Tesis
Evaluasi kemampuan kerja karyawan penyandang tunarungu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik di pabrik rokok PT. Cakra guna cipta Kabupaten Malang / Rahajeng Ratnayanti
Abstrak
Sekolah Luar Biasa dipandang sebagai sebagai suatu institusi formal yang bertanggungjawab akan kualitas sumber daya manusia penyandang tunarungu agar dapat diterima di pasar kerja terutama industri padat karya. Proses belajar menghasilkan kualitas sumber daya manusia dalam aspek kognitif afektif dan psikomotorik yang mempengaruhi kemampuan kerja. Adapun kemampuan kerja tersebut akan berdampak pada tingkat kepuasan perusahaan yang mepekerjakan mereka. Dengan kemampuan kerja yang memuaskan maka karyawan tersebut akan memiliki keberlangsungan dalam pekerjaannya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan memberi peluang penyandang tunarungu lain untuk terekrut dalam pekerjaan sejenis. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif studi kasus jenis eksploratori dengan tipe desain penelitian studi kasus instrumental. Hal ini dikarenakan hasil temuan pada kasus tersebut dapat dijadikan sebagai instrument untuk mengevaluasi kualitas implementasi kurikulum di Sekolah Luar Biasa agar sesuai dengan harapan pasar kerja. Berdasarkan hasil penelitian jika mengacu pada lingkungan kerja karyawan tunarungu yang bekerja di pabrik rokok cakra haruslah mampu menulis lamaran kerja menghadapai sesi wawancara dapat mengikuti arahan dari mandor membaca dan menandatangani kontrak kerja. Lemahnya kemampuan literasi pada karyawan tunarungu menyebabkan mereka kurang memahami kontrak. Kendala komunikasi reseptif terjadi saat sesi wawancara brifing kerja oleh pengawas dan berinteraksi dengan karyawan lainnya. Kendala akibat lemahnya kemampuan komunikasi ekspresif contohnya tidak tau cara risain cara mengajukan cuti dan saat berinteraksi dengan atasan tidak menggunakan kata sapaan yang tepat. Meskipun mereka memiliki kendala komunikasi. Dalam hal kedisiplinan mereka jauh lebih disiplin dibanding karyawan normal. Secara sosial mereka mampu menjalin hubungan yang baik dengan sesama rekan sejawat. Dalam hal ketrampilan kerja karyawan tunarungu memiliki produktivitas lebih tinggi daripada karyawan yang normal. Oleh karena produktivitasnya perusahaan bersedia merekrut tenaga kerja tunarungu lebih dari 1% dari total karyawan di perusahaan. Hasil penelitian di atas sependapat dengan gagasan Siregar dalam Efendi (2005) menyampaikan bahwa penyandang tunarungu menunjukan kemampuan dalam bidang motorik dan mekanik serta intelegensi konkret tetapi memiliki keterbatasan dalam intelegensi verbal dan kemampuan akademik. Namun hal ini tidak sependapat dengan Myklebust dalam Bintoro (2010) dimana ketunarunguan mengakibatkan keterasingan dalam kehidupan sehari-hari. Dimana menurut hasil penelitian di atas lingkungan tempat penyandang tunarungu bekerja bersikap toleran terhadap mereka.