Skripsi
Studi fenomena minat siswa memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dii smp / Nanda Putriana
Abstrak
Bimbingan dan konseling memiliki posisi penting dalam memfasilitasi perkembangan siswa. Namun ketika penyelenggaraannya tidak selalu berjalan lancar seperti siswa tidak tertarik mengunjungi ruang Bimbingan dan Konseling ketakutan dan gugup ketika dipanggil untuk bertemu konselor serta tidak optimal pemanfaatan layanan Bimbingan dan Konseling. Ditinjau dari sisi orang tua juga kurang memiliki pemahaman dan kesadaran mendukung anak mengakses layanan BK. Idealnya siswa memiliki minat memanfaatkan layanan BK karena dapat membantu siswa memenuhi tugas perkembangan masa remaja. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan minat siswa unsur yang mempengaruhi minat upaya konselor menumbuhkan minat unsur pendukung dan penghambat beserta tindak lanjutnya terhadap layanan Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini digunakan mengevaluasi manajemen program BK untuk peningkatan mutu Bimbingan dan Konseling ke depannya. Rancangan penelitian studi fenomenologi dengan menggunakan sumber data snowball sampling yaitu 7 (tujuh) siswa kelas VII hingga IX dan 5 (lima) pihak sekolah terdiri dari konselor kepala sekolah wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dan wali kelas. Prosedur pengumpulan data wawancara observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan pengumpulan data reduksi penyajian dan kesimpulan. Keabsahan data yang diperoleh diuji melalui triangulasi teknik transferabilitas reabilitas dan obyektifitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan bimbingan klasikal disukai banyak siswa karena penyajian layanan yang kreatif dan motivasi mengembangkan diri dan membantu orang lain dengan memanfaatkan ilmu yang telah diperoleh dari layanan tersebut. Sedangkan konseling tidak disukai akibat persepsi negatif ketidakmenarikan penampilan fisik konselor perilaku negatif konselor maupun para guru ruang BK tidak layak norma maskulinitas stigma negatif temen sebaya daya resiliensi dan hubungan parasosial yang dimiliki siswa. Terakhir siswa kurang menyukai bimbingan kelompok dan layanan informasi (instagram dan rak buku) karena tidak mengetahui kehadiran dua layanan ini di sekolah penyajian konten instagram terlalu monoton sekaligus tidak konsisten mengunggah informasi terbaru tidak suka belajar melalui buku (tidak ada motivasi) dan perilaku cuek dari pustakawan. Konselor berupaya menumbuhkan minat dengan merancang program BK sesuai kondisi siswa membangun hubungan harmonis dengan siswa serta berkolaborasi dengan para guru dan orang tua dalam mengoptimalkan pembimbingan. Unsur pendukung berupa keteguhan konselor mengemban tugas dukungan sosial teman sejawat terdekat dan siswa mulai berpersepsi positif terhadap BK. Beberapa hambatan berasal dari internal konselor (ketidakmampuan menguasai teknologi) dan eksternal (personel sekolah fasilitas anggaran dana akses pelatihan atau seminar pengembangan profesionalitas dan orang tua). Konselor menindaklanjuti melalui pengajuan kebijakan baru tentang bimbingan klasikal kunjungan rumah seminar pengasuhan anak dan kerjasama teman sejawat akan tetapi belum mampu menyelesaikan semua hambatan. Saran bagi kepala sekolah lebih berkonstribusi aktif dalam penyusunan pelaksanaan dan evaluasi program BK secara utuh-menyeluruh. Tidak kalah pentingnya konselor dapat menggunakan temuan penelitian ini sebagai dasar perbaikan manajemen program BK.