Tesis
Analisis kompleksitas asesmen dan laporan pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus di SLB Autis Laboratorium UM dan SDN Sumbersari 3 Malang / Lailatul Rahma
Abstrak
Latar belakang penelitian ini terfokus pada pelaksanaaan asesmen dan pelaporan pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus. Berikut beberapa alasan mengapa analisis asesmen dan pelaporan pendidikan penting untuk peserta didik berkebutuhan khusus yaitu (1) Rencana pendidikan individual laporan pembelajaran membantu mengembangkan rencana pendidikan individual yang menguraikan tujuan dan sasaran pendidikan khusus untuk anak serta strategi dan akomodasi yang akan digunakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan tersebut. (2) Memantau kemajuan laporan pembelajaran membantu memantau kemajuan peserta didikmenuju tujuan dan sasaran pendidikan peserta didik. Hal ini memungkinkan guru dan orang tua untuk membuat penyesuaian pada rencana pendidikan peserta didiksesuai kebutuhan untuk memastikan bahwa peserta didik membuat kemajuan. (3) Komunikasi laporan pembelajaran memfasilitasi komunikasi antara orang tua guru dan profesional lain yang terlibat dalam pendidikan anak. Ini membantu memastikan bahwa setiap orang berada di halaman yang sama dan bekerja menuju tujuan yang sama. (4) Akuntabilitas laporan pembelajaran meminta pertanggungjawaban pendidik dan sekolah untuk menyediakan pendidikan dan dukungan yang tepat bagi anak-peserta didik berkebutuhan khusus. Ini membantu memastikan bahwa anak-peserta didik menerima pendidikan yang menjadi hak peserta didik berdasarkan hukum. dan (5) Kesadaran diri laporan pembelajaran dapat membantu anak-peserta didik berkebutuhan khusus menjadi lebih sadar diri akan kekuatan dan kelemahan peserta didik yang dapat membantu peserta didik mengembangkan kepercayaan diri dan citra diri yang positif. Penelitian ini dilakukan di dua jenis lembaga pendidikan berbeda yaitu (1) sekolah khusus SLB Autis Laboratorium UM dan (2) Sekolah inklusi SDN Sumbersari 3 Malang. Kedua sekolah menerima dan melaksanakan praktik asesmen dan pelaporan pada peserta didik berkebutuhan khusus dengan latar belakang yang berbeda. SLB Autis Laboratorium UM adalah lembaga pendidikan khusus yang berawal dari fasilitas terapi untuk anak autis sedangkan SDN Sumbersari 3 Malang adalah sekolah regular yang melaksanakan peraturan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Pasal 3 Ayat 2 menyatakan bahwa setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik emosional mental dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Terlepas dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa proses asesmen peserta didik berkebutuhan khusus memerlukan proses yang lebih kompleks dari peserta didik non berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aspek instrument dan prosedur dalam asesmen dan laporan pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus serta hambatan dan starategi yang dilakukan oleh kedua lembaga. Hasil peneltian menunjukkan bahwa kedua sekolah melakukan asesmen dan pelaporan pada peserta didik berkebutuhan khusus. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif multisitus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dokumentasi dan observasi. Analisis data menggunakan NVivo-14 sebagai alat bantu analisis data untuk menunjukkan secara obyektif mengenai perbedaan pelaksanaan asesmen dan pelaporan yang dilakukan di kedua lembaga tersebut. Hasil analisis lintas situs menunjukkan bahwa aspek yang dugunakan dalam asesmen pendidikan pada peserta didik berkebutuhan khusus dikedua situs memiliki persamaan yaitu pada bidang akademik dan non-akademik. Pada situs I diketahui bahwa asepek yang digunakan yaitu komunikasi interaksi dan perilaku. Sedangkan pada situs II menggunakan aspek turunan dari kurikulum yang digunakan yaitu kognitif afektif dan psikomotorik. Pada aspek yang digunakan oleh kedua sekolah terdapat kesamaan aspek pada asesmen yang dilakukan yaitu komunikasi dan psikomotorik yang menilai kemampuan sosial peserta didik berkebutuhan khusus. Aspek laporan pendidikan yang digunakan oleh kedua situs menekankan pada aspek informatif yang dimulai dari identitas peserta didik hingga hasil asesmen. Diketahui bahwa perbedaan bagian asepek laporan pendidikan pada kedua situs menunjukkan perbedaan bahwa disitus I memuat laporan khusus mengenai kondisi kesehatan peserta didik seperti laporan Kesehatan gigi mulut tinggi badan berat badan kondisi pendengaran dan penglihatan peserta didik sedangkan di situs II tidak memuat laporan kesehatan. Pelaksanaan asesmen diagnostic yang dilakukan oleh kedua lembaga adalah pada saat pendaftaran peserta didik baru dengan syarat membawa hasil keterangan diagnosa dokter. Selain itu pelibatan guru lain dalam asesmen peserta didik berkebutuhan khusus juga dilakukan untuk mendapatkan hasil kemajuan belajar peserta didik. Sedangkan perbedaan pelaksanaan asesmen dan pelaporan peserta didik ditunjukkan dalam pelaksanaan asesmen sumatif. Pembuatan soal pada uji asesmen sumatif di SLB Autis Laboratorium UM dibuat oleh guru atau wali kelas sedangkan di SDN Sumbersari 3 Malang dibuat oleh organisasi guru dalam Kegiatan Musyawarah Kelompok Kerja Guru Pendamping Khusus. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keberadaan sekolah regular yang mengadopsi konsep inklusi pada pelaksanaannya tidak dapat mengakomodir atau menerima peserta didik berkebutuhan khusus dengan kondisi tertentu karena guru pendamping khusus tidak tersedia. Hal ini disebabkankarena adanya aturanbaru yang menyebutkan bahwa beban pendampingan pada peserta didik berkebutuhan khusus diberikan pada wali kelas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang pelaksanaan asesmen dan pelaporan peserta didik berkebutuhan khusus. Kesimpulan penelitian ini mecakup aspek instrumen prosedur hambatan dan strategi yang dilakukan pada kegiatan asesmen dan pelaporan pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus. Sebagai saran peneliti merekomendasikan beberapa hal yaitu (1) Kepala Sekolah SLB Autis Laboratorium UM adalah Membuat desain laporan pendidikan berbasis digital untuk memenuhi kebutuhan laporan peserta didik berkebutuhan khusus yang dapat diakses oleh wali peserta didik setiap hari dan melakukan kerjasama dengan stakeholder atau pihak swasta dan Yayasan dalam pendanaan pembuatan aplikasi laporan peserta didik berbasis digital. (2) Kepala Sekolah SDN Sumbersari 3 Malang adalah Melakukan perekrutan mandiri tenaga pengajar atau guru pendamping bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sesuai agar memudahkan kegiatan PPDB dan asesmen. (3) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang perlu melakukan evaluasi terkait konsep pendidikan inklusi pada sekolah regular dengan menetapkan program yang menunjang kompetensi dan pengetahuan guru dengan lata belakang non pendidikan khusus agar melakukan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan dan pelaksanaan pendidikan inklusi lebih maksimal. (4) Peneliti selanjutnya adalah Melakukan penelitian lanjutan yang berfokus pada pelaksanaan setiap aspek asesmen yang digunakan dan melakukan penelitian lanjutan mengenai peran orang tua dan stakeholder lainnya dalam proses asesmen dan pelaporan peserta didik berkebutuhan khusus.