Disertasi
Manajemen mutu Perguruan Tinggi berbasis budaya lokal Bugis (studi multisitus pada Universitas Puangrimaggalatung, Stih Lamaddukelleng dan Universitas Negeri Makassar di Sulawesi Selatan) / Sumarni
Abstrak
Manajemen mutu sangat menarik untuk terus diteliti ditinjau dari sisi fungsi dan implementasinya. Secara implementatif manajemen mutu dilaksanakan secara internal dan eksternal. Manajemen mutu internal diantaranya dilaksanakan dalam proses pengawasan melekat dan monitoring dari pimpinan sementara itu implementasi manajemen mutu eksternal dilakukan oleh lembaga eksternal organisasi seperti Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Lembaga Akreditasi Mandiri dan ISO. Implementasi manajemen mutu perlu mengakomodir kondisi internal atau yang sering disebut kearifan lokal agar proses tersebut dapat diterima oleh seluruh komponen organisasi. Sulawesi Selatan memiliki kebudayaan lokal yang masih kental dan berpotensi besar sebagai asas utama bagi terselenggaranya pendidikan yang ideal. Manajemen mutu yang berbasis pada budaya lokal Bugis dengan sendirinya merupakan manifestasi dari pendidikan yang demokratis dan berbasis masyarakat. Fokus Penelitian ini mendeskripsikan secara mendalam tentang (1) tahapan manajemen mutu perguruan tinggi berbasis budaya lokal Bugis (2) aspek substantif manajemen mutu perguruan tinggi berbasis budaya lokal Bugis (3) resistensi terhadap manajemen mutu perguruan tinggi berbasis budaya lokal Bugis (4) hasil manajemen mutu perguruan tinggi berbasis budaya lokal Bugis dan (5) pola manajemen mutu berbasis budaya lokal Bugis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi situs dan menggunakan metode analisis induktif termodifikasi. Lokasi penelitiannya terdiri dari tiga perguruan tinggi swasta yang ada di provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Kabupaten Wajo dan Kota Makassar yaitu (1) Universitas Puangrimaggalatung (2) STIH Lamaddukelleng di Kabupaten Wajo dan (3) Universitas Negeri Makassar yang terletak di kota Makassar. Subjek penelitian ini terdiri dari Rektor Wakil Rektor Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ketua Program Studi dan dosen. Pengumpulan datanya terdiri dari wawancara studi dokumentasi dan observasi. Analisis data dilakukan secara interaktif analisis multi situs. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama tahap manajemen mutu perguruan tinggi berdasarkan standar nasional (1) tahap penetapan standar mutu akademik (2) tahap penetapan pelaksanaan standar mutu (3) tahap penetapan standar evaluasi perguruan tinggi berdasarkan standar nasional dan perguruan tinggi dan (4) pengendalian mutu perguruan tinggi. Kedua aspek substantif manajemen mutu perguruan tinggi berbasis budaya lokal Bugis melalui (1) pengembagan kurikulum (2) peningkatan dan pengembangan sumberdaya manusia (3) fasilitas dan proses pembelajaran (4) penyedia pembiayaan (5) meningkatkan layanan administrasi (6) menjalin kemitraan dan (7) membentuk lembaga penunjang akademik. Ketiga resistensi manajemen mutu perguruan tinggi dengan tetap berpegang teguh pada prinsip visi misi nilai-nilai siri sebagai budaya lokal Bugis. Resistensi tersebut meliputi (1) terbentuknya komitmen tim pembukaan program studi (2) meningkatkan jumlah mahasiswa (3) ada perubahan paradigma terhadap mutu pendidikan (4) perubahan sikap mental dengan sistem pelayanan yang memudahkan (5) berkembangnya jaringan kerja semua ini diterapkan dengan menjunjung tinggi nilai pace sebagai alat penggalang persatuan solidaritas kebersamaan dan memberi motivasi untuk berusaha dalam meningkatkan mutu perguruan tinggi. Keempat hasil manajemen mutu perguruan tinggi berbasis budaya lokal Bugis penerapan nilai siri na pacce yaitu (1) terdapatnya dokumen standar mutu yang disusun oleh tim berdasarkan nilai siri na sipakainge (2) strategi peningkatan mutu melalui program manajemen mutu akademik (3) adanya peningkatan mutu seperti peninjauan manajemen kurikulum perekrutan mahasiswa dan perbaikan sarana dan prasarana proses pembelajaran. Kelima pola manajemen perguruan tinggi menerapkan nilai budaya lokal Bugis meliputi (1) manajemen strategi menekankan pada hasil dan kinerja perguruan tinggi selalu mengacu pada mutu yang berkelanjutan (2) adanya mutu berkelanjutan yang didasari oleh kreativitas produktivitas pribadi sebagai sivitas akademik berasaskan pada otonomi perguruan tinggi (3) tersedianya informasi yang akurat bagi masyarakat seperti pengakuan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional dan akreditasi lainya (4) adanya kegiatan evaluasi berdasarkan pada pengambilan keputusan melalui musyawarah dan dengan prinsip siri na pacce. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti menyarankan ke beberapa pihak yaitu pertama bagi pimpinan perguruan tinggi yaitu Rektor Wakil Rektor Kepala LPM Dekan dan Ketua Program studi sebagai bahan evaluasi atas manajemen mutu yang telah diterapkannya kedua bagi dosen bahan refleksi kelemahan dan kelebihannya sehingga dapat menentukan langkah-langkah pengembangan yang lebih efektif dan tepat guna ketiga bagi mahasiswa untuk meningkatkan budaya mutu perguruan tinggi sebagai bentuk membudayakan nilai-nilai lokal daerah masing-masing keempat saran bagi peneliti lain di bidang manajemen pendidikan untuk mengkajinya lebih lanjut tentang mutu perguruan tinggi berbasis nilai-nilai budaya suku yang ada di Indonesia.