaknaan ideologi sebagai sistem tindakan mencakup proses bertindak yang mendefinisikan laki-laki dan perempuan berbeda dalam hal berinteraksi secara ekstensif. Keyakinan tentang perbedaan gender digabungkan dengan hubungan yang tidak setara secara struktural untuk melanggengkan keyakinan identitas peran dan status serta mengarahkan laki-laki dan perempuan untuk menciptakan kembali ideologi gender dalam interaksi sehari-hari. Pemaknaan ideologi gender dalam wacana kelas sebagai sistem tindakan meliputi ideologi gender dalam perintah ideologi gender dalam larangan ideologi gender dalam saran dan ideologi gender dalam tindak ekspresif. Peranan pemberi wacana dengan otoritas yang disandangnya topik wacana dan keyakinan tertentu dalam wacana yang dapat menjadikan wacana tersebut diterima oleh orang lain dan dapat menghadirkan tindakan sesuai konteks wacana tersebut. Penerapan ideologi gender dalam wacana kelas direpresentasikan dalam proses penanaman nilai edukatif gender yang meliputi nilai kultural nilai intelektual nilai emosional nilai sosial nilai spiritual dan nilai moral. Nilai selalu berhubungan dengan kebaikan berguna dan berbudi luhur sehingga nilai dipandang sebagai sesuatu yang dianggap baik dan bermanfaat. Nilai dapat mengatur tindakan manusia. Oleh karena itu nilai adalah tindakan perilaku dan sikap yang menentukan bagaimana cara memandang diri sendiri dan bagaimana cara memandang dan memperlakukan orang lain. Berdasarkan hal di atas saran-saran disampaikan pada pihak berikut ini. Pertama guru hendaknya menghindari adanya unsur ketidaksetaraan gender dalam proses pembelajaran yang dilakukan terutama pada pihak perempuan. Kedua pengampu matakuliah wacana hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam mewujudkan wacana kelas yang inklusif gender. Pengampu matakuliah hendaknya lebih menekankan pada pilihan kata kalimat dan proses interaksi yang tidak mengunggulkan salah satu gender mahasiswa. Ketiga peneliti selanjutnya hendaknya lebih melengkapi penelitian ini denan melakukan analisis pada ranah struktur wacana. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah ada pelaku komunikasi yang mengontrol giliran dalam sebuah percakapan di kelas. Keempat pengambil kebijakan hendaknya penelitian ini menjadi bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan dunia pendidikan yang diharapkan selalu memikirkan sensitivitas gender sehingga akan memunculkan kesetaraan gender.


Informasi Detail
DDC
Rd 499.221014 SAR i
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, 2020.
Deskripsi Fisik
xvii, 218 lembar : ilus. ; 30 cm
Bahasa
Indonesia
No Reg
00130/RD/23
Edisi
Desertasi (Pasca sarjana) - Universitas Negeri Malang 2020
Subjek
1. BAHASA INDONESIA - TUTURAN
2. BAHASA INDONESIA - WACANA KELAS - IDEOLOGI GENDER
3. INDONESIAN - SPEECH

Pembimbing
1. Prof. Dr. Dawud, M.pd;2. Prof. Dr. Ah. Rofi'uddin, M.pd;3. Dr. Imam Agus Basuki, M.pd
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik