Skripsi
Analisis distribusi hiposenter-episenter gempa vulkanik gunung agung menggunakan metode coupled velocity-hypocenter serta karakteristik magma berdasarkan aktivitas vulkanik periode oktober 2017-november 2018 / Farah Jihan Nadirah
Abstrak
Gunung Agung mengalami erupsi kembali pada tahun 2017 setelah erupsi terakhirnya yang terjadi pada tahun 1963. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperingatkan dan memitigasi masyarakat mengenai bahaya erupsi yakni dengan melakukan pemantauan aktivitas gunung api yang disebabkan oleh gempa vulkanik. Pemantauan tingkat aktivitas gunung api dapat dilakukan dengan menentukan distribusi hiposenter gempa. Umumnya apabila hiposenter semakin mendekati permukaan bumi akan menimbulkan getaran yang jauh lebih besar akibat dalam penjalaran gelombang seismik tidak mengalami peredaman oleh lapisan bumi. Dalam penelitian ini distibusi hiposenter gempa ditentukan menggunakan metode Coupled Velocity-Hypocenter dengan plotting 2D dan 3D. Metode ini menghasilkan output berupa koordinat hiposenter model kecepatan lokal 1-D gelombang P serta koreksi stasiun sehingga dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai struktur lapisan-lapisan bumi yang dilalui gelombang seismik. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan distribusi hiposenter berpusat pada arah barat laut dari puncak gunung Agung dengan rentang kedalaman 1-10 km. Distribusi hiposenter yang berpusat pada arah tersebut dikarenakan adanya intrusi magma yang membentuk dyke sehingga memunculkan banyak titik gempa vulkanik akibat pergerakan magma. Tipe letusan gunung Agung yang eksplosif dapat dipengaruhi oleh karakteristik magma. Magma yang kaya akan gas terlarut serta memiliki viskositas yang tinggi dapat memengaruhi besar letusan. Selain melalui distribusi hiposenter pemantauan aktivitas gunung api juga dapat dilakukan dengan pengukuran emisi gas SO2. Saat terjadi erupsi gas SO2 merupakan jenis gas yang paling banyak dihasilkan akibat dari penguapan bahan pembentuk magma yang mudah menguap. Gas SO2 yang bereaksi dengan uap air di udara juga dapat memengaruhi tinggi kolom abu yang dihasilkan. Karakteristik magma juga dapat diidentifikasi menggunakan sampel abu vulkanik dengan menentukan porositas sampel.