Skripsi
Keberterimaan diri orang tua dalam proses pengasuhan anak berkebutuhan khusus di Desa Gadungsari / Alifia Dhianya Setyo Budi
Abstrak
RINGKASAN Budi Alifia Dhianya Setyo. 2023. Keberterimaan Diri Orang Tua dalam Proses Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus di Desa Gadungsari. Skripsi Departemen Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sopingi S.Sos M.Pd. (II) Rezka Arina Rahma S.Pd M.Pd. Kata kunci penerimaan diri orang tua anak berkebutuhan khusus Menerima kondisi anak dengan kebutuhan khusus adalah situasi yang penuh emosi bagi orang tua. Perasaan kebingungan kecemasan dan ketakutan seringkali menjadi beban psikologis yang harus diterima orang tua. Berdasarkan pada hasil wawancara dan observasi orang tua menghadapi beberapa tahapan penerimaan diri sampai benar-benar menerima dan memahami bahwa anak dengan kebutuhan khusus dan berbeda dari anak lainnya. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui proses penerimaan diri orang tua dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus yang ada di Desa Gadungsari (2) mengetahui proses pola asuh sebagai bentuk penerimaan diri orang tua dari anak dengan kebutuhan khusus di Desa Gadungsari. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui data yang dikumpulkan dengan cara wawancara dan observasi. Subjek dalam penelitian ini merupakan seorang ibu yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus di Desa Gadungsari. Dalam penelitian kualitatif peneliti dapat menggali pengalaman dan pandangan dari informan sehingga dapat memberikan pemahaman mengenai proses penerimaan diri orang tua dari anak dengan kebutuhan khusus. Berdasarkan hasil penelitian proses yang dilalui oleh seorang orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus terdiri dari berbagai tahapan emosi dan perkembangan diri termasuk kaget (shock) perasaan sedih (grief) perasaan marah (anger) perasaan bersalah (guilt) dan adaptasi. Selama proses ini orang tua dapat mengalami perubahan dalam cara dia melihat dirinya sendiri seperti menjadi lebih terbuka menjadi lebih percaya diri mempertahankan pendirian dan mengambil bagian dalam aktivitas keagamaan untuk mencari ketenangan. Selain itu orang tua mulai menyadari keterbatasan dirinya bertanggung jawab atas kesehatan mentalnya dan merasa bertanggung jawab atas anaknya.