Skripsi
Kiai, otoritas keagamaan dan respon terhadap tradisi ngumbah keris di Jember / Faline Izza Nisa\'u
Abstrak
Tradisi ritual suro ngumbah keris dianggap sebagai media tolak bala rsquo dengan menggunakan berbagai rangkaian ritual dengan mengucap mantra tertentu dan sesajen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana respon kiai langgar dalam menanggapi ritual ngumbah keris menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling guna menentukan informan serta melakukan observasi wawancara juga dokumentasi untuk keperluan pengumpulan data. Hasil yang diperoleh yakni adanya respon pro dari kiai langgar berlatar belakang aliran Nahdlatul Ulama dengan alasan tradisi ngumbah keris tersebut sah-sah saja asalkan niatnya tidak untuk disembah melainkan menjadikannya sebuah perantara untuk meminta pertolongan kepada Allah. Sedangkan respon kontra diberikan oleh kiai langgar yang berlatar belakang Muhammadiyah dimana tujuan utamanya adalah mengembalikan islam dengan sebenar-benarnya sehingga kegiatan apapun yang tidak ada dalam al-qur rsquo an dan hadist seperti tradisi ngumbah keris yang dilakukan di bulan suro atau muharram tersebut tergolong tahayul dan bid rsquo ah. Beberapa tahap dalam ngumbah keris membuat aliran Muhammadiyah akhirnya menimbulkan proses purifikasi agama yang mana hal tersebut dianggap tidak bermasalah oleh aliran Nahdlatul Ulama apabila tidak menjadikan keris sebagai benda yang dituhankan. Adanya pengakuan atas keotentikan dalam diri kiai langgar merupakan sebuah keberlangsungan teori otoritas kharismatik yang melekat dalam diri seorang pemimpin dengan ditandai oleh pengakuan dan kepatuhan masyarakat dalam menjalankan kewajibannya.