Disertasi
Keterampilan belajar mandiri responsif budaya (studi fenomenologi program pengabdian guru di kosarek, Papua pegunungan, Indonesia) / Susane Ikawati
Abstrak
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ribuan suku dengan budaya yang berbeda-beda. Secara geografis masih banyak daerah-daerah yang sulit untuk dijangkau sehingga menimbulkan tantangan untuk memastikan pemerataan pendidikan di seluruh penjuru Indonesia. Kebutuhan pemerataan pendidikan di daerah-daerah terpencil mendorong berbagai pihak untuk terlibat di dalamnya bukan hanya pemerintah tetapi berbagai lembaga non pemerintah juga terlibat mendukung program pemerataan pendidikan. Namun guru-guru yang ditugaskan atau memutuskan untuk melayani di daerah-daerah yang terpencil kebanyakan berasal dari daerah yang berbeda sehingga terjadi perbedaan budaya yang signifikan. Guru-guru yeng menghadapi perbedaan budaya tersebut memerlukan keterampilan untuk secara mandiri dapat memahami budaya yang baru dan beradaptasi untuk hidup di dalamnya agar dapat merespon budaya yang ada dan menyesuaikan pengembangan pembelajarannya sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan juga peserta didik. Ketidakmampuan guru dalam memahami budaya yang berbeda di tempat tugas sering berujung pada penolakan masyarakat (baik langsung maupun tidak langsung) terhadap kehadiran mereka dan program pendidikan apapun yang dibawa. Kesulitan proses pemahaman budaya pada akhirnya juga dapat mempengaruhi pengembangan proses kegiatan belajar mengajar menjadi sulit dan bahkan membuat daya tahan guru menjadi kecil sehingga tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk berhenti melayani di daerah terpencil. Melalui berbagai pertimbangan dan analisa kebutuhan di atas maka dipandang penting untuk melakukan penelitian khusus untuk mempelajari bagaimana para guru yang telah ditempatkan di Kosarek Papua Pegunungan Indonesia ini mengembangkan strategi keterampilan belajar mandiri yang responsif budaya di mana tempat tugas dan sebagai hasilnya para guru akan dapat mengembangkan desain pembelajaran yang responsif budaya pula. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi pengembangan keterampilan belajar mandiri para guru yang bertugas di daerah dengan budaya yang berbeda dan untuk menganalisis pengembangan desain pembelajaran yang responsif budaya sebagai hasil dari keterampilan belajar mandiri yang responsif budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi yaitu studi untuk memahami dan karakterisasi pengalaman subjektif individu berkaitan dengan pengalaman hidup guru-guru yang ada di Kosarek Papua Pegunungan Indonesia dan dari fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Studi fenomenologis ini mengasumsikan bahwa setiap orang mampu memikirkan dan mengekspresikan pengalaman subjektif mereka dan pengalaman tersebut layak dipelajari untuk menemukan struktur fundamental atau makna dari suatu fenomena yang dialami oleh individu. Tujuan akhir dari penelitian adalah untuk menghasilkan deskripsi yang kaya dan lengkap dari fenomena yang sedang diselidiki untuk menangkap esensi dari sebuah pengalaman. Hasil dari penelitian kemudian digunakan untuk membimbing pengembangan teori dan aplikasi praktis di bidang-bidang tertentu secara spesifik seperti dalam bidang pendidikan Pada penelitian ini dilakukan eksplorasi terhadap kehidupan beberapa guru yang melayani di Kosarek salah satu daerah terpencil di Indonesia. Peneliti mempelajari pengalaman guru-guru di PKBM dan Sekolah Wana Walinge di Kosarek Papua Indonesia yang menunjukkan pencapaian luar biasa dengan keberhasilannya masuk dalam budaya yang baru melalui proses belajar mandiri yang responsif budaya dan mengembangkan desain pembelajaran yang juga responsif terhadap konteks budaya di Kosarek. Selanjutnya peneliti juga menjelaskan pengalaman hidup para informan di desa Taileleu Mentawai dan Kilise Papua sebagai strategi triangulasi data terkait dengan konsep dan fenomena pembelajaran mandiri yang responsif budaya. