Skripsi
School refusal pada siswa broken home di SMA / Ika Aprilia Purwati
Abstrak
School refusal merupakan perilaku penolakan sekolah yang ditandai dengan keengganan menghadiri sekolah atau merasa kesulitan untuk berada di sekolah sepanjang hari. Anak yang mengalami school refusal mungkin merasa tidak nyaman karena takut terhadap segala hal yang berkaitan dengan sekolah dan akibatnya ia mungkin kehilangan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada berbagai tahap perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena school refusal pada siswa broken home di SMAN 1 Pule. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berjenis fenomenologs empiris. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui beberapa langkah 1) pengorganisasian data 2) penyajian data dan 3) penarikan kesimpulan. Pengecekan kebsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa permasalahan school refusal di SMAN 1 Pule banyak dilakukan oleh anak dengan keluarga broken home biasanya di sebabkan oleh beberapa hal seperti pola asuh pada orang tua yang salah peran orang tua. Pola asuh sangat penting dalam pembentukan karakteristik seorang anak. Siswa yang berasal dari keluarga broken home memiliki pengawasan dari orang tua yang berbeda serta lebih sulit untuk diajak berkomunikasi dan cenderung menutup diri. Bentuk ndash bentuk school refusal yang dialami siswa SMAN 1 Pule antara lain membolos pada saat jam pelajaran untuk meninggalkan kelas membolos diluar sekolah ataupun membolos di rumah yang dilakukan sendiri bersama teman satu sekolah maupun teman dari luar sekolah. Dampak keluarga broken home terhadap perilaku school refusal ialah merasa kesepian kurang perhatian serta kasih sayang dari orang tua dan juga sering merasa iri kepada teman ndash teman mereka sehingga mereka melampiaskan rasa sedih dan kecewa mereka kedalam hal ndash hal yang negatif. School refusal sangat berdampak pada anak terutama di bidang akademik juga dalam bidang sosialisasi karena semakin sering anak menghindari lingkungan sekolah nya maka dari segi akademik ia akan tertinggal dan dari segi sosialisasi dia akan sulit berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya ia menjadi seorang pribadi yang introvert dan tidak percaya diri ketika mencoba bersosialisasi dengan orang lain anak tersebut juga akan merasakan serba salah dalam bersikap. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam menangani school rerfusal pada siswa dan juga peran seorang guru khususnya guru bimbingan konseling dalam memberikan layanan yang tepat berkaitan dengan perilaku school refusal siswa.