Skripsi
Analisis perilaku banjir bandang akibat keruntuhan bendungan alam pada daerah hulu Kota Batu / MUHAMMAD ALDIE PRATAMA FIRNANDA
Abstrak
Mayoritas populasi penduduk di hulu sungai Kota Batu tinggal di sekitar Sungai Brantas karena kondisi topografi wilayah ini yang berbukit-bukit dengan sebagian besar lahan memiliki kemiringan curam terdapat sedimen material dan daerah tangkapan air kecil. Karakteristik topografi ini menyebabkan sangat rentan terhadap bencana alam terutama banjir bandang. Banjir bandang di wilayah Hulu Kota Batu sering terjadi ketika intensitas hujan tinggi. Permasalahan utama yang menjadi penyebab utama banjir bandang adalah hujan badai ekstrim di Daerah Aliran Sungai (DAS) hulu sungai. Curah hujan yang tinggi di sekitar daerah hulu sungai pada tanggal 4 november 2021 (vsi.esdm.go.id) menyebabkan longsor yang menghambat alur sungai sehingga dampak banjir semakin parah dan terjadi banjir bandang. Tujuan dalam penelitian yang pertama mengetahui debit banjir yang terjadi pada hulu sungai Kota Batu kedua mengetahui daerah kritis bendung pada daerah hulu sungai ketiga mengevaluasi keruntuhan bendung alam menggunakan software HEC-RAS. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan melakakukan pengamatan secara langsung dilokasi yang terdampak. Dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data curah hujan harian selama 10 tahun dilanjutkan dengan Analisis Hidrologi dengan menggunakan metode Log-Pearson III intensitas curah hujan dengan persamaan Mononobe dan debit rencana dengan Metode Rasional. Keruntuhan bendung menggunakan parameter keruntuhan dan perhitunga piping kemudian dilanjutkan dengan permodelan simulasi pada software HEC-RAS. Hasil dari penelitian ini didapatkan pertama debit banjir rencana periode ulang 10 tahun sebesar 110 065 m sup3 /detik kedua Titik kritis bendung alam tertinggi terjadi pada 4 daerah yaitu Daerah Kecamatan Bumiaji dengan kedalaman banjir 4 645 meter Daerah Kecamatan Bulukerto dengan kedalaman banjir 5 775 meter Daerah Kecamatan Sidomulyo dengan kedalaman banjir 6 456 meter dan Daerah Junrejo dengan kedalaman banjir 7 645 meter ketiga hasil simulasi data dalam program HecRas menunjukkan bahwa saluran tidak mampu menampung kapasitas debit banjir yang terjadi.