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan belajar mandiri yang responsif budaya yang dikembangkan oleh para guru yang ditugaskan di Kosarek Papua Pegunungan Indonesia dengan budaya yang berbeda diterapkan dengan menggunakan beberapa strategi sebagai berikut (1) masuk ke lingkungan belajar dengan kerendahan hati (2) mengidentifikasi kebutuhan belajar (3) menggunakan bahasa lokal (menjadi prioritas belajar) (4) mengambil inisiatif untuk belajar menemukan orang yang tepat untuk menjembatani perbedaan budaya sebagai sumber belajar (5) menggunakan banyak kesempatan informal untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk belajar (6) mengidentifikasi kesempatan-kesempatan belajar yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja selama proses interaksi (7) mencari feedback dengan banyak bertanya dan menkonfirmasi setiap hasil belajar (8) memiliki waktu break dari situasi cross culture (9) melakukan evaluasi dan refleksi belajar (10) memiliki mentor dalam menjalani proses. Keterampilan belajar mandiri yang responsif budaya yang dimiliki oleh para guru yang ditempatkan di budaya yang berbeda ini berkembang melalui proses persiapan dan pembekalan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan belajar mandiri yang responsif budaya. Waktu untuk tinggal dan beradaptasi dengan budaya yang baru perlu dipertimbangkan karena ini merupakan masa orientasi untuk masuk ke budaya yang berbeda yang menjadi lingkungan belajar yang baru. Para guru juga perlu diperlengkapi dengan keterampilan untuk memulai hubungan baru karena itu merupakan kesempatan untuk mengenali kebutuhan dan menciptakan komunitas-komunitas sumber belajar. Guru yang akan ditugaskan di daerah dengan budaya yang baru juga perlu untuk membangun kesiapan belajar secara konstan mendapatkan konfirmasi dan feedback dan dilatih untuk mengambil sikap rendah hati untuk belajar dan membudaya Sebagai hasil dari keterampilan belajar mandiri yang responsif budaya ini para guru yang ditugaskan di Kosarek Papua Pegunungan Indonesia dengan budaya yang berbeda dari budaya asal mereka berhasil mengembangkan proses belajar mengajar yang responsif budaya. Dalam proses pengembangan strategi pembelajaran yang responsif budaya kompetensi dan budaya asli guru memegang peranan yang mempengaruhi keputusan yang diambil saat mengembangkan strategi pembelajaran dari kurikulum yang ada. Strategi pembelajaran yang dikembangkan akan menjadi responsif budaya ketika guru memperlengkapi kompetensi dan latar belakang budaya yang dimiliki secara mandiri dengan pemahaman budaya dan karakteristik murid. Strategi pengembangan ini merupakan sebuah proses yang berkesinambungan dengan melibatkan feedback dari berbagai pihak seperti komunitas pengembang kurikulum komunitas masyarakat lokal dan juga tentu saja feedback dari murid yang terlibat langsung dalam proses pengembangan strategi pembelajaran tersebut. Hasil penelitian ini yang berupa strategi pengembangan keterampilan belajar mandiri responsif budaya dapat menjadi pertimbangan untuk dikembangkan oleh program pelatihan guru ataupun program pemerlengkapan guru yang akan dikirim ke tempat pelayanan yang memiliki budaya yang berbeda. Strategi pengembangan desain pembelajaran yang responsif budaya juga dapat menjadi pertimbangan untuk dikembangkan oleh program pelatihan guru sehingga setiap guru memiliki keterampilan untuk mengembangkan pembelajaran yang responsif budaya dimanapun dia ditempatkan sebagai hasil dari keterampilan belajar mandiri responsif budaya yang telah dikuasai.