Tesis
Desakralisasi alam sebagai epifani yang suci dalam buku puisi / Yohan Fikri Mu\'tashim
Abstrak
Terputusnya pemahaman manusia modern secara radikal terhadap yang mitologis mdash yang semula menjadi basis filosofis paradigma manusia dalam menjalin relasi harmonis dengan alam mdash ditengarai menjadi salah satu faktor fundamental timbulnya krisis ekologi dewasa ini. Keterputusan secara radikal ini terjadi sebab manusia modern hidup di dalam wawasan dunia yang dibentuk oleh ilmu-ilmu alam yang didasarkan pada logika materialistik khas positivisme cartesian. Paradigma modern yang antroposen demikian ini memandang lsquo yang selain manusia rsquo sebagai semata-mata objek-materialistik sebab ketidakmampuan mereka dalam berpikir. Akibatnya alam pun dipandang dari kacamata yang reduksionis dan mekanistis yang darinya krisis ekologi pun mengemuka. Berbanding terbalik dengan paradigma masyarakat kosmosentris dan/atau ekosentris dengan etos spiritualisme yang berbasis kepada alam. Bagi mereka alam lebih dari sekadar objek-material semata-mata melainkan juga akar identitas sekaligus spiritualitas. Alam dengan demikian dipandang sebagai entitas yang sakral. Alam adalah epifani dari Yang Suci. Sejak krisis ekologi menjadi bagian dari problematika global yang menuntut untuk disikapi secara serius oleh masyarakat di berbagai sektor karya sastra pun turut andil di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi teoretis dan metodologis ekokritik sastra dan semiotika puisi Michael Riffatere. Melalui pembacaan ekokritik dengan ancangan semiotika puisi Michael Riffatere untuk meladak simbol-simbol verbal eko-spiritualitas penelitian ini berupaya merevolusi dualitas kontradiktif antara ekosentrisme dan antroposentrisme yang sudah dipandang usang melalui pembacaan dekat terhadap buku puisi Korpus Ovarium karya Royyan Julian sebagai sumber datanya. Adapun data penelitian ini berupa kata frasa dan/atau kalimat. Korpus Ovarium sendiri merupakan manuskrip puisi yang ditulis Royyan Julian dann diterbitkan oleh Penerbit Julang hasil dari residensinya di Mollo Timor Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahun 2021 Korpus Ovarium didaulat sebagai pemenang Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Secara substansi Korpus Ovarium berisi refleksi filosofis Royyan Julian atas krisis ekologi sebagai dampak pembangunan yang tak ekologis di Mollo yang tidak saja menyangkut ketahanan sosial-ekonomi tetapi juga stabilitas spiritual-kultural. Melalui karyanya Royyan Julian merestorasi kesadaran publik dalam rangka merajut kembali jalinan relasi antara manusia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos) yang telah koyak. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik baca dan catat. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan melibatkan tiga proses yang terdiri atas (1) kondensasi data (2) tampilan/penyajian data dan (3) penarikan kesimpulan. Ketiga langkah tersebut dilakukan secara berulang-ulang. Hasil penelitian terhadap simbol-simbol eko-spiritualitas masyarakat Mollo dalam Korpus Ovarium menunjukkan bahwa eko-spiritualitas masyarakat yang menjadi basis filosofis dalam menjalin relasi yang harmonis antara manusia dan alam termanifestasikan dan teraktualisasikan dalam berbagai artefak kebudayaan. Hal tersebut meliputi (1) ungkapan filosofis mereka tentang alam (2) figur-figur mistik seperti roh dan dewa-dewi yang diyakini bersemayam di berbagai entitas alam (3) ritus-ritus religi yang menyertai aktivitas produksi dan konsumsi hingga (4) bangunan-bangunan fisik yang menjadi lokus sakral sekaligus identitas komunal mereka. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Mollo alam beserta berbagai anasir yang terhubung dengannya merupakan entitas yang sakral. Inilah yang tak mampu dipahami masyarakat modern yang menjalankan aktivitas pembangunan di Mollo. Perhatian mereka terhadap alam sekadar menyangkut perkara teknis sedangkan minat mereka terhadapnya cenderung mengarah pada aktivitas dominasi dan manipulasi. Di dalam Korpus Ovarium dominasi terhadap alam disimbolkan melalui dua alegori yaitu (1) seks dan (2) bahasa. Melalui dual hal tersebut penyair memproyeksikan basis filosofis dan logika pembanguan modern bahwa alam dianggap sebagai keliaran yang harus ditundukkan melalui pembangunan mengabaikan bahwa bagi kebanyakan masyarakat adat betapa alam bukan saja berfungsi sebagai pilar ekonomi tetapi juga akar eksistensial sekaligus pokok spiritual. Akhirnya hasil analisis mengenai dampak krisis ekologi terhadap spiritualitas masyarakat Mollo dalam Korpus Ovarium menunjukkan bahwa logika pembangunan yang tak ekologis tersebut menggiring masyarakat Mollo menuju krisis ekologi serta berbagai implikasinya yang meliputi (1) ancaman krisis pangan (2) ancaman krisis eksistensial dan (3) tercederainya dimensi spiritual. Segala temuan-temuan tersebut setidaknya menunjukkan bahwa spiritualitas manusia memiliki hubungan resiprokal dengan krisis ekologi. Krisis ekologi terjadi di antaranya sebab tercerabutnya dimensi spiritual alam. Alam telah kehilangan pesona. Begitu pun sebaliknya spiritualitas masyarakat yang berbasis pada alam mengalami guncangan ketika krisis ekologi menjadi keniscayaan yang disebabkan oleh paradigma pembangunan yang tak ekologis. Dengan kata lain dampak dari krisis ekologi tidak hanya menyangkut wilayah yang imanen tetapi juga melibatkan perkara transenden. Oleh sebab itu paradigma pembangunan yang tak ekologis demikian itu menjadi penting untuk dievaluasi kembali. Dengan mengevaluasi paradigma pembangunan yang didasarkan pada logika antroposentrisme demikian maka dapat dirumuskan sebuah model kebijakan pembangunan yang lebih mengindahkan prinsip-prinsip pemenuhan aspirasi spiritual dan budaya manusia.