Skripsi
Analisis pengembangan koleksi khusus di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno / Lutfia Azizah Aini Zahra
Abstrak
Permasalahan pada penelitian ini adalah rendahnya keterpakaian koleksi pada layanan khusus UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan rendahnya keterpakain koleksi khusus melalui sudut pandang pengembangan koleksi dengan menggunakan teori dari G. Edward Evans yang terdiri dari enam indikator yakni (a) Information Needs Assesment (b) Collection Development Policies (c) Selection (d) Acquisition (e) Deselection dan (f) Evaluation. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan studi literatur yang diperoleh dari informan yang terlibat dalam kegiatan pengembangan koleksi di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Hasil dari penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama pada tahap Information Needs Assesment ditemukan bahwa layanan khusus melakukan penjaringan kebutuhan pemustaka secara informal melalui metode yang disebut usulan. Selanjutnya dalam melakukan usulan tersebut dasar kebutuhannya didasarkan dari pengetahuan pustakawan karena pemustaka layanan khusus tidak mampu untuk merumuskan kebutuhan mereka di layanan khusus. Kedua Collection Development Policies atau kebijakan pengembangan koleksi yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno sudah cukup lengkap dan sesuai dengan elemen dan cakupan kebijakan pengembangan koleksi sehingga bisa dikatakan bahwa kebijakan pengembangan koleksi yang ada sudah sangat baik. Namun dalam pengimplementasiannya terdapat kendala yakni dalam pengimplementasian kebijakan pengembangan koleksi terdapat hambatan pada aspek survey kebutuhan pengguna karena dalam di layanan khusus belum terlaksana secara maksimal. Ketiga seleksi koleksi layanan khusus dilakukan oleh pustakawan yang kompeten dan memahami bidang seleksi koleksi. Namun pustakawan bagian seleksi terkadang terkendala dalam menentukan harga koleksi untuk menyesuaikan dengan dana yang ada karena harga koleksi terkadang harganya tidak bisa dipastikan. Terkadang harga terlampau mahal dan terlalu murah. Keempat akuisisi koleksi khusus dilakukan dengan sederhana namun tetap dijalankan sesuai kebijakan dan peraturan yang ada. Akuisisi dilakukan melalui pembelian hunting hibah dan terbitan sendiri. Kendala yang ada karena akuisisi dilakukan oleh pustakawan langsung tanpa bantuan vendor adalah koleksi/topik yang dicari sudah tidak diterbitkan dan banyak yang sudah menghilang dari pasaran sehingga membutuhkan waktu untuk pencarian. Kelima seleksi atau penyiangan tidak dilakukan dalam layanan khusus karena tidak ada peraturan untuk penyiangan dan layanan khusus berusaha untuk menimbun dan mengoleksi koleksi Bung Karno dan Pahlawan Bangsa sebanyak mungkin. Apabila ada koleksi yang mengalami kerusakan akan dilakukan preservasi dan konservasi atau digitalisasi agar dapat dimanfaatkan kembali. Keenam evaluasi dilakukan dengan dua metode yaitu metode yang berpusat pada koleksi dan metode yang berpusat pada penggunaan. Dalam evaluasi yang berpusat pada koleksi ditemukan data antara lain bahwa terdapat koleksi yang jauh dari kriteria atau tema koleksi dan topik koleksi terkadang kurang menarik bagi pengunjung. Sedangkan dalam evaluasi yang berpusat pada penggunaan ditemukan data berupa tingkat penggunaan koleksi oleh pengunjung yang terkadang cukup rendah jika diukur dalam persentase. Proses pengembangan koleksi pada Layanan Khusus UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno telah terlaksana dengan cukup baik. Keenam aspek pada pengembangan koleksi juga sudah tercantum dalam kebijakan pengembangan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Disamping sudah terpenuhinya keenam aspek tersebut dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang belum berjalan secara optimal yang salah satunya adalah analisis kebutuhan informasi. Namun secara keseluruhan pengembangan koleksi sudah berjalan sesuai dengen kebijakan dan peraturan yang ada.