Skripsi
Pemberian ready to-use therapeutic food terhadap perbaikan fungsi ginjal tikus model malnutrisi / Dini Wijayanti
Abstrak
Malnutrisi merupakan masalah utama kesehatan yang terjadi hampir di seluruh Negara berkembang termasuk Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 kasus gizi kurang atau underweight meningkat dari 16 3% pada tahun 2019 menjadi 17 1% pada tahun 2022. Sebanyak 45% kematian balita di seluruh dunia disebabkan oleh Kurang Energi Protein (KEP). KEP adalah kondisi malnutrisi yang tergolong kronis akibat dari kurangnya asupan energi dan protein. Salah satu manifestasi kurangnya asupan energi protein adalah terganggunya metabolisme tubuh dan menurunnya kinerja organ salah satunya ginjal. Penurunan fungsi ginjal merupakan kondisi dimana glomerulus ginjal tidak mampu menyaring dan mengeluarkan zat sisa seperti kreatinin dan Blood Ureum Nitrogen (BUN) dalam bentuk urin sehingga kadarnya akan tinggi di dalam darah. Solusi yang dapat dilakukan dalam penanganan malnutrisi adalah dengan pemberian Ready to-Use Therapeutic Food (RUTF). Makanan terapeutik dirancang untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein bagi anak-anak yang metabolismenya tidak stabil dan memiliki permasalahan infeksi akibat malnutrisi. Pemberian RUTF memiliki dampak positif bagi anak dengan permasalahan gizi kurang yaitu dapat meningkatkan sintesis protein serta peningkatan serum albumin. Pengembangan RUTF perlu dilakukan agar bisa diterapkan oleh semua kalangan khususnya di Indonesia dengan penggunaan bahan dasar lokal yang bisa dengan mudah dijumpai seperti pisang singkong dan jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemberian RUTF terhadap perbaikan fungsi ginjal pada tikus model malnutrisi. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan strain Wistar umur 5 minggu yang dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan (Normal/N Kontrol Positif/K Kontrol Negatif/K- RUTF Pisang/RUTF P RUTF Singkong/RUTF S RUTF Jagung/RUTF J) dimana terdapat 4 kali ulangan setiap kelompok perlakuannya. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan One Way Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan pemberian RUTF dengan bahan dasar lokal (pisang singkong jagung) belum dapat memicu penurunan kadar kreatinin tetapi dapat memicu penurunan kadar BUN di dalam darah pada tikus model malnutrisi. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai Asymp. Sig gt 0 05 (0 382) yang artinya tidak terdapat perbedaan pemberian macam variasi RUTF yang signifikan terhadap kadar kreatinin. Hasil One Way ANOVA menunjukkan signifikansi lt 0 05 (0 000) yang artinya pemberian perlakuan RUTF berbeda signifikan terhadap kadar BUN sehingga dilakukan uji lanjut Duncans Multiple Range Test (DMRT). Hasil DMRT menunjukkan kelompok K memiliki kadar BUN paling tinggi yang tidak berbeda signifikan dengan kelompok N namun berbeda signifikan dengan kelompok K- RUTF P RUTF S dan RUTF J. Kelompok RUTF P memiliki kadar BUN paling rendah yang tidak berbeda signifikan dengan kelompook K- dan RUTF S namun berbeda signifikan dengan kelompok N K dan RUTF J. Data berat badan dianalisis secara deskriptif. Penurunan kadar BUN terjadi karena pemberian RUTF mampu menurunkan kadar BUN yang tinggi selama kondisi malnutrisi. RUTF memiliki kepadatan energi yang cukup tinggi dengan kandungan nutrisi lengkap seperti garam mineral vitamin asam amino dan asam lemak esensial. Hal ini dapat membantu peningkatkan pelepasan asam amino ke darah yang selanjutkan akan direabsorbsi oleh tubulus proksimal. Peningkatan reabsorbsi asam amino akan merangsang tubulus proksimal untuk mereabsorbsi natrium yang menyebabkan perpindahan natrium ke makula densa akan menurun sehingga terjadi penurunan tahanan arteriol aferen. Penurunan tahanan arteriol aferen akan menyebabkan terjadinya umpan balik tubuloglomerulus berupa peningkatan aliran darah ginjal dan GFR. Peningkatan GFR akan memicu kenaikan ekskresi sisa metabolsime protein seperti ureum sehingga kadar ureum atau BUN yang pada awalnya tinggi akan menurun karena adanya peningkatan GFR dan dikeluarkan dalam bentuk urin. Namun belum adanya penurunan kadar kreatinin kemungkinan terjadi karena dalam waktu empat minggu pemberian pakan RUTF belum dapat mengembalikan fungsi ginjal dalam melakukan filtrasi kadar kreatinin. Ginjal akan mengeluarkan kreatinin dalam bentuk urin tetapi karena terjadi penurunan fungsi ginjal dalam pengeluaran zat sisa metabolisme otot yaitu kreatinin maka kadarnya akan meningkat di dalam darah.