Skripsi
Optimasi aktivitas antimalaria ekstrak jamur endofit jahe merah (zingiber officinale var. rubrum) aspergillus flavus jmr5 yang ditumbuhkan pada berbagai media biji-bijian / Teresa Godeliva Giantana
Abstrak
Jamur endofit Aspergillus flavus JMR5 dari jahe merah memiliki potensi menghasilkan senyawa bioaktif antimalaria. WHO (World Health Organization) mencatat 249 juta kasus malaria secara global pada tahun 2022 dengan Indonesia sebagai salah satu penyumbang terbesar kedua di Asia. Resistensi terhadap obat antimalaria menuntut pencarian senyawa baru dari bahan alam. Dengan menerapkan pendekatan OSMAC (One Strain - Many Compounds) jamur endofit yang sama dapat dikultivasi pada berbagai media untuk tujuan stres lingkungan sehingga mempengaruhi perubahan produksi dan keragaman metabolit sekunder dari jamur endofit. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh media pertumbuhan biji-bijian (beras putih beras merah beras hitam jagung dan kacang hijau) terhadap produksi metabolit sekunder dan aktivitas antimalaria A. flavus JMR5. Metode penelitian meliputi peremajaan isolat identifikasi mikroskopis dan makroskopis kultivasi ekstraksi menggunakan etil asetat skrining fitokimia skrining antimalaria in-vitro terhadap Plasmodium falciparum dan identifikasi senyawa menggunakan Liquid Chromatography - Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Hasil menunjukkan bahwa A. flavus JMR5 menghasilkan yield tertinggi pada media beras putih (1 85%) dan terendah pada kacang hijau (0 45%). Kesimpulannya media pertumbuhan biji-bijian mempengaruhi produksi metabolit sekunder A. flavus JMR5. Media beras putih berperan dalam menghasilkan yield yang lebih tinggi.