Disertasi
Penyikapan negatif masyarakat tradisional atas deforestasi dalam wacana ekolinguistik / Bambang Prastio
Abstrak
Isu terkait deforestasi telah menjadi perdebatan di seluruh dunia oleh berbagai ahli sesuai dengan bidangnya. Hal tersebut tentunya dalam upaya mendukung gerakan kehidupan berkelanjutan. Sayangnya belum ada penelitian yang menggabungkan teori manifestasi ekolinguistik dan teori apraisal sebagai pendekatan dalam mendiskusikan deforestasi hutan. Itu diintegrasikan oleh peneliti sehingga disebut oleh peneliti dengan sebutan Penilaian Kritis terhadap Lingkungan (Ecocritical Appraisal Analysis (ECA)). Berdasarkan hal tersebut penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan dengan mengeksplori penyikapan negatif masyarakat Indonesia (1) afeksi (2) hujatan sosial (social esteem) dan (3) sanksi sosial (social sanction) yang direalisasikan melalui strategi langsung dan tidak langsung yang diketahui dari wacana ekolinguistik yang mereka produksi biologi ideologi sosial dan budaya. Penelitian ini masuk kategori penelitian kualitatif dengan orientasi kajian di bawah naungan Linguistik Sistemik Fungsional. Data dalam penelitian dapat berupa kata frasa klausa dan kalimat yang bersumber dari video dokumenter yang tayang di kanal youtube Watchdog Image. Dalam menganalisis data lima langkah analisis tematik yang dicetuskan oleh Creswell (2012) diterapkan oleh peneliti. Wacana ekolinguistik dengan jenis biologi paling dominan digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam menilai kegiatan alih fungsi hutan yang terjadi baik secara langsung (inscribing) maupun tidak langsung (invoking). Disusul dengan sosial ideologi dan budaya. Hal tersebut berarti bahwa unsur biologi yang mengacu pada flora dan fauna yang terdapat di Indonesia sudah sangat memprihatinkan dan perlu diperhatikan kedepannya. Manifestasi ekolinguistik dengan jenis wacana sosial menjadi data terbanyak kedua terjadi karena secara tidak langsung masyarakat menyampaikan bahwa kehidupan yang damai diri sendiri dan masyarakat sekitar telah menjadi hal yang mereka inginkan. Artinya masyarakat yang hutannya mengalami perubahan fungsi telah hidup di tengah ketidaknyaman. Hal tersebut terjadi karena telah muncul banyak konflik yang disebabkan oleh peristiwa rusaknya flora dan fauna di sekitar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hilangnya unsur biologi (flora dan fauna) yang digunakan sebagai sumber ekonomi dan praktik kepercayaan tertentu akan menyebakan kehidupan yang tidak memanifestasikan nilai-nilai kedamaian yang berujung pada kehidupan yang penuh konflik. Itu terjadi karena masyarakat tidak memiliki ideologi yang kuat dalam mendukung kehidupan berkelanjutan yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya berbagai jenis budaya. Komentar negatif dari masyarakat indonesia yang terkena dampak dari alih fungsi hutan berkaitan dengan empat aspek yang mereka terapkan untuk menjaga keharmonisan lingkungan hidup ideologi (sebagai pedoman hidup) biologi (sebagai acuan pemenuhan kebutuhan dasar) sosiologi (sebagai rujukan untuk mengatur interaksi antara manusia manusia dengan dewa serta manusia dan hutan) dan budaya (sebagai rujukan untuk memandu cara-cara tradisional dalam memperlakukan hutan melalui hukum adat ritual dan sastra lisan). Berdasarkan temuan yang ada dapat disimpulkan bahwa manifestasi yang disampaikan memberikan wawasan dalam menjaga hutan dan menciptakan keharmonisan hidup berdampingan antara alam dan makhluk hidup dan hal ini tidak terlepas dari nilai-nilai agama yang mereka anut. Jenis strategi yang digunakan ketika mengevaluasi fenomena alih fungsi hutan yang paling banyak digunakan oleh masyarkat Indonesia yakni strategi langsung dari pada tidak langsung dalam kategori apapun. Lebih lanjut jenis penyikapan berupa hujatan sosial menjadi yang paling sering digunakan daripada afeksi dan sanksi sosial. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia lebih cenderung menyampaikan komentar terkait ketidaknormalan atau ketidakwajaran dari peristiwa alih fungsi hutan kompetensi hal yang dinilai (hujatan sosial) daripada menyampaikan afeksi yang sedang dialami. Temuan lainnya masyarakat yang terkena dampak alih fungsi hutan juga tidak terlalu berfokus pada mengevaluasi nilai moral yang dimiliki oleh pihak kapitalis. Singkatnya masyarakat lebih mengevaluasi keadaan yang terjadi daripada menyampaikan afeksi yang mereka alami dan menyalahkan pihak kapitalis. iv Kategori hujatan sosial yang paling dominan disampaikan oleh masyarakat yakni jenis ketidaknormalan yang terjadi di lingkungan mereka setelah terjadinya alih fungsi hutan yang disusul dengan ketidakpersistenan dan ketidakkapasitasan. Sementara itu jenis afeksi yang paling dominan yakni penyampaian ketidakbahagiaan yang disebabkan oleh fenomena yang terjadi yang disusul dengan indikator ketidakamanan dan ketidakpuasan. Manifestasi tersebut dapat diketahui dari tingkah laku laku maupun perkataan. Hal tersebut berarti kondisi masyarakat Indonesia yang terkena dampak dari alih fungsi hutan merasa tidak hidup dalam keadaan damai. Terakhir masyarakat menilai moralitas dari berbagai pihak (pelaku) yang terlibat dalam peristiwa yang dievaluasi. Hal tersebut dapat diketahui dari indikator wacana penilaian berupa menilai aspek moralitas negatif yang tercermin dari tindakan yang tidak sesuai dengan yang dinilai (ketidaksesuaian) dan disusul kategori nilai ketidakbenaran yang tercermin dari sesuatu yang dinilai atau disebut kecurangan. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tuturan yang disampaikan oleh berbagai komunits masyarakat yang terkena dampak deforestasi sebenarnya mendukung gerakan Manjemen Kehutanan Berkelanjutan (Sustainability Forest Management). Oleh karena itu wacana ekolinguistik biologi ideologi sosial budaya dapat dijadikan pedoman awal ataupun sebagai bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan (stakeholder) dalam menyusun dan mengembangankan bahan ajar berbagai materi pembelajaran yang dapat disisipkan sebagai pembelajaran yang mendukung Sustainable Development Goals melalui program literasi lingkungan. Hasil penelitian ini yang bersumber dari indikator evaluasi terkait afeksi dan etika negatif dalam menanggapi alih fungsi hutan dapat dijadikan pendalaman terkait pembelajaran nilai moral kepada para pelajar tentuya pengembangan buku teks dapat mengembangkan materi ajar yang berorietasi pada penanaman nilai moral dengan memanfaatkan beragam teori yang relevan seperti Positive Discourse Analysis. Penelitian ini setidaknya memiliki empat keterbatasan. Pertama studi ini secara eksklusif memanfaatkan data yang bersumber dari dokumenter yang diproduksi oleh lembaga atau komunitas independen. Ada kekhawatiran bahwa pemilihan narasumber yang diwawancarai tidak pada posisi yang netral (keberpihakan pada kepentingan tertentu) akibat dari kebencian yang mendalam akibat dari penderitaan yang mereka alami. Tentunya potensi keberpihakan pada kelompok tertentu dapat menimbulkan risiko bias. Berdasarkan hal tersebut peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya dapat memanfaatkan pendekatan yang sama tetapi melalui teknik pengumpulan data tertentu seperti teknik rapport probing question maupun walk and talk. Kedua penelitian ini juga memiliki keterbatasan pada aspek lingual yang tidak memperhatikan unsur jeda dan intonasi dari pemeroduksi bahasa. Dalam konteks ini masyarakat yang telah memiliki emosi negatif dan kelelahan secara fisik yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat dapat saja mempengaruhi mereka dalam memproduksi bahasa. Berdasarkan hal tersebut keterbatasan ini membuka peluang untuk pengkajian berikutnya. Ketiga keterbatasan penelitian yang disebabkan oleh pemilihan dan ketergantungan pada data yang diperoleh melalui metode observasi data yang dilakukan secara manual yang dianggap paling mewakili oleh peneliti. Namun perlu diingat juga meskipun terdapat keterbatasan dalam penyajian data yang dilakukan secara konvensional para peneliti telah menetapkan kriteria tertentu dalam upaya memperoleh data yang valid. Untuk mengurangi keterbatasan terkait hal itu penelitian di masa depan dapat berkonsentrasi pada evaluasi manifestasi wacana ekolinguistik yang dikombinasikan dengan teori penilaian yang menggunakan perangkat korpus linguistik seperti Antconc dan N-Vivo untuk pengumpulan data. Langkah tersebut tentunya bertujuan untuk mengungkapkan analisis ECA secara lebih komprehensif. Keempat peneliti masa depan mungkin mempertimbangkan untuk mengkaji berbagai jenis kasus terkait fenomena alih fungsi hutan yang didokumentasikan melalui unsur visual dengan menggunakan pendekatan yang didasarkan pada teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Pendekatan tersebut dapat melibatkan konsentrasi analisis data yang berkaitan dengan aspek multimodal seperti emotikon mimik wajah gambar terkait kondisi alam meme stiker dan elemen visual lainnya. Data terkait itu telah diamati oleh peneliti dan tersedia untuk dianalisis. Oleh karena itu penelitian di masa depan dapat memanfaatkan teori yang khusus mengkaji elemen visual sebagai simbol komunikasi seperti teori Visual Grammar Theory yang dipelopori oleh Kress dan Van Leeuwen (2006) dalam mengkaji wacana ekolinguistik