UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Tesis

Dark tourism: narasi kelam konflik Aceh dalam novel arafat Nur dan relevansinya dengan pariwisata sejarah / Alpi Anwar Pulungan

Pulungan, Alpi Anwar - Nama Orang;

Abstrak
Kajian ini dilakukan didasarkan pada pentingnya sastra sebagai media pengingat dan objek kenang-kenangan. Narasi kelam konflik Aceh terdokumentasi dengan baik dalam novel-novel Arafat Nur sehingga dapat dijadikan sebagai kacamata berbeda untuk melihat narasi yang terdapat dalam buku sejarah dan monumen yang telah lebih dahulu ada. Novel-novel karya Arafat Nur mengungkapkan peristiwa konflik Aceh dari sudut pandang korban dan pelaku telah memenangkan banyak penghargaan serta membentuk sebuah periodisasi konflik Aceh. Penelitian ini berfokus pada (1) kekerasan terhadap masyarakat sipil pra-MoU dan Pasca-MoU Helsinki dalam novel Arafat Nur (2) potret kehidupan eks kombatan GAM pasca-MoU Helsinki (3) pewarisan luka dalam novel Arafat Nur dan (4) relevansi narasi kelam konflik Aceh dalam novel Arafat Nur dengan pariwisata sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif khususnya penelitian naratif. Teori yang digunakan adalah sosiologi sastra Alan Swingewood yang menganggap sastra sebagai cermin atau refleksi dari kehidupan masyarakat. Data dalam penelitian ini adalah narasi dialog dan monolog dalam bentuk kata kalimat dan paragraf yang terdapat dalam lima novel Arafat Nur yang memuat potret konflik Aceh dan kehidupan eks kombatan GAM. Kelima novel tersebut adalah (1) Lampuki berlatar di kampung Lampuki tahun 1989-2003 (2) Seumpama Matahari berlatar di Paloh tahun 2001 (3) Bayang Suram Pelangi berlatar di Meurawoe tahun 2003 (4) Kawi Matin di Negeri Anjing berlatar di Kareung tahun 1983-2005 dan (5) Tanah Surga Merah berlatar di Kota Lamlhok tahun 2014. Data kemudian dikumpulkan dengan teknik kepustkaan baca (komprehensif kritis dan kreasi) dan catat. Analisis dilakukan dengan reduksi data penyajian data dan penarikan simpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan triangulasi teori dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengungkapkan adanya kekerasan terhadap masyarakat sipil selama konflik Aceh yaitu pemerkosaan pembunuhan penyiksaan penculikan penembakan dan penjarahan. Berbagai kekerasan tersebut merupakan konflik spiral (lingkaran setan) antara GAM dan Pemerintah Indonesia yang ditandai dengan banyaknya aksi balas dendam. Masyarakat sipil yang berada dalam lingkaran tersebut menjadi korban dan penerima. Sementara tentara (Pemerintah Indonesia) dan gerilyawan GAM (GAM) menjadi musuh dan pahlawan palsu yang mencoba menciptakan peace making dan peace keeping. Berbagai kekerasan tersebut telah menciptakan suasana mencekam (faktor keamanan) dan kemiskinan (faktor ekonomi) yang bertujuan untuk menundukkan dan menghancurkan GAM dan masyarakat Aceh. Mayoritas korban pembunuhan adalah laki-laki yang menjadi kepala keluarga dan generasi penerus serta korban pemerkosaan adalah perempuan sebagai simbol kebanggaan suatu bangsa. Ketiadaan laki-laki dan perempuan menyebabkan matinya kehidupan. Setelah adanya MoU Helsinki terdapat kontestasi politik yang terjadi antarsesama eks kombatan GAM yaitu intimidasi teror pelanggaran larangan kampanye kampanye hitam pembakaran penembakan dan kekerasan fisik. GAM yang bertransformasi menjadi partai politik menjadi pahlawan palsu bagi kemajuan dan perdamaian di Aceh. Tidak hanya itu kontestasi politik tersebut juga menjadi potret Aceh apabila merdeka dan dipimpin oleh elite-elite atas GAM. Potret kehidupan eks kombatan GAM dikelompokkan menjadi tiga yaitu elite atas elite menengah dan elite bawah yang dilihat pada aktivitas sosial dan aktivias politik. Kehidupan eks kombatan GAM yang ditemukan mengungkapkan bahwa reintegrasi ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat mengalami banyak kegagalan dan kekurangan. Ketidakefektifan reintegrasi tersebut pada akhirnya berkaitan erat dengan pengangguran kriminalitas hubungan sosial dan situasi politik yang buruk. Pewarisan luka konfik Aceh dilakukan oleh generasi pertama kepada generasi 1.5. Transmisi memori kelam tersebut banyak terjadi di lingkup keluarga dan lewat afiliasi yaitu lewat benda peninggalan seperti senjata dan jalan. Tidak ditemukan adanya pewarisan luka kepada generasi kedua atau generasi 2.5 dan seterusnya. Hal tersebut mengungkapkan bahwa pewarisan luka kelam konflik Aceh sudah terputus dan sedikit kemungkinan konflik lanjutan yang disebabkan dendam dan trauma terjadi. Berbagai tempat dan peninggalan konflik Aceh yang digambarkan dalam novel Arafat Nur dapat dimanfaatkan untuk pariwisata sejarah dan dikembangkan menjadi sebuah museum atau laboratorium konflik dan perdamaian. Tempat dan benda peninggalan tersebut adalah pos jaga rumah penduduk peninggalan senjata KTP Merah-Putih dan kantor partai politik lokal.


Informasi Detail
DDC
Rt 899.2213 PUL d
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, 2023.
Deskripsi Fisik
xvi, 188 lembar : ilus. ; 30 cm
Bahasa
Indonesia
No Reg
00698/RT/23
Edisi
Tesis (Pascasarjana)--Universitas Negeri Malang. 2023
Subjek
1. NOVEL INDONESIA - PARINISATA SEJARAH
2. NOVEL INDONESIA - KONFLIK ACEH
3. INDONESIAN NOVELS - HISTORICAL TOURISM

Pembimbing
1. Dr. Taufik Dermawan, M.hum;2. Dr. Azizatus Zahro', S.pd, M.pd
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik