Tesis
Pengembangan modul berbasis kearifan lokal leva nuang untuk pembelajaran IPAS siswa Kelas iv SD Inpres Lamalera. / Erwin Simon Paulus Olak Wuwur
Abstrak
Pendidikan yang berkualitas memiliki peran sentral dalam memajukan masyarakat dan melestarikan kearifan lokal serta budaya tradisional. Kearifan lokal mencakup pengetahuan budaya dan nilai-nilai yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas lokal. Kearifan lokal menjadi relevan karena dapat mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam proses pembelajaran memungkinkan siswa untuk lebih menghargai dan memahami lingkungan serta budaya mereka serta mempromosikan pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya yang kaya. Modul berbasis kearifan lokal mampu memberikan konteks yang lebih berarti bagi siswa karena mereka dapat mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman dan lingkungan sekitar mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan motivasi siswa dalam belajar tetapi juga memperkuat identitas dan rasa memiliki terhadap budaya mereka sendiri. Oleh karena itu Tujuan dari penelitian ini yaitu menghasilkan modul berbasis kearifan lokal leva nuang untuk pembelajaran IPAS siswa kelas IV SD Inpres Lamalera yang layak menarik praktis dan efektif. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model ADDIE dengan teknik analisis data yakni kualitatif dan kuantitatif. Produk yang telah dilakukan validasi oleh ahli materi media dan ahli praktisi pembelajaran selanjutnya dilakukan uji coba lapangan untuk mengetahui apakah produk yang dikembangkan layak untuk digunakan atau tidak. Analisis data yang digunakan yaitu bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar observasi penyebaran angket dan tes. Penelitian dan pengembangan ini telah menghasilkan produk yang telah diverifikasi dan dapat digunakan dengan validitas yang kuat. Hasil validasi oleh ahli materi terhadap modul yaitu 93% sementara ahli media mencapai 89% dan ahli praktisi pembelajaran 96.6%. Secara keseluruhan diperoleh hasil validasi sebesar 92.8% yang menunjukan bahwa modul sangat layak digunakan. Pada tingkat kepraktisan dan kemenarikan modul diperoleh dari respon siswa pada uji coba lapangan dengan skor 91%. Hasil ini menunjukan bahwa modul yang dikembangkan menarik dan praktis untuk digunakan sebagai sumber belajar. Sebelum menggunakan produk yang dikembangkan hasil belajar (pretest) siswa memiliki rata-rata sebesar 68 dengan persentase ketuntasan yaitu 40% atau 6 siswa saja yang dinyatakan tuntas atau mencapai KKM. Namun setelah menggunakan produk ini rata-rata hasil belajar siswa pada posttest 1 secara klasikal meningkat menjadi 88. Dengan persentase 100% (15 siswa) mencapai KKM dengan hasil uji N-Gain menunjukan rata-rata 0.63 dengan kategori sedang. Dan pada posttest 2 rata-rata siswa mencapai 85 atau menurun dari hasil posttest 1. Dengan persentase 93% (14 siswa) tuntas atau mencapai KKM dengan hasil N-Gain 0.54 dengan kategori sedang. Dari hasil ananlisis antara nilai pretest dan posttest 1 dan posttest 2 menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan dalam hasil belajar ketika menggunakan modul berbasis kerifan lokal leva nuang untuk pembelajaran IPAS siswa kelas IV SD Inpres Lamalera. Berdasarkan hasil uji coba lapangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan memenuhi standar kelayakan kepraktisan dan keefektifan untuk digunakan sebagai sumber belajar di kelas.