Disertasi
Model perilaku prososial siswa reguler di sekolah inklusif / Isrida Yul Arifiana
Abstrak
Perilaku prososial didefinisikan sebagai perilaku memberikan bantuan kepada pihak lain perilaku prososial juga merupakan dasar dari kompetensi sosial dan pengembangan nilai moral yang terbentuk saat anak-anak hingga remaja. Penelitian ini menghadirkan sesuatu yang baru yaitu konteks penelitian yang berfokus pada perilaku prososial siswa reguler di sekolah inklusif serta memperkenalkan identitas moral sebagai alternatif mediator untuk konstruk lain seperti regulasi emosi kelekatan orangtua (ayah dan ibu) dan iklim sekolah. Sehingga sudut pandang dalam menelaah perilaku prososial siswa regular di sekolah inklusif dipandang jauh lebih komprehensif. Fokus penelitian ini mengkaji bagaimana pengaruh langsung dari berbagai variabel prediktor terhadap perilaku prososial serta melihat bagaimana peranan identitas moral sebagai mediator. Teori kognitif sosial adalah salah satu teori yang dapat menjelaskan bagaimana perilaku prososial terjadi. Perilaku prososial pada siswa reguler di sekolah inklusif seperti kesediaan untuk membantu dengan teman adalah efek dari dampak trilateral ndash keterkaitan dengan individu lingkungan dan perilaku. Konstruksi yang diuji meliputi regulasi emosi identitas moral kelekatan orangtua (ayah dan ibu) dan iklim sekolah dipandang sebagai pelengkap yang ditemukan dalam teori kognitif sosial. Penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif jenis korelasional multivariat yang dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Populasi pada penelitian adalah siswa reguler jenjang pendidikan SMP inklusif di wilayah kota Surabaya sejumlah 21.822 siswa adapaun sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling diperoleh 872 sampel penelitian. Jumlah ukuran sampel dalam penelitian ini memperhatikan ukuran sampel minimum yang diperlukan untuk mengurangi bias pada semua jenis estimasi SEM. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 skala yang didapatkan dengan proses adaptasi sesuai panduan International Test Commission dan modifikasi skala yang sudah dikonstruksi oleh peneliti sebelumnya dengan tetap mengacu pada kerangka teoritis yang disesuaikan dengan konteks penelitian. Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data pada penelitian ini dilakukan dengan pemodelan persamaan struktural yaitu Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan aplikasi AMOS 22. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa uji kesesuaian model struktural menunjukkan semua kriteria absolute fit indices dan incremental fit indices telah memenuhi syarat (good fit) dengan demikian model struktural dapat diterima. Hasil pengujian hipotesis mayor pertama tentang adanya pengaruh regulasi emosi kelekatan orang tua dan iklim sekolah terhadap identitas moral pada siswa reguler di sekolah inklusif dapat diterima karena hasil pengujian menunjukkan semuanya berpengaruh signifikan terhadap identitas moral. Selanjutnya hipotesis mayor kedua tentang adanya pengaruh regulasi emosi kelekatan orang tua iklim sekolah dan identitas moral terhadap perilaku prososial pada siswa reguler di sekolah inklusif ditolak karena hasil pengujian menunjukkan hanya iklim sekolah dan identitas moral saja yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku prososial. Sementara itu hipotesis minor yang berkaitan dengan peran mediasi semuanya diterima. Hal ini menunjukkan pentingnya peran identitas moral sebagai mediator yang kuat untuk meningkatkan perilaku prososial siswa reguler di sekolah inklusif sehingga regulasi emosi kelekatan orang tua (ayah dan ibu) serta iklim sekolah dapat mempengaruhi perilaku prososial apabila didukung atau berfokus pada penguatan identitas moral. Adanya penelitian ini memberikan gambaran terkait variabel prediktor dari faktor internal dan eksternal yang dapat berpengaruh terhadap perilaku prososial siswa reguler di sekolah inklusif. Sumbangan baru dari penelitian ini menunjukkan adanya peran kuat dari identitas moral dalam memediasi beberapa variabel prediktor dari faktor internal yaitu regulasi emosi dan variabel prediktor dari faktor eksternal yaitu kelekatan orangtua (ayah dan ibu) serta iklim sekolah terhadap perilaku prososial siswa reguler di sekolah inklusi. Temuan ini juga memberikan implikasi mengenai skala prioritas dalam upaya meningkatkan perilaku prososial pada siswa reguler di sekolah inklusif mulai dari prioritas paling tinggi sampai prioritas paling rendah.