Skripsi
Efektivitas layanan konseling kelompok behavioral teknik self-management untuk mengurangi perilaku nomophobia siswa madrasah aliyah / Afika Nur Kharisma
Abstrak
Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) merupakan suatu gejala munculnya perasaan cemas atau rasa tidak nyaman yang muncul jika tidak dapat berjangkauan dengan smartphone. Nomophobia dapat diartikan sebagai kecanduan smartphone yang disebabkan oleh kurangnya kontrol diri siswa. Individu yang menunjukkan perilaku nomophobia cenderung merasa cemas saat kehilangan ponsel ponselnya kehabisan baterai atau tidak bisa terhubung melalui ponsel mereka. Perilaku nomophobia ini harus segera diatasi dan diminimalisir agar tidak memberikan kerugian berkelanjutan dalam perkembangan individu dengan cara mengalihkan perhatian dan membatasi dalam penggunaan smartphone. Jika perilaku ini terus-menerus dilakukan maka akan muncul dampak negatif bagi diri individu. Konseling kelompok behavioral dipilih karena efektif memberikan dukungan sosial dan kesempatan belajar dari sesama. Menggunakan pendekatan behavior dalam konseling adalah cara yang efektif untuk mengubah perilaku dengan menurunkan atau menghilangkan perilaku negatif serta memperkuat perilaku positif. Teknik self-management membantu siswa mengontrol diri dan mengubah perilaku secara bertahap. Pilihan ini cocok karena perilaku nomophobia dapat diubah melalui perubahan perilaku dan siswa madrasah aliyah berada pada tahap perkembangan yang dipengaruhi lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan konseling kelompok behavioral teknik self-management untuk mengurangi perilaku nomophobia siswa Madrasah Aliyah.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan jenis penelitian Quasi Experimental dan menggunakan desain Non-Equivalent Control Group Design. Subjek penelitian siswa kelas XI di MAN 1 Malang yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Subjek dipilih siswa sejumlah 6 siswa sebagai kelompok eksperimen dan 6 siswa sebagai kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menerima perlakuan konseling kelompok self-management sedangkan kelompok kontrol tidak menerima perlakuan. Skala nomophobia yang digunakan sebagai pretest dan posttest sudah di uji validitas dan reliabilitas. Pengumpulan data penelitian yaitu dengan pemberian pretest tretament dan posttest dengan menggunakan skala perilaku nomophobia. Konseling kelompok behavioral teknik self-management untuk mengurangi perilaku nomophobia diberikan sebanyak 8 kali pertemuan dan berlangsung sekitar 30-45 menit setiap sesi nya. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu dengan paired sample t-test dan independent sample test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan skor perilaku nomophobia pada kelompok eksperimen sesudah diberikan treatment. Hasil perhitungan dari uji paired sample t-test yaitu untuk membandingkan rata-rata data yang berpasangan diperoleh nilai Sig. (2-tailed) pada kelompok eksperimen lt 0 05 yaitu .000 lt 0 05 sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai Sig. (2-tailed) .741 gt 0 05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan signifikan ada kelompok eksperimen dan tidak terdapat perubahan signifikan pada kelompok kontrol. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Selanjutnya untuk hasil pembandingan posttest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan uji independent sample test diperoleh hasil Sig. (2-tailed) sebesar .000 lt 0 05 hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan signifikan pada hasil posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Maka didapatkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok behavioral teknik self-management efektif untuk mengurangi perilaku nomophobia siswa Madrasah Aliyah. Saran untuk guru BK atau konselor dapat menerapkan layanan konseling kelompok teknik self-management untuk mengurangi perilaku nomophobia siswa. Bagi peneliti selanjutnya penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi dalam penerapannya dan dapat dilakukan dengan sampel yang lebih besar maupun menggunakan desain penelitian yang berbeda seperti true eksperimen atau dengan pemberian treatment tertentu untuk kelompok kontrol untuk penelitian lebih lanjut mengenai nomophobia dikalangan siswa.