Skripsi
Pengaruh model storytelling berbantuan komik terhadap kemampuan menceritakan kembali cerita fiksi siswa Kelas IV SDN Mojodanu I / Alvi Nur Jannah
Abstrak
Kemampuan menceritakan kembali merupakan penyampaian suatu maksud atau informasi dari cerita yang telah dibaca atau didengar dengan menggunakan bahasa siswa itu sendiri sesuai dengan pemahaman yang dimiliki. Dalam mengatasi rendahnya kemampuan menceritakan kembali siswa salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah Storytelling. Model Storytelling dapat membantu guru dalam meningkatkan beberapa kemampuan yang diperlukan siswa seperti meningkatkan kemampuan bahasa verbal siswa kemampuan membaca pemahaman membaca yang menyeluruh dan juga kemampuan menulis Model pembelajaran ini dapat diintegrasikan bersama penggunaan komik guna sebagai media visualisasi dalam suatu pembelajaran yang berfungsi untuk memperkaya pengalaman membaca mendorong keterampilan berbicara dan imajinasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Storytelling berbantuan komik terhadap kemampuan menceritakan kembali cerita fiksi pada siswa kelas IV di SDN Mojodanu 1. Hal ini dinilai berdasarkan kegiatan observasi tes lisan dan dokumentasi yang dilakukan saat penelitian. Pada penelitian ini dilakukan eksperimen yang nantinya akan dianalisis hasil pengumpulan datanya menggunakan analisis deskriptif statistik inferensial dan uji N-Gain. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen yang berbentuk desain pre-eksperimen design dengan desain one group pretest-posttest. Adapun hal yang dinilai dalam penelitian ini adalah respon siswa terhadap penerapan model storyteling penilaian proses bercerita dan penilaian hasil menceritakan kembali siswa. Hasil dari pelaksanaan tersebut kemudian diolah dalam data statistik menggunakan bantuan Microsoft Excel dan JASP. Hasil yang didapatkan dari observasi respon siswa terhadap penerapan model Storytelling berbantuan komik adalah pada treatment 1 menghasilkan nilai persentase 85 7% treatment 2 dengan nilai 88 67% dan pada pelaksanaan posttest mendapatkan persentase sebesar 91 42% yang artinya penerapan model dan media tersebut dalam pembelajaran mendapatkan respon siswa pada kategori baik sekali. Sedangkan untuk hasil penilaian proses bercerita siswa menghasilkan rata-rata nilai pretest adalah 64 333 treatment 1 menghasilkan 83 333 treatment 2 menghasilkan 91 667 dan posttest 95 333. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil penilaian proses bercerita siswa dengan penerapan model Storytelling berbantuan komik. Hasil analisis deskriptif tes lisan siswa yang menghasilkan rata-rata nilai pretest dan posttest dimana rata-rata nilai pretest menghasilkan 53 257 dan posttest 86 629. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil menceritakan kembali siswa antara pretest dan posttest. Selanjutnya dilakukan uji statistik inferensial terhadap data tes lisan kemampuan menceritakan kembali siswa melalui uji Wilcoxon Signed Rank Test berbantuan aplikasi JASP memperolah hasil nilai sig. lt .001 yang berarti nilai signifikan yang dihasilkan lebih kecil dari 0 001 berdasarkan hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini didukung dengan hasil uji N-Gain yang menghasilkan nilai N-Gain sebesar 0 727119678. Hasil N-Gain tersebut kemudian dapat diklasifikasikan pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh maka didapatkan kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang signifikan dari penerapan model Storytelling berbantuan komik terhadap kemampuan menceritakan kembali siswa kelas IV SDN Mojodanu 1. Adapun saran yang diajukan oleh penulis diantaranya hendaknya siswa dapat lebih aktif dan penuh semangat dalam mengikut pembelajaran penggunaan model Storytelling hendaknya dapat digunakan secara rutin dalam kelas sehingga kemampuan menceritakan kembali atau berbicara siswa dapat terus berkembang dan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dengan durasi lebih lama agar hasil penelitian untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali siswa lebih optimal.