Tesis
Mengonstruksi model pengembangan unit usaha berbasis ekonomi sirkular BUMDes (studi kasus di Desa Sanankerto Kabupaten Malang) / Wiji Indah Lestari
Abstrak
Desa Sanankerto terletak di Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Desa Sanankerto termasuk dalam desa yang mendirikan BUMDes. BUMDes yang diberi nama Kerto Raharjo mengembangkan beberapa unit usaha di antaranya ekowisata toko grosir dan maggot. Meski dalam praktik sebenarnya pengembangan unit usaha maggot atau unit usaha berbasis ekonomi sirkular tidaklah mudah sebab dinamika dan realita yang ada cukup memberi tantangan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur observasi partisipasi pasif dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif Miles amp Huberman. Setelah itu cara pemilihan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposeful sampling. Dan untuk teknik pengecekan keabsahan temuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode dan triangulasi sumber data. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Model pengembangan unit usaha yang digunakan adalah perluasan cakupan usaha yang tidak terlepas dari diversifikasi produk. (2) Faktor pendukung dalam pengembangan unit usaha di antaranya BUMDes Kerto Raharjo termasuk organisasi yang menghargai nilai-nilai keberlanjutan teknologi biokonversi dengan bantuan maggot menjadi dasar unit usaha dalam mengelola sampah organik keterlibatan Perguruan Tinggi Polbangtan Malang untuk membekali tenaga kerja dan keterlibatan Balitbangda Kabupaten Malang untuk mengkaji maggot serta memberi saran dan rekomendasi perihal pengembangan unit usaha. Sementara itu (3) faktor penghambat dalam pengembangan unit usaha di antaranya kurangnya bahan baku sampah organik keterbatasan dukungan keuangan kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah tanpa dilakukan pemilahan kurangnya kerja sama dengan industri atau pelaku ekonomi penghasil sampah terkait dan tidak adanya inovasi peraturan atau mekanisme yang mapan dan terkoordinasi. Bertolak dari hasil penelitian maka dapat diberikan saran sebagai berikut. (1) Perlunya memperkuat rantai pasokan bahan baku sampah organik dengan berkolaborasi bersama masyarakat TPS3R yang beroperasi lebih banyak industri atau pelaku ekonomi penghasil sampah terkait dan kelompok petani. (2) Perlunya memperkuat dukungan keuangan baik melalui program-program PKBL maupun CSR. (3) Perlunya upaya pendidikan dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat. (4) Perlunya peraturan atau mekanisme yang mapan dan terkoordinasi sehubungan unit usaha. Juga (5) Perlunya infrastruktur pemilahan sampah yang efektif.