Skripsi
Ketahanan luntur warna alami daun putri malu (Mimosa pudica) pada kain katun primis dengan teknik jumputan menggunakan fiksator kapur sirih, tunjung, dan tawas / Larassati Dwi Rahmadhani
Abstrak
Banyak orang yang sadar terhadap dampak negatif dari pewarnaan sintetis beralih menggunakan pewarna alami. Salah satunya adalah daun putri malu. Larutan pewarna diperoleh dengan mengekstraksi daun putri malu dengan tahapan proses sebagai berikut scouring mordanting ekstraksi penjumputan penyelupan dan fiksasi. Setelah proses pewarnaan dilakukan pencucian. Permasalahan yang dihadapi yaitu bagaimana hasil warna dan ketahanan luntur terhadap pencucian sabun daun putri malu pada kain katun primis dengan teknik jumputan menggunakan fiksator kapur sirih tunjung dan tawas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Hasil eksperimen menunjukkan hasil warna yang berbeda-beda. Warna dengan fiksator kapur sirih menghasilkan warna cardboard dan sturdy brown serta pada motif jumputan mengarah ke warna avenue tan. Warna dengan fiksator tunjung menghasilkan warna tricorn black dan caviar serta pada motif jumputan mengarah ke warna Gray matters. Warna dengan fiksator tawas menghasilkan warna kaffee dan nuthatch serta pada motif jumputan mengarah ke warna warm pewter. ketahanan luntur warna terhadap pencucian sabun dengan frekuensi 3 kali pengujian bahwa fiksator kapur sirih menghasilkan kategori baik.