Skripsi
Optimasi sistem jaringan drainase Jalan Soekarno Hatta-Jalan Borobudur Kota Malang sebagai alternatif penanganan masalah limpasan permukaan / Putu Sirli Oktaviani
Abstrak
Kemajuan ekonomi di wilayah perkotaan yang berkembang pesat membawa dampak positif juga menimbulkan permasalahan lingkungan. Pembangunan yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan serta intervensi kegiatan ekonomi menyebabkan berkurangnya daearah tangkapan hujan sehingga berdampak pada daerah resapan air. Kota Malang tercatat sering mengalami permasalahan limpasan permukaan bahkan banjir. Jalan Soekarno Hatta-Borobudur merupakan jalan yang menjadi langganan genangan limpasan permukaan di kota ini hingga setinggi 10-20 cm selama hampir 40 menitan. Genangan limpasan permukaan yang terjadi di sekitar jalan dikarenakan ketidakmampuan saluran drainase eksisting dalam menahan debit hujan dan kurangnya daerah tangkapan air. Tujuan dilaksanakannya penelitian optimasi jaringan drainase di kawasan Jalan Soekarno Hatta Jalan Borobudur yaitu untuk mengatasi permasalahan genangan limpasan permukaan yang terjadi dengan memanfaatkan solusi alternatif ecodrainage berupa lubang resapan biopori dan sumur resapan. Lubang resapan biopori dan sumur resapan direncanakan untuk mereduksi kelebihan debit hujan agar limpasan air hujan yang berasal dari bangunan tidak langsung mengalir masuk kedalam saluran drainase. Pada penelitian ini perhitungan analisis hidrologi dan hidraulika dengan periode ulang 10 tahun menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Analisis hidrologi dilakukan guna memperoleh debit banjir rencana yang pada tahapan selanjutnya akan dibandingkan dengan analisis hidraulika. Analisis hidraulika sendiri dilakukan untuk mengetahui kapasitas tampung dari masing-masing saluran. Setelah melakukan evaluasi dengan cara membandingkan hasil analisis hidrologi dan hidraulika dilanjutkan dengan simulasi pemodelan pada saluran yang meluap dengan bantuan software HEC-RAS 4.1.0. Simulasi HRC-RAS memakai skenario aliran tetap (steady flow). Hasil simulasi berfungsi memberikan gambaran untuk perencanaan solusi alternatif yang akan digunakan sebagai penanganan masalah limpasan permukaan. Hasil analisis dengan persamaan mononobe untuk curah hujan rencana kala ulang 10 tahun didapatkan intensitas hujan sebesar 126 986 mm. Debit limpasan permukaan tertinggi terjadi pada saluran G1p-ka sebesar 5 697 m3 /detik. Pada lokasi penelitian terdapat 22 saluran yang sudah tidak mampu menampung debit aliran dari total 41 saluran yang ada. Saluran yang sudah tidak mampu menampung debit aliran diantaranya saluran E2p-ka G1p-ka J1p-ka K1pka K2p-ka K3p-ka K4p-ka K5p-ka L1p-ki M1p-ki M2pki N1p-ki N2pki O2p-ki V1p-ki V2p-ki V3p-ki W1p-ki W2p-ki X1p-ki Z1p-ki Z2pki. Berdasarkan hasil evaluasi dengan membandingkan debit hidrologi dengan hidraulika diperlukan solusi alternatif berupa lubang resapan biopori (LRB) dan sumur resapan. Desain penampang LRB dan sumur resapan yang digunakan berbentuk lingkaran. LRB direncanakan berdiameter 20 cm dengan kedalaman 200 cm dan sumur resapan berdiameter 100 cm dengan kedalaman 400 cm. Diketahui jumlah masing-masing alternatif yang dibutuhkan yaitu LRB sebanyak 57.060 buah dan sumur resapan sebanyak 429 buah dalam meresapkan debit berlebih pada lahan dengan total luas 185 762 Ha.