Skripsi
Karakteristik dan aktivitas antibakteri sabun padat transparan berdasarkan jenis minyak serta pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap sifat transparansi sabun / Adnistya Fermala
Abstrak
Sabun padat transparan banyak dikembangkan karena menarik perhatian konsumen dengan fisiknya yang tembus pandang. Bahan utama dalam pembuatan sabun padat adalah minyak yang direaksikan dengan alkali basa yaitu NaOH. Sabun padat transparan memiliki fisik dan cara pembuatan yang berbeda dengan sabun padat tidak transparan. Sukrosa menjadi salah satu bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan sabun padat transparan untuk meningkatkan transparansinya. Pemilihan bahan baku mempengaruhi karakter dan sifat antibakteri sabun yang dihasilkan karena kandungan asam lemak dan berbagai macam kandungan lain dalam minyak yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sukrosa terhadap transparansi serta pemilihan jenis minyak terhadap karakter dan sifat antibakteri pada sabun padat transparan. Penelitian dilakukan dengan tahapan variasi sukrosa dalam pembuatan sabun padat minyak kelapa untuk mengetahui efektivitas penambahannya terhadap transparansi sabun. Formula terbaik yang didapatkan digunakan dalam sintesis sabun transparan dengan berbagai minyak nabati yaitu minyak kelapa minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari. Sabun yang dihasilkan diuji kualitatif dan kuantitatif di Laboratorium Penelitian Kimia Universitas Negeri Malang serta uji antibakteri yang dilakukan di Laboratorium Mineral amp Material Maju Sentral Universitas Negeri Malang. Berbagai pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah sabun yang dihasilkan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan SNI dan mengetahui efektivitas antibakterinya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan sukrosa mempengaruhi transparansi sabun dimana formula terbaik adalah formula 3. Bahan baku minyak yang berbeda menghasilkan transparansi dan karakter yang berbeda dimana minyak kelapa menghasilkan sabun dengan transparansi terbaik. Dari ketiga minyak yang digunakan menghasilkan sabun yang memenuhi standar SNI sabun meliputi pH stabilitas busa kadar air dan kadar fraksi tak tersabunkan. Melalui uji antibakteri ketiga sabun menghasilkan zona bening yang artinya sabun bersifat antibakteri. Dari ketiga sabun tersebut sabun dari bahan utama minyak kelapa memiliki sifat antibakteri yang paling tinggi.