Skripsi
Proses pengambilan keputusan dalam memilih lembaga pendidikan nonformal (studi kasus terhadap wali santri di Pondok Pesantren Al Ishlah Kabupaten Lamongan) / Elfira Alma Sinfaniyah
Abstrak
RINGKASAN Sinfaniyah Elfira Alma. 2022. Proses Pengambilan Keputusan dalam Memilih Lembaga Pendidikan Non Formal. Skripsi Departemen Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sri Wahyuni S.Pd M.Pd. (II) Dr. R. Anggia Listyaningrum S.Pd. M.Pd. Kata Kunci motivasi orang tua pondok pesantren karakter anak Penelitian ini dilatar belakangi atas dasar banyaknya orang tua yang prihatin terhadap permasalahan mengenai karakter telah menjadi sorotan publik terutama pada anak-anak. Dimana banyak sekali anak-anak yang melakukan tindakan yang dinilai tidak terpuji seperti kasus mengenai kekerasan pencurian penyalahgunaan obat-obat terlarang dan pergaulan bebas. Selain itu banyak anak sekarang yang sulit untuk jujur terhadap orang tua. Akar dari permasalahan tersebut yaitu hilangnya karakter pada anak. Hal ini yang mengakibatkan banyak orang tua memilih Pondok Pesantren untuk membentuk karakter anak termasuk pada karakter religius anak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui motivasi orang tua dalam memilih pondok pesantren sebagai sarana untuk membentuk karakter anak dan juga untuk mengetahui bagaimana proses orang tua dalam memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah sebagai tempat untuk membentuk karakter anak. Peneliti memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah karena Pondok Pesantren Al-Ishlah terkenal dengan pondok pesantren yang bagus dengan pendidikan karakter yang diterapkan. Informasi dan data dikumpulkan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui teknik wawancara mendalam dengan beberapa sumber yang telah dipilih dan juga observasi. Hasil dari penelitian yang diperoleh yaitu (1) proses orang tua dalam memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah yaitu dengan mencari ataupun menerima informasi terlebih dahulu. Informasi tersebut didapatkan melalui banyak cara yaitu melalui internet tetangga sekitar dan juga alumni. Dalam proses tersebut ibu yang sekaligus wali santri berdiskusi terlebih dahulu dengan suami ataupun dengan anak sebelum memutuskan untuk memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah. (2) motivasi orang tua terdiri dari 2 jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik beberapa orang tua termotivasi untuk memondokkan anaknya yaitu karena ingin anaknya menjadi orang yang sholeh dan taat pada peraturan agama mandiri ingin menjadi hafidz Quran dan juga menginginkan anaknya menjadi anak yang pintar dalam berbahasa arab dan bahasa inggris. Selain itu juga pengaruh lingkungan yang buruk mengakibatkan para orang tua khawatir jika anak mereka terpengaruh oleh lingkungan tersebut. Saran dari penelitian ini adalah (1) Orang tua diharapkan tetap memberikan ajaran agama di rumah lebih sering memantau anak dengan cara menjenguk atau dengan menghubungi anaknya menggunakan media komunikasi seperti menelepon untuk mengetahui apa saja perkembangan yang terjadi pada anaknya dan memberikan suport agar anak lebih semangat dalam melakukan pembelajaran maupun kegiatan yang ada di Pondok. (2) Orang tua tetap memberikan pendidikan pada anaknya di rumah walaupun anaknya telah di Pondokkan agar anak dapat mengamalkan pendidikan agama dan selalu berpikir agama adalah hal yang penting untuk dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.