Skripsi
Implementasi model pembelajaran di sekolah inklusif Indonesia dan Malaysia (studi multisitus di Sekolah Lazuardi Kamila Gis dan Sekolah Menengah Kebangsaan Jalan Reko) / M Khairurrizky
Abstrak
Setiap anak berhak memperoleh pendidikan tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus karena mempunyai kelainan perkembangan. Oleh karena itu diperlukan layanan pendidikan khusus yang dekat dengan kebutuhan anak agar potensi anak dapat dikembangkan secara maksimal. Salah satu model layanan pendidikan khusus adalah pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif mempunyai beberapa komponen salah satunya adalah komponen manajemen pengembangan kurikulum. Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif siswa membutuhkan jenis kurikulum yang dapat mengikuti perkembangan siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) pengembangan rencana pembelajaran di sekolah inklusif (2) pelaksanaan pembelajaran di sekolah inklusif (3) evaluasi pembelajaran di sekolah inklusif pada jenjang sekolah menengah di sekolah inklusif Indonesia dan Malaysia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan jenis penelitian multisitus. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara observasi dan dokumentasi. Analisis data meliputi pengumpulan data reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian dalam pelaksanaan pendidikan inklusif memperoleh hasil (1) Dari kedua tempat penelitian dalam proses pengembangan rencana pembelajaran di sekolah inklusif melibatkan guru kelas guru pendamping khusus serta kepala sekolah. (2) Dalam proses pelaksanaan pembelajaran di sekolah inklusif pada kedua situs melibatkan anak berkebutuhan khusus ikut serta belajar dalam kelas reguler. Namun untuk sekolah inklusif di Indonesia hanya menggunakan model pembelajaran inklusif reguler full out. Sedangkan di Malaysia menggunakan model pembelajaran inklusif full out dan cluster (mengikuti subjek pelajaran tertentu). Selain itu di Indonesia hanya terdapat guru pendamping khusus sedangkan di Malaysia terdapat guru pembantu murid dan guru pendamping khusus. (3) Proses evaluasi pembelajaran pada kedua sekolah inklusif dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari berupa pemberian tugas-tugas serta terdapat projek berbasis kelompok. Selain evaluasi yang bersifat formatif terdapat juga proses evaluasi yang bersifat sumatif yang laksanakan pada pertengahan semester serta di akhir semester oleh kedua situs dalam penelitian ini